digitalMama — Tidak semua orang yang tumbuh tanpa figur ayah memilih untuk mengulang luka yang sama. Rob Kenney justru melakukan sebaliknya. Ia mengubah pengalaman masa kecilnya yang penuh keterbatasan menjadi sumber kekuatan untuk membantu jutaan orang. Melalui kanal YouTube “Dad, How Do I?”, ia menghadirkan sosok ayah yang sederhana namun hangat. Ia memberi panduan hidup sehari-hari bagi mereka yang tumbuh tanpa bimbingan serupa.
Kanal YouTube “Dad, How Do I?” dibuat oleh Rob Kenney pada April 2020, saat pandemi COVID-19. Konten pertamanya berjudul “How to Tie a Tie Easily”, video dengan durasi dua menit yang berisi tutorial cara mengikat dasi, ramai ditonton orang. Sejak itu, ia konsisten mengunggah berbagai konten serupa, seperti cara bercukur, memeriksa oli mobil, ganti ban mobil, memperbaiki toilet, hingga menghadapi rasa takut.
Dari konten sederhana
Kontennya tidak hanya menjadi tempat belajar keterampilan teknis yang biasanya diajarkan oleh ayah, tapi juga berisi pesan motivasi dan nasihat hidup. Konten sederhana yang diusung Kenney ini dengan cepat berhasil menarik perhatian publik. Dalam waktu relatif singkat, kanal tersebut mengumpulkan jutaan penonton dan kini terhitung sudah memiliki 5,62 juta subscriber.
The Washington Post melaporkan, awalnya Kenney membuat kanal tersebut untuk anak-anaknya yang sudah dewasa. Namun, tujuannya meluas menjadi warisan pengetahuan bagi cucu-cucunya kelak. Ia ingin mereka bisa belajar dari berbagai panduan praktis yang dibagikannya.
Akan tetapi, tak disangka konten tersebut justru menjadi awal dari perjalanan panjang dalam hidupnya. “Awalnya saya pikir hanya akan menunjukan kepada orang tentang bagaimana cara melakukan sesuatu, tapi ternyata konten ini menyentuh banyak orang,” kata Kenney, dilansir dari laman Your Tango.
Dalam proses produksinya, Kenney mengandalkan peralatan sederhana. Ia merekam video hanya dengan ponsel pintar dan menggunakan versi gratis perangkat lunak pengeditan video, membuktikan bahwa dampak besar tidak selalu membutuhkan fasilitas yang rumit.
Tumbuh tanpa figur ayah
Dilansir dari CBN, Kenney tumbuh dalam keluarga besar Katolik dengan kondisi awal yang baik. Kehidupan keluarganya memburuk setelah ayahnya kehilangan pekerjaan dan mereka harus berpidah-pindah tempat. Ibunya yang jauh dari keluarga mengalami kecemasan, depresi, dan kecanduan alkohol, sementara dukungan kesehatan mental saat itu minim. Orangtuanya akhirnya bercerai ketika ia berusia 14 tahun.
Setelah perceraian, ayahnya mendapat hak asuh tetapi tidak mampu menjalankan perannya dengan baik. Akibatnya, ia dan tujuh saudaranya dibiarkan mengurus diri mereka sendiri. Ia ingat suatu hari ayahnya pulang dan memberi tahu mereka bahwa ia sudah selesai menjadi orangtua. Saudara yang sudah berusia di atas 18 tahun dapat merawat saudara yang lebih kecil atau mereka akan ditempatkan di panti asuhan. Beruntung, saudara Kenney yang baru saja menyelesaikan tiga tahun di Angkatan Darat baru saja menikah dan bersedia menampungnya.
Setelah menikah, Kenney sempat mengalami masa sulit ketika kehilangan pekerjaan menjelang kelahiran anak pertamanya. Dalam kondisi tertekan, ia mulai mencari Tuhan, yang kemudian mengubah hidupnya. Titik balik besar hidupnya adalah ketika memaafkan ayahnya. “Itu tidak mudah, tetapi saya perlu bisa memaafkan (ayah saya) agar bisa menjadi pria seperti sekarang,” ungkapnya dalam USA Today.
Membantu anak fatherless
Kenney memiliki dua anak dan ikut hadir membesarkan mereka. Namun seiring berjalannya waktu, Kenney mulai mencari tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Terinspirasi oleh pengalaman masa kecilnya yang tumbuh tanpa sosok ayah, Kenney dibantu puterinya memutuskan membuat saluran YouTube untuk membantu anak-anak dengan kondisi serupa. Tanpa disangka, kontennya viral dan berdampak, membuatnya dijuluki Internet Dad.
Ia sendiri tidak pernah menyangka kanal YouTube-nya akan berkembang sebesar ini sampai sekarang. Meski begitu, Kenney tetap berpegang pada tujuan awalnya, yaitu membantu orang lain, bukan mengejar popularitas atau kekayaan. “Tujuan hidup saya adalah membesarkan orang dewasa yang baik. Bukan anak-anak yang baik, tapi orang dewasa yang baik karena saya tahu seperti apa rasanya tumbuh dalam lingkungan yang hancur,” katanya.
Menurutnya, konten YouTube-nya berisi panduan praktis untuk banyak tugas dasar yang seharusnya diketahui oleh setiap orang. Kenney melakukan untuk orang lain apa yang tidak pernah dilakukan ayahnya untuknya. Dia tidak membiarkan rasa dendam atau kehilangan sosok ayah mendefinisikan dirinya, membuatnya jadi negatif tapi justru membuatnya jadi positif.
Selalu ditutup dengan kalimat afirmasi
Salah satu hal paling sederhana, sekaligus paling mengena dari Rob Kenney adalah cara ia menyapa di awal video dengan kalimat, “Hey, kids!”. Seolah ia menyapa anak-anaknya.
Ia menutup videonya dengan kalimat-kalimat afirmasi seperti, “You got this! I Love you, I’m proud of you, God bless You.”
Kalimat pendek yang mungkin terdengar biasa, tetapi bagi sebagian orang, itu adalah kata-kata yang jarang atau bahkan tidak pernah mereka dengar sepanjang hidup.
Bagi mereka yang tumbuh tanpa kehadiran ayah, atau tidak pernah mendapatkan dukungan emosional, kalimat itu terasa sangat berarti. Tak sedikit penonton yang mengaku merasa dilihat, dihargai, didukung bahkan dikuatkan. Sesuatu yang mungkin selama ini diam-diam dirindukan banyak orang. [*]






