digitalMamaID – Beberapa waktu terakhir, karakter Woody, Buzz Lightyear, Jessie, hingga Rex kembali menghiasi berbagai merchandise, koleksi blind box, sampai dekorasi ulang tahun anak. Kehadiran Toy Story 5 membuat banyak orangtua milenial kembali bernostalgia dengan film yang menemani masa kecil mereka.
Bagi generasi milenial, Toy Story bukan sekadar film animasi. Ia adalah bagian dari kenangan ketika sore hari diisi dengan bermain sepeda, menyusun balok, membuat petualangan menggunakan boneka, atau menciptakan dunia sendiri lewat imajinasi. Mainan bukan hanya benda, tetapi teman bermain yang menemani masa kecil.
Sejak ada lanjutan film Toy Story 4 dan Toy Story 5, muncul dua kubu penggemar. Kelompok pertama meyakini bahwa Toy Story 3 sudah memberikan penutup terbaik. Adegan ketika Andy menyerahkan Woody dan teman-temannya kepada Bonnie dianggap sebagai salah satu ending paling emosional dalam sejarah film animasi Pixar. Kisah tentang tumbuh dewasa dan belajar melepaskan terasa lengkap di sana. Namun, kelompok lain melihat Toy Story 4 dan Toy Story 5 bukan sebagai upaya memperpanjang cerita, melainkan babak baru. Jika Toy Story 3 berbicara tentang kehilangan pemilik, maka Toy Story 5 berbicara tentang tantangan yang jauh lebih dekat dengan kehidupan keluarga masa kini: perubahan cara anak bermain.
Di Toy Story 5, tantangan Woody dan kawan-kawan bukan lagi sekadar takut ditinggalkan, melainkan menghadapi kenyataan bahwa perhatian anak-anak kini terbagi dengan perangkat teknologi. Pixar sendiri mengungkapkan bahwa dunia terus berubah, sementara mainan tetap menjadi saksi perkembangan setiap generasi. Konflik inilah yang membuat cerita terbaru terasa dekat dengan kehidupan keluarga masa kini.
Dalam wawancaranya di acara D23 Expo, sutradara film Toy Story 5 Andrew Stanton menjelaskan bahwa alasan Pixar kembali menghadirkan Toy Story bukan sekadar karena karakternya masih populer, namun karena menurutnya mainan memang tidak pernah bertambah tua, tetapi dunia tempat mereka hidup terus berubah. Karena itulah konflik yang mereka hadapi juga harus ikut berkembang.
“The toys don’t really age, but the world does,” kata Stanton.
Jika dulu Woody harus bersaing dengan Buzz untuk mendapatkan perhatian Andy, kini tantangan mereka jauh berbeda. Anak-anak hidup berdampingan dengan tablet, ponsel, video game, dan berbagai bentuk hiburan digital.
Konsep inilah yang kemudian melahirkan tema besar Toy Story 5: toy meets tech, ketika mainan harus menghadapi dunia yang semakin dipenuhi layar.
Toy Story 5, refleksi orangtua milenial
Di media sosial, banyak unggahan yang memperlihatkan bagaimana penonton merasa perjalanan Andy sangat mirip dengan kehidupan mereka. Dulu mereka adalah Andy yang tidak pernah lepas dari Woody dan Buzz. Hari ini mereka adalah orangtua yang mengantar anak ke sekolah, memilihkan mainan, atau bahkan tanpa sadar memberikan gadget ketika anak mulai bosan.
Salah satu tren media sosial yang cukup sering munculseiring rilisnya Toy Story 5 ialah narasi yang menyebut, “Dulu aku adalah Andy. Sekarang aku adalah orang tuanya Andy.”
@samanthaleighbestt Where did the time go 🥹 #toystory #toystory5 #singlemum #nzmum #woody ♬ original sound – pixar.edits_
Kalimat sederhana itu menggambarkan bagaimana Toy Story kini bukan lagi sekadar nostalgia, melainkan pengingat bahwa sebuah generasi telah bertumbuh.
Tak lepas dari pro kontra Toy Story 5
Selain antusiasme penonton, Toy Story 5 juga memunculkan diskusi di kalangan penggemar. Sebagian merasa film ini akan lebih dinikmati oleh orang dewasa karena mengangkat tema screen time, perubahan pola bermain anak, hingga tantangan parenting di era digital. Di forum seperti Reddit bahkan muncul pertanyaan penasaran bagaimana Pixar akan membahas hubungan antara anak dan teknologi dan kritik bahwa film ini bukan untuk anak melainkan untuk orangtua.

Di sisi lain, ada pula yang khawatir tema tersebut terlalu kompleks untuk dipahami anak-anak yang lebih kecil. Meski begitu, hingga saat ini Pixar tetap memasarkan Toy Story 5 sebagai film keluarga yang dapat dinikmati lintas generasi. Perdebatan yang muncul lebih banyak berkaitan dengan lapisan makna cerita, bukan karena film ini dianggap tidak layak ditonton anak.
Mungkin inilah alasan mengapa Toy Story 5 terasa begitu personal bagi orangtua milenial. Film ini tidak lagi hanya berbicara tentang mainan yang takut ditinggalkan. Ia mengajak kita melihat perubahan zaman dari sudut pandang yang sederhana, yaitu bagaimana perhatian anak-anak kini terbagi antara mainan dan layar.
Sebagai orangtua, mungkin pertanyaannya bukan lagi apakah gadget lebih baik daripada mainan. Melainkan bagaimana kita tetap memberi ruang bagi anak untuk membangun imajinasi, menciptakan cerita, dan merasakan pengalaman bermain yang dulu pernah kita nikmati.
Pada akhirnya, Toy Story tidak pernah benar-benar bercerita tentang Woody atau Buzz. Sejak film pertamanya, kisah ini selalu berbicara tentang hubungan, pertumbuhan, dan bagaimana setiap generasi mengalami masa kecilnya dengan cara yang berbeda.
Mama sudah menonton Toy Story 5? Tulis ulasannya di Screen Score! [*]






