Meruntuhkan Ketimpangan, Batik Fractal Menguatkan Peran Perempuan di Industri Batik

Share

digitalMamaID – Algoritma fraktal matematika ternyata tak hanya mendekatkan sains dan bisnis tetapi juga menguatkan peran perempuan di industri batik tanah air. Meski kriya tekstil dekat dengan perempuan, ketimpangan terjadi di skala industri. Dengan memanfaatkan teknologi, Batik Fractal menjadi bukti perempuan bisa menguasai urusan batik dari A sampai Z.

Secara historis dan kultural, kriya tekstil seperti batik dan tenun (atau wastra) selalu lekat dengan dunia perempuan. Pengelolaan motif hingga proses pembuatan kain tradisional pada umumnya dilakukan oleh kaum perempuan dalam skala domestik atau rumah tangga. Namun, ada pergeseran peran yang timpang di skala industri atau bisnis.

“Di tingkat komunitas perajin, ada pembagian peran secara gender. Selama urusannya masih bersifat domestik, kriya ini dikelola oleh perempuan. Namun, ketika sudah berkembang menjadi bisnis komersial, kepemimpinannya kerap beralih menjadi urusan laki-laki. Kondisi ketimpangan inilah yang ingin kami atasi,” ujar -founder dan CEO Batik Fractal, Nancy Margried Panjaitan.

founder dan CEO Batik Fractal, Nancy Margried Panjaitan
Co-founder dan CEO Batik Fractal Nancy Margried Panjaitan (Eva Fahas/digitalMamaID)*

Melalui program pendampingan dan pelatihan jangka panjang, Batik Fractal memberdayakan perajin batik di Sukabumi, terutama kaum perempuannya. Mereka tidak hanya dibekali dengan peningkatan keterampilan membatik, tetapi juga diberi pelatihan teknologi serta literasi digital agar mereka mampu mengelola usaha secara mandiri dari hulu ke hilir.

Jenama yang berdiri sejak 19 tahun lalu itu kini memiliki 30 perajin batik UMKM dampingan. Sebagian besar peserta pelatihan merupakan perempuan, termasuk para ibu yang telah berusia lanjut, bahkan ada yang mencapai usia 70 tahun dan belum pernah menyentuh teknologi komputer sama sekali.

Hambatan psikologis

Menurut Nancy, tantangan terbesar mendampingi kelompok usia rentan ini terletak pada aspek psikologis. “Yaitu rasa takut terhadap teknologi yang dianggap rumit. Ternyata ketakutan itu bersumber dari ketidakbiasaan bersentuhan dengan teknologi,” katanya.

Untuk mengatasinya, ia menerapkan strategi pelatihan khusus. Antara lain pendampingan one-on-one di mana peserta didampingi secara intensif satu per satu untuk pengenalan teknologi dan software jBatik.

Kedua, melakukan pelatihan tandem bersama anaknya. Sehingga proses pendampingan dan pembelajaran dapat berlanjut secara mandiri di rumah. “Hasilnya sangat memuaskan. Para ibu dan perempuan perajin yang kami latih ternyata mampu mengikuti arahan dengan baik dan tidak lagi takut pada teknologi. Begitu didampingi dan terbiasa, mereka mampu mengaplikasikan software untuk membuat motif batik,” kata Nancy.

Produk karya perajin itu kemudian dikumpulkan di toko khusus yang didirikan oleh Batik Fractal. Ke depannya, program pendampingan ini akan terus berlanjut mengingat sudah ada donatur yang menanggung pembiayaannya.

Dan Nancy menegaskan, seluruh hak cipta atas motif yang dibuat perajin menjadi hak milik mereka. Harapannya, dari pendampingan ini bisa melahirkan perajin batik yang mumpuni yang mampu menjalankan bisnisnya secara mandiri, sanggup memproduksi dan memasarkan karya mereka sendiri, hingga kelak menjadi mitra bisnis strategis bagi Batik Fractal.

Software jBatik yang dibuat oleh Batak Fractal bisa digunakan oleh perajin batik untuk membuat berbagai motif. (Eva Fahas/digitalMamaID)*
Software jBatik yang dibuat oleh Batak Fractal bisa digunakan oleh perajin batik untuk membuat berbagai motif. (Eva Fahas/digitalMamaID)*

Bagi Nancy, ini adalah upaya untuk mendorong literasi digital dan kemandirian ekonomi bagi perajin perempuan di industri perkainan. Juga sebagai bukti bahwa teknologi digital tidak hanya dijadikan alat eksplorasi desain, melainkan jadi instrumen untuk mendorong peran perempuan lebih banyak lagi.

Ia juga berkomitmen terhadap prinsip kesetaraan di perusahaannya. “Kami menerapkan gender balance, sehingga tidak ada divisi khusus perempuan. Posisi desainer maupun programmer dinilai murni berdasarkan kompetensi, bukan sekadar untuk memenuhi kuota gender,” tegasnya.

Eksklusivitas produk

Bertepatan dengan Hari Batik Nasional, 2 Oktober 2026, toko offline Batik Fractal dibuka dan berlokasi di Lima @Dago Commercial, Bandung. Sehingga kini ada lima toko offline, tersebar di Sukabumi, Jakarta, Bandung, dan kolaborasi dengan pihak lain di Kepulauan Riau, dan Sumbawa.

“Di Bandung sendiri sebelumnya sudah ada tiga toko offline, tapi tutup saat pandemi. Kami baru buka lagi sekarang setelah pandemi dan senang sekali bisa mendapatkan lokasi ini karena memang sentral juga ya di Bandung,” kata Nancy.

Di toko ini tersedia produk buatan Batik Fractal dan DiTenun. Untuk Batik Fractal ada produk fashion, merchandise, juga home decor. Lalu ada kain batik yang merupakan kerja sama dengan beberapa perajin batik, dan juga kain tenun untuk fokus kain tradisional.

toko offline Batik Fractal di Bandung
Toko offline Batik Fractal di kawasan Dago, Bandung (Eva Fahas/digitalMamaID)*

Sebagian besar koleksinya adalah produk fashion ready to wear. Dijelaskan Nancy, beberapa nilai lebih produknya antara lain eksklusivitas. “Sudah pasti motifnya enggak akan ketemu di mana pun karena dibikin sendiri, termasuk pewarnaan kainnya juga kami develop sendiri. Tapi untuk kainnya kami masih menggunakan kain yang biasa digunakan perajin batik. Kami lebih banyak bereksplorasi di desain dibandingkan di material,” katanya.

Terinspirasi dari alam semesta

Batik Fractal lahir dari tiga pendirinya yang menekuni ilmu matematika di ITB. Nancy menuturkan, fraktal adalah salah satu cabang ilmu matematika yang fokus pada self similarities (kemiripan) dan iterasi (pengulangan). Hal ini bisa dilihat dari banyak fenomena alam yang sering memperlihatkan pengulangan, misalnya yang terlihat pada daun.

Konsep pengulangan ini sebetulnya sudah hadir sejak lama di ranah wastra nusantara. Semua kain tradisional, seperti batik dan tenun, motifnya dibuat berulang hingga memenuhi bidang kainnya. Prinsip itu lalu diterapkan dalam algoritma fraktal yang diterjemahkan ke dalam sebuah software bernama jBatik.

“Software ini akan membuat motif-motif batik yang sudah didesain dengan fraktal dari basis sel-sel semantik. Motifnya sebelumnya sudah dirancang oleh desainer. Kesimpulannya, Batik Fractal adalah batik yang motif-motifnya dibuat dengan algoritma fraktal,” tuturnya.

Baginya, hasil karya manusia akan selalu bersumber dan terinspirasi dari alam semesta. Keputusannya bermain dengan algoritma fraktal untuk membuat motif batik menyadarkan bahwa manusia memang bagian dari alam semesta. Apa yang manusia lihat di alam semesta, begitu pula cara manusia berpikir, percis sebagaimana cara alam bekerja.

Di luar motif pakem batik tradisional, kemampuan software jBatik untuk bertukar pikiran tidak mungkin kehabisan ide. Perangkat lunak ini bisa menciptakan motif batik yang tidak terbatas. Penggunaan software di bisnis fashion sangat sesuai dengan perkembangan zaman serba teknologi sekarang.

Perjalanan pemberdayaan

Pasang surut dilalui Nancy selama mengembangkan Batik Fractal sejak 2007. Perubahan yang paling terasa adalah semakin meluasnya target pasar mereka. Mulanya, jenama ini menargetkan kalangan kelas atas karena dirasa belum menguasai rantai pasok industri batik. Artinya, batik-batik yang didesain dengan software ini bisa hanya dibuat dengan batik tulis. Tapi saat ini, mereka sudah bisa meluaskan pasar karena sudah bisa memenuhi kebutuhan untuk memproduksi batik cap atau sablon printing.

Pencapaian lainnya, mereka mendirikan diTenun. Konsepnya serupa, membuat motif dengan algoritma fraktal, tapi diaplikasikan pada kain tenun. Keduanya kini menjadi dua entitas bisnis yang berbeda.

“Saat ini, kedua software kami, jBatik dan diTenun sudah menyebar ke seluruh nusantara, boleh digunakan bebas oleh perajin batik dan tenun tanah air. memang sesuai dengan cita-cita kami, untuk empowering traditional artisans with technology,”  katanya.

Kompetitor dan tantangan

Pada sebuah industri, kompetisi menjadi sebuah kewajaran. Di luar Indonesia, misalnya di Malaysia, dia menemukan ada software serupa yang digunakan untuk membuat batik. Tapi dia percaya diri dengan Batik Fractal karena jadi yang pertama memulai. Selain itu, baru software buatannya yang bisa dipakai perajin dalam jumlah besar sehingga membantu mengembangkan bisnis. Biasanya, software seperti ini baru dilakukan oleh universitas. Perlu waktu panjang untuk sampai digunakan di tingkat perajin. Kebanyakan penggunaannya sebatas tahap uji coba saja.

Software jBatik yang dibuat oleh Batak Fractal bisa digunakan oleh perajin batik untuk membuat berbagai motif. (Eva Fahas/digitalMamaID)*

Bicara hak cipta, Nancy mengatakan sudah memiliki 14 hak kekayaan intelektual. “Ada sekitar enam paten dan sisanya ada copyright, ada trademark. Kami lindungi karena itu adalah hasil karya. Orang yang mau pakai bisa based on permit dan berbayar,” katanya.

Ia menargetkan peluncuran software versi terbaru yang lebih ringan pada 2027 nanti. Saat ini, mereka juga sedang mengurus paten untuk versi terbaru tersebut.

Meski telah berusia 19 tahun, tantangan membesarkan Batik Fractal tidak hilang. Salah satunya, kelesuan iklim ekonomi saat ini berpengaruh nyata. Namun, ia tidak merasa sendirian karena badai ini juga menerjang seluruh pebisnis di dunia.

“Tantangan kedua, biasanya klien kami yang merupakan perajin batik atau tenun di seluruh nusantara memang bekerja sama dengan pemerintah. Karena pemerintah itu punya pendanaan untuk pengembangan dan pembiayaan pendampingan para perajin. Namun dengan situasi ekonomi saat ini, banyak kegiatan-kegiatan yang dikurangi dengan alasan efisiensi,” katanya.

Di tengah situasi yang kurang menguntungkan ini, Nancy tak hilang harapan. Ia menyimpan asa untuk mengirim Batik Fractal ke mancanegara. Upaya itu sudah dimulai, meski nilai ekspornya belum besar. Dengan permintaan yang kian membesar, ia optimistis ekspor Batik Fractal bukanlah sekadar angan-angan. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE