digitalMamaID — Kebanyakan dari kita mengira tidur adalah sesuatu yang bisa diusahakan. Saat tidak kunjung terlelap, kita mencoba berbagai cara. Memejamkan mata lebih kuat, mengatur napas, bahkan “memaksa diri” untuk tidur. Namun, semakin keras usaha itu dilakukan, semakin sulit tidur datang.
Sleep and Recovery Coach, Vishal Dasani, mengungkapkan, kesalahan paling umum dalam menghadapi gangguan tidur justru terletak pada cara kita memandang tidur itu sendiri. “Tidur bukan aktivitas yang bisa dipaksa, melainkan proses alami yang perlu dipersiapkan,” ujarnya dalam Podcast Raditya Dika di platform YouTube, 26 April 2026.
Kesalahpahaman ini cukup umum. Tidur bukan aktivitas yang bisa dikontrol secara langsung, melainkan proses alami yang muncul ketika tubuh dan pikiran berada dalam kondisi yang tepat. Bahkan, penelitian menunjukkan, gangguan tidur seperti insomnia sering kali berkaitan dengan faktor perilaku dan kognitif, bukan semata-mata masalah fisik.
Ketika kasur tidak lagi menenangkan
Salah satu kebiasaan yang tanpa sadar memperburuk kondisi adalah tetap berbaring di kasur meskipun tidak bisa tidur. Sekilas terlihat wajar, tetapi kebiasaan ini justru bisa membuat otak mengasosiasikan kasur sebagai tempat penuh tekanan. Alih-alih merasa rileks, tubuh menjadi waspada. Pikiran terus aktif, memikirkan waktu, menghitung jam, dan mengkhawatirkan esok hari. Kondisi ini sering disebut sebagai sleep anxiety yaitu kecemasan karena takut tidak bisa tidur. Ironisnya, kecemasan inilah yang membuat seseorang benar-benar sulit tidur.
“Banyak orang yang sebenarnya bukan tidak bisa tidur, melainkan takut tidak bisa tidur. Rasa takut ini membuat mereka terus memantau waktu, menghitung jam, dan akhirnya semakin terjaga,” ucap Vishal.
Vishal menyarankan pendekatan yang justru berlawanan dengan kebiasaan umum. Ketika tidak bisa tidur dalam 15–20 menit, sebaiknya bangun dari tempat tidur. Lakukan aktivitas ringan seperti membaca atau mendengarkan sesuatu yang menenangkan, lalu kembali ke kasur saat rasa kantuk muncul. Langkah itu dinilai dapat membantu memutus hubungan antara kasur dan stres, sehingga tubuh bisa kembali mengenali fungsi utamanya sebagai tempat beristirahat.
Semakin berusaha, semakin tidak mengantuk
Paradoks tidur menunjukkan, semakin kita memaksa diri untuk tidur, justru semakin sulit rasa kantuk datang. Salah satu pendekatan yang digunakan untuk mengatasi hal ini adalah teknik paradoxical intention. Alih-alih berusaha keras untuk terlelap, seseorang justru disarankan untuk mencoba tetap terjaga. Sekilas terdengar aneh, namun secara psikologis pendekatan ini membantu mengurangi tekanan. Ketika tidak lagi merasa “harus tidur”, tubuh perlahan kembali rileks, sehingga kantuk muncul dengan sendirinya. Ini menegaskan bahwa tidur bukanlah aktivitas yang bisa dipaksakan, melainkan proses alami yang terjadi saat tubuh dan pikiran benar-benar siap.
Vishal menjelaskan, gangguan tidur sering dianggap sebagai masalah fisik. Padahal, dalam banyak kasus, akar masalahnya justru berasal dari pola pikir. Kecemasan, overthinking, dan kebiasaan memantau waktu membuat otak terus bekerja, bahkan ketika tubuh sudah lelah. Akibatnya, tubuh tidak pernah benar-benar masuk ke mode istirahat. Banyak orang juga terjebak dalam pola “harus tidur sekian jam” atau “harus tidur sekarang”. Pola pikir seperti ini membuat tidur terasa seperti target yang harus dicapai, bukan kebutuhan alami yang datang dengan sendirinya. Akibatnya, tidur berubah menjadi “target” yang harus dicapai setiap malam. Padahal, menurutnya, semakin seseorang mengontrol tidur, semakin besar kemungkinan ia kehilangan kendali atasnya.
Di tengah maraknya informasi, banyak orang beralih ke suplemen seperti melatonin tanpa pemahaman yang tepat. Padahal, melatonin bukan obat tidur, melainkan hanya membantu mengatur waktu biologis tubuh. Jika masalah utamanya adalah pikiran yang gelisah atau kebiasaan tidur yang kurang sehat, suplemen tidak akan banyak membantu. Kesalahan yang sering terjadi adalah mengandalkan suplemen sebagai solusi utama, bahkan menaikkan dosis ketika tidak terasa efeknya, tanpa menyadari bahwa akar masalah sebenarnya belum tersentuh.
Tubuh punya ritmenya sendiri
Vishal menjelaskan, setiap orang memiliki ritme tidur yang berbeda. Ada yang lebih produktif di pagi hari, ada yang justru aktif di malam hari. Ritme ini dikenal sebagai chronotype. Pola ini bukan kebetulan, melainkan bagian dari ritme alami tubuh. Bahkan, ritme tersebut bisa berubah seiring usia, anak-anak cenderung tidur lebih cepat, remaja bergeser ke malam hari, lalu kembali stabil saat dewasa. Menurutnya, memaksakan diri mengikuti pola yang tidak sesuai hanya akan membuat tubuh semakin sulit beradaptasi. Dengan memahami ritme alami ini, seseorang bisa menyesuaikan kebiasaan tidurnya secara lebih realistis.
Selain pola pikir, kebiasaan sehari-hari juga berperan besar dalam kualitas tidur. Tidur siang, misalnya, bisa membantu jika dilakukan dengan tepat. Namun, jika terlalu lama atau terlalu sore, justru mengurangi rasa lelah yang dibutuhkan untuk tidur malam. Begitu pula dengan olahraga. Aktivitas fisik memang penting, tetapi tubuh membutuhkan waktu untuk kembali rileks sebelum tidur. Jika dilakukan terlalu dekat dengan waktu istirahat, tubuh masih berada dalam kondisi aktif. “Hal-hal kecil seperti ini sering diabaikan, padahal efeknya sangat terasa,” tuturnya.
Belajar melepas, bukan mengontrol
Gangguan tidur tidak selalu membutuhkan solusi yang rumit, tetapi menuntut perubahan cara pandang. Vishal menegaskan, tidur adalah kemampuan alami yang sudah dimiliki setiap orang sejak lahir. Namun, seiring waktu, kebiasaan dan pola pikir justru sering mengganggu proses tersebut. Oleh karena itu, daripada terus menambah usaha, kita perlu mencoba mengurangi tekanan dan memberi ruang bagi tubuh untuk bekerja secara alami. Langkah sederhana yang bisa dilakukan antara lain:
- Berhenti memaksa diri untuk segera tidur
- Tidak menjadikan tidur sebagai target yang harus dicapai
- Mulai memahami dan mengikuti ritme tubuh sendiri
Melalui pendekatan ini, tidur tidak lagi menjadi sesuatu yang dikejar, tetapi sesuatu yang datang dengan sendirinya ketika tubuh sudah siap. Kualitas tidur bukan ditentukan oleh seberapa keras kita mencoba, melainkan seberapa mampu kita melepas kendali dan mempercayai proses alami tubuh. Karena bisa jadi, masalahnya bukan kita tidak bisa tidur, melainkan kita terlalu berusaha untuk tidur. Selamat mencoba, Mama, semoga tidur berkualitas bisa jadi hadiah kecil untuk diri sendiri. [*]






