Bukan Sekadar Membaca, Literasi Harus Menghasilkan Dampak Berkelanjutan

Ilustrasi buku cerita anak
Share

 

 

digitalMamaID – Membaca sering kali dipandang sebagai inti dari kegiatan literasi. Semakin banyak buku yang dibaca, semakin tinggi pula tingkat literasi seseorang. Namun, benarkah literasi berhenti pada aktivitas membaca?

Pertanyaan tersebut menjadi pokok pembahasan dalam Temu Buku Online Festival Buku Berjalan yang mengangkat tema “Bukan Sekadar Membaca: Merawat Ekosistem Literasi yang Berkelanjutan”, Minggu 21 Juni 2026. Dalam sesi yang dibawakan oleh Ketua Sekolah Literasi Indonesia sekaligus Co-Founder Forum Buku Berjalan, Andi Ahmadi, peserta diajak melihat literasi sebagai sebuah proses yang lebih luas, yakni bagaimana pengetahuan yang diperoleh dari buku dapat diolah menjadi tindakan yang memberi manfaat bagi diri sendiri maupun lingkungan.

Membaca sebagai pintu masuk

Pada awal pemaparan, Andi mengingatkan, membaca bukanlah tujuan akhir dalam literasi. “Literasi itu bukan hanya tentang membaca. Tapi membaca adalah pintu masuknya. Kalau kita tidak masuk melalui pintu itu, kita tidak akan bisa menjadi orang yang literat,” ujarnya.

Menurut Andi, banyak orang mampu menyelesaikan banyak buku dalam setahun. Namun, hal itu belum tentu membuat seseorang memiliki kemampuan literasi yang baik apabila tidak disertai pemahaman, kemampuan berpikir kritis, dan penerapan dalam kehidupan sehari-hari.

“Kalau kita berhenti hanya membaca buku saja, tanpa memahami dan seterusnya, sebenarnya kita baru memiliki satu kemampuan, yaitu mengakses informasi,” jelasnya.

Empat tahapan literasi

Andi menjelaskan bahwa literasi merupakan proses yang terdiri atas empat kemampuan utama, yaitu:
Mengakses informasi, yaitu memperoleh pengetahuan melalui berbagai sumber, termasuk buku.

Memahami informasi, yakni menangkap isi, pesan, gagasan, dan nilai yang ingin disampaikan penulis.

Menilai informasi, yaitu berpikir kritis terhadap informasi yang diterima dengan mempertimbangkan fakta, sumber, dan kesesuaiannya dengan nilai yang diyakini.

Menggunakan informasi, yakni menerapkan pengetahuan yang diperoleh untuk mengambil keputusan yang lebih baik, menyelesaikan persoalan, dan menghadirkan manfaat dalam kehidupan.

Menurutnya, memahami bacaan tidak sekadar mengetahui isi cerita. “Kalau kita membaca novel, bukan hanya tahu ceritanya, tetapi kita perlu bertanya, apa sebenarnya pesan yang ingin disampaikan penulis,” katanya.

Begitu pula ketika menilai informasi. Pembaca tidak seharusnya menerima semua informasi secara mentah, tetapi perlu mempertimbangkan apakah informasi tersebut sesuai dengan nilai yang diyakini. “Kita harus menilai informasi itu. Mana yang sesuai dengan value yang kita pegang, mana yang tidak,” ujar Andi.

Cara menaikkan level kemampuan literasi

Setelah memahami konsep literasi, Andi mengajak peserta untuk “naik level”. Menurutnya, membaca harus berkembang menjadi proses belajar yang menghasilkan karya dan dampak.

1. Dari tahu menjadi paham

Membaca perlu disertai kebiasaan bertanya. Pembaca tidak cukup hanya mengetahui isi buku, tetapi juga mencari makna di baliknya dengan mengajukan pertanyaan seperti: Apa maksudnya? Mengapa hal itu terjadi? Apa penyebabnya? Apa dampaknya?

“Jangan hanya membaca, tapi bertanya. Membaca ditambah bertanya akan membuat kita benar-benar paham,” tambahnya.

2. Dari paham menjadi kritis

Tahap berikutnya adalah membangun sikap kritis. Pembaca perlu membiasakan diri memeriksa informasi dengan bertanya apakah informasi tersebut benar, dari mana sumbernya, apakah ada sudut pandang lain, dan apa buktinya. “Jangan langsung percaya, biasakan memeriksa,” tegas Andi.

3. Dari kritis menjadi berkarya

Kemampuan berpikir kritis akan lebih bermakna ketika diwujudkan menjadi karya. Bentuknya tidak harus berupa buku. Menurut Andi, karya bisa berupa tulisan opini, video edukasi, poster, hingga konten yang membagikan gagasan kepada masyarakat. “Ubah pemikiran menjadi karya. Mulailah dari yang sederhana,” katanya.

Berkarya untuk memberi dampak

Namun, Andi mengingatkan bahwa tujuan berkarya bukan sekadar menghasilkan produk, melainkan memberi manfaat. Ia mengajak peserta untuk selalu bertanya sebelum berkarya: Siapa yang akan terbantu? Masalah apa yang ingin diselesaikan?

Sebagai contoh, seseorang dapat menulis artikel hasil membaca, kemudian membagikannya kepada komunitas agar menjadi sumber belajar bagi orang lain. “Kalau karya kita bisa membantu orang lain, di situlah literasi mulai menghadirkan dampak,” ujarnya.

Tahap terakhir adalah menjaga semangat belajar agar dampak yang dihasilkan terus berkembang. Menurut Andi, proses literasi tidak berhenti ketika seseorang menghasilkan karya. Sebaliknya, proses tersebut membentuk sebuah siklus: Belajar, berkarya, berdampak, lalu kembali belajar.

“Terus belajar, terus membaca, terus mendengarkan orang lain, dan terus memperbaiki diri. Itulah cara kita bertahan di level ini,” katanya.

Merawat ekosistem literasi

Di akhir sesi, Andi menegaskan bahwa literasi yang berkelanjutan hanya dapat terwujud jika manfaat membaca terus mengalir kepada orang lain. Hal itu bisa dilakukan melalui diskusi, berbagi buku, menulis ulasan, maupun menghasilkan karya yang memberi solusi bagi

Semangat tersebut sejalan dengan visi Forum Buku Berjalan yang ingin memastikan manfaat sebuah buku tidak berhenti setelah selesai dibaca. Founder Forum Buku Berjalan, Evi Syahida, mengatakan pihaknya ingin mendorong masyarakat agar buku terus “berjalan” melalui berbagai aktivitas literasi.

“Kami ingin menunjukkan bahwa sebuah buku itu manfaatnya bisa terus berjalan, mulai dari kita baca, membuat ulasan, membedahnya, menukarkannya, dan berbagai cara lainnya,” ujar Visya, sapaan akrabnya.

Tujuan literasi bukanlah menumpuk buku yang telah selesai dibaca. Literasi baru akan maknanya ketika pengetahuan yang diperoleh mampu menggerakkan seseorang untuk berkarya, memberi manfaat, dan menghadirkan dampak yang terus berlanjut. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE