CapCipCup Fest #02 “Terang Bulan”: Merayakan Tradisi Tionghoa Lewat Seni Interaktif di Pecinan Bandung

CapCipCup Fest #02
Share
digitalMamaID – Bagaimana tradisi lama bisa dibaca kembali oleh generasi hari ini? Pertanyaan tersebut menjadi salah satu napas CapCipCup Fest #02 Terang Bulan, festival seni dan budaya yang mengangkat semangat Festival Kue Bulan (Mid-Autumn Festival) melalui pengalaman seni interaktif di kawasan Pecinan Cibadak, Bandung.
Digagas oleh Tjap Sahabat Gallery & Cultural Hub, festival ini berlangsung pada 24 September hingga 15 November 2026 di Tjap Sahabat, Jalan Cibadak No. 168A, Bandung. Pengunjung dapat datang setiap hari pukul 15.00–21.00 WIB, kecuali Kamis, dengan tiket masuk Rp20 ribu.
CapCipCup Fest #02 tidak hanya menghadirkan kembali tradisi Festival Kue Bulan. Festival ini juga mempertemukan warisan budaya seni kontemporer, teknologi, dan pengalaman lintas generasi dalam satu ruang.
CapCipCup Fest #02

Membaca kembali makna bulan

Festival Kue Bulan merupakan salah satu perayaan penting dalam tradisi Tionghoa yang dirayakan saat bulan purnama di pertengahan musim gugur. Momen ini secara tradisional menjadi waktu untuk bersyukur atas hasil panen sekaligus berkumpul bersama keluarga.
Bulan purnama juga membawa simbol tentang keutuhan, kerinduan, dan pertemuan kembali dengan orang-orang terkasih. Dalam perjalanan sejarahnya, bulan mengalami perubahan makna. Berdasarkan keterangan penyelenggara CapCipCup Fest, pada masa Dinasti Zhou, pemujaan terhadap bulan merupakan ritual yang bersifat protokoler dan berada dalam lingkungan istana. Memasuki masa Dinasti Tang, para penyair mulai menghadirkan bulan sebagai objek kerinduan yang lebih dekat dengan kehidupan manusia.
Semangat perubahan makna tersebut kemudian menjadi inspirasi utama “Terang Bulan”. Festival ini menggunakan legenda Chang’e dan Hou Yi sebagai salah satu metafora. Dalam kisah tersebut, Chang’e terpisah dari suaminya, Hou Yi, setelah meminum ramuan keabadian dan kemudian tinggal di bulan. Kerinduan Hou Yi kepada Chang’e kemudian digambarkan melalui tradisi menyalakan lampion dan memandang bulan purnama.
Dari legenda tersebut, bulan tidak hanya dipandang sebagai benda langit, tetapi juga menjadi simbol kerinduan, harapan, dan penantian akan pertemuan kembali.

12 Seniman, 12 shio

Salah satu bagian utama festival adalah Interactive Media Art Experience. Sebanyak 12 seniman kontemporer Indonesia dari berbagai usia dan latar belakang masing-masing mewakili satu shio.
Mereka merespons tema lampion, tiga dimensi, dan cahaya melalui karya instalasi berskala besar. Proses penciptaan karya diawali dengan sesi eksplorasi personal melalui pembacaan BaZi bersama seorang Master BaZi. Karya-karya tersebut kemudian dihidupkan melalui projection mapping dan tata cahaya teatrikal dari The Larung Company.
Pengelola Tjap Sahabat Mei Suling mengatakan, pendekatan tersebut menjadi pembeda CapCipCup Fest #02 dari kegiatan yang biasanya mengangkat tradisi.
“Karya-karya yang dihadirkan akan merespons mainan lampion, mainan masa kecil. Saya berharap teman-teman bisa menikmati. Akan berbeda dengan acara-acara yang biasa mengangkat soal tradisi,” ujar Mei.
Menurut Mei, Tjap Sahabat dikembangkan sebagai ruang kreasi kolaboratif untuk memperkenalkan kembali tradisi dan budaya yang mulai terlupakan. Tradisi tersebut kemudian dihadirkan melalui pendekatan visual yang lebih dekat dengan perkembangan seni kontemporer.
“Ruang kreasi kolaborasi yang dikembangkan untuk menjadi tempat memperkenalkan tradisi budaya yang hampir terlupakan. Kita tampilkan dengan semangat dan visual-visual yang direspons seniman kontemporer yang relevan dengan masa sekarang,” katanya.
CapCipCup Fest #02
Pendekatan ini terlihat dari karya 12 seniman yang terlibat. Mereka tidak sekadar mereproduksi bentuk-bentuk tradisional, tetapi merespons gagasan tentang lampion, cahaya, dan pengalaman personal melalui medium seni tiga dimensi.
Para seniman yang terlibat antara lain Artanya Rinjani Landjanun, Tab Space (Azrian Kale Sjahreza dan Angkasa Nasrullah Emir), Clarissa Tifanny, Dian Mayang Sari, Erwin Thomas, Erwin Windu Pranata, Liza Markus, Misha Ahmad Azizia, Octo Cornelius, Wulang Sunu, dan Zikry Rediansyah.
Dengan pendekatan tersebut, tradisi tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang beku di masa lalu. Ia justru menjadi titik berangkat bagi seniman untuk menciptakan tafsir baru yang dapat dinikmati oleh generasi masa kini.

Ketika tradisi bertemu teknologi

Selain instalasi kontemporer, CapCipCup Fest #02 juga menghadirkan pameran Chinese Painting & Calligraphy yang mempertemukan tiga seniman senior, yakni Sipin Lim, Ie Lie Yoeng, dan Ferdy Lung.
Ketiganya telah menekuni seni lukis dan kaligrafi Tiongkok selama puluhan tahun. Karya mereka menjadi ruang dialog antara tradisi, teks, dan pengalaman personal.
Sipin Lim mulai menekuni seni sejak 1966, sementara Ie Lie Yoeng berkarya sejak 1985 dan dikenal melalui karya-karya yang mengangkat motif alam seperti bambu, bunga plum, dan satwa. Sementara Ferdy Lung mendalami kaligrafi Tiongkok dan menghadirkan kembali puisi-puisi klasik melalui berbagai gaya aksara.
Kehadiran para seniman lintas generasi ini membuat festival tidak berhenti pada perayaan tradisi, tetapi juga memperlihatkan bagaimana pengetahuan dan praktik budaya dapat terus bergerak mengikuti zaman.
CapCipCup Fest #02

Pengalaman seru bagi pengunjung

Pengunjung juga dapat mengikuti berbagai program aktivasi selama festival berlangsung.
Ada Makan Tengah, jamuan tematik yang menghadirkan masakan otentik dari keluarga Tionghoa Indonesia, serta Passar Malam yang menghadirkan produk lokal dan kuliner khas Peranakan. Pengunjung juga bisa mengikuti lokakarya membuat kue bulan.
Bagi yang ingin menikmati kegiatan yang lebih santai, tersedia karaoke Akong Ama Ceriajaya setiap akhir pekan, permainan mahjong setiap Selasa dan Jumat, serta pemutaran film bertema keluarga dan identitas melalui program Layar Tancap.
CapCipCup Fest #02
Ada pula Historical Walking Tour, Fun Walking Tour, dan Bike Tour untuk menjelajahi kawasan Pecinan Bandung. Sementara Artists Listen menghadirkan konsep diskusi terbalik: pengunjung berbicara dan bertanya, sementara seniman mendengarkan.
Dengan berbagai program tersebut, Tjap Sahabat ingin menjadikan festival sebagai ruang perjumpaan, bukan sekadar ruang pamer.

Menghidupkan kembali narasi budaya

Tjap Sahabat sendiri merupakan ruang temu budaya dan galeri yang berada di kawasan Pecinan Cibadak. Bangunan yang digunakan sebelumnya merupakan toko dan pabrik sabun yang kemudian dialihfungsikan menjadi ruang untuk seni, sejarah, budaya, dan kehidupan sehari-hari. Ruang ini telah hadir sejak 2024.
Sementara CapCipCup Fest merupakan festival seni budaya tahunan yang digagas Tjap Sahabat untuk menghidupkan kembali narasi budaya Indonesia yang mulai terlupakan melalui kolaborasi dengan praktisi seni dan desain kontemporer.
Edisi pertama yang berlangsung pada Januari 2026 menghadirkan pertunjukan Wayang Potehi selama 14 hari bersama Sanggar Wayang Potehi Siaw Pek San dari Jakarta dan KYUB Design dari Bandung.
Pada edisi keduanya, “Terang Bulan” membawa gagasan, warisan budaya tidak harus berhenti sebagai sesuatu yang disimpan dan dikenang. Ia bisa dibaca ulang, dipertanyakan, dirasakan, dan dirayakan kembali oleh generasi yang berbeda.
Di tengah kawasan Cibadak yang terus bergerak, festival ini menawarkan satu cara untuk berhenti sejenak, menatap cahaya bulan, dan menemukan kembali cerita lama dalam bentuk yang baru. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE