digitalMamaID – Fenomena live streaming YouTube Marapthon dari Reza Arap (Reza Oktovian) tengah ramai diperbincangkan, terutama di kalangan anak muda. Live streaming berdurasi panjang yang menampilkan aktivitas sehari-hari tanpa banyak filter ini berhasil menarik jutaan penonton dan bahkan ditonton berjam-jam oleh sebagian audiens-nya.
Marapthon adalah live streaming dengan format subathon (subscription marathon) di channel YouTube Reza Arap. Pengisi live streaming ini adalah AAA Clan yang berisi teman-teman Reza. Saat ini Marapthon masuk musim ketiga. Terpantau dari channel YouTube-nya, pada Marapthon Season 3: The Last Tale, jumlah penonton dalam satu video live mencapai rata-rata lebih dari 3 juta dengan penonton terbanyak yaitu 10 juta. Angka ini mungkin terus bertambah setelah live streaming berakhir karena video akan tersimpan di channel tersebut.
Durasi siaran pun cukup panjang, dengan rata-rata live berlangsung antara 6 hingga 11 jam dalam satu sesi. Angka ini menunjukkan, Marapthon bukan sekadar hiburan biasa, tetapi sudah menjadi fenomena digital dengan intensitas konsumsi yang tinggi.
Tidak seperti reality show dengan sensor dan penyuntingan, Marapthon berlangsung di area rumah tanpa kehadiran orangtua, minim sensor yang berisi berbagai aktivitas, seperti obrolan santai, permainan, interaksi dengan bintang tamu, hingga aktivitas sehari-hari yang ditampilkan secara real time. Tak heran, konten ini menarik perhatian banyak penonton, termasuk remaja.
Namun di balik popularitasnya, muncul pertanyaan: bagaimana orangtua perlu menyikapi fenomena ini, terutama ketika anak dan remaja ikut menontonnya?
Hiburan baru tanpa banyak filter
Menurut Preciosa Alnashava Janitra, M.Si dari Center for Communication, Media, Culture, and Information System Universitas Padjajaran (CMCI) UNPAD, fenomena seperti Marapthon bukanlah hal yang baru.
Preciosa mencontohkan streamer Amerika seperti IShowSpeed yang sudah lebih dahulu melakukan live streaming seperti yang dilakukan Marapthon. Sebagai kilasan, fenomena subathon dikenal luas setelah streamer Ludwig Ahgren melakukan siaran langsung tanpa henti selama lebih dari dua minggu pada 2021 di platform Twitch. Dalam format ini, setiap langganan dari penonton akan menambah durasi live, sehingga siaran bisa terus berlanjut selama dukungan terus mengalir. Bahkan, siaran tetap berjalan saat kreator beristirahat, dengan komunitas penonton yang tetap aktif berinteraksi.
Format ini memungkinkan penonton merasa lebih dekat dengan kreator karena mereka menyaksikan kehidupan yang tampak lebih “apa adanya”.
Dalam Marapthon, Preciosa melihatnya sebagai “hiburan lain dengan beberapa kekhawatiran”. “Yang ditampilkan Marapthon adalah kehidupan orang dewasa yang nongkrong, hang out, dan membicarakan banyak hal. Karena berlangsung 24 jam, tentu ada momen-momen yang tidak terkurasi seperti tayangan biasa,” ujarnya pada digitalMamaID, Rabu, 1 April 2026.
Dalam beberapa momen, bahkan muncul aktivitas yang memicu diskusi publik, kehadiran bayi dan anak, pesta musik malam hingga dugaan konsumsi minuman tertentu.
Ketika penonton menjadi bagian dari konten
Sistem donasi dalam Marapthon bukan sekadar fitur tambahan, tetapi menjadi bagian inti dari pengalaman menonton. Dengan adanya mekanisme seperti pada format subathon, penonton tidak hanya menyaksikan, tetapi juga berkontribusi langsung terhadap jalannya siaran. Hal ini memperkuat apa yang dalam studi media disebut sebagai parasocial relationship.
“Penonton merasa sangat dekat, seolah-olah mengenal kehidupan sehari-hari para kreator, padahal sebenarnya tidak,” ungkap Preciosa.
Dengan mekanisme ini, penonton merasa memiliki kendali, seolah mereka ikut “menjaga” live streaming tetap berjalan. Inilah yang kemudian membentuk rasa kepemilikan dan keterlibatan yang tinggi. Namun, bagi anak dan remaja, pengalaman ini bisa menjadi kompleks karena batas antara hiburan dan realitas menjadi semakin kabur.
Potensi pengaruh pada anak dan remaja
Marapthon ditayangkan di YouTube. Secara platform, YouTube memang ditujukan untuk usia 13 tahun ke atas. Namun dalam praktiknya, batasan ini tidak selalu efektif. Karena bagaimanapun kendali penuh akan ada di setiap individu.
“Kita tidak bisa mengontrol siapa yang menonton. Anak-anak bisa saja mengakses, baik langsung maupun dari cerita teman-temannya,” jelas Preciosa.
Ia juga menambahkan bahwa konten seperti ini berpotensi membentuk atau setidaknya mempertegas nilai tertentu pada penonton.
“Ada value yang bisa jadi dinormalisasi. Bukan berarti langsung mengubah perilaku, tapi ini menjadi bagian dari referensi yang mereka lihat,” ujarnya. Namun Preciosa menjelaskan bila value keluarga sudah kuat pada diri anak dan sudah ada kematangan dalam berpikir, kemungkinan meniru akan sangat kecil.
Misalnya, gaya hidup orang dewasa yang ditampilkan tanpa konsekuensi yang terlihat seperti merokok, begadang atau pola hidup tidak sehat, sangat mungkin dipersepsikan sebagai hal yang wajar oleh anak atau remaja.
“Yang berisiko itu anak-anak kecil yang tidak didampingi dalam akses gadget-nya dan tidak dibatasi juga belum punya kematangan berpikir. Mereka bisa saja meniru tanpa memahami konteksnya,” tambahnya.
Antara hiburan, komunitas, dan ekonomi
Di sisi lain, Marapthon juga menghadirkan aspek positif, terutama dari sisi ekonomi dan komunitas. Dengan kepopulerannya, live streaming ini kerap digunakan untuk mempromosikan UMKM, film, hingga karya kreatif lainnya. Penonton tidak hanya menjadi audiens, tetapi juga bagian dari ekosistem yang mendukung keberlangsungan konten.
Namun, sistem donasi yang menjadi penggerak utama juga menunjukkan kuatnya logika ekonomi dalam konten digital saat ini. “Durasi streaming akan bertambah kalau ada donasi. Jadi memang ada logika monetisasi yang bermain di sini,” ujar Preciosa.
Dalam studi media, kondisi ini disebut sebagai proses komodifikasi, di mana bukan hanya konten, tetapi juga audiens menjadi bagian dari nilai ekonomi.
Dalam konteks keseimbangan antara hiburan, komersialisasi, dan tanggung jawab sosial, narasumber menyatakan bahwa logika ekonomi selalu bermain dalam live streaming seperti Marapthon. Donasi dari penonton menjadi penting untuk keberlangsungan acara, sekaligus menciptakan rasa memiliki komunitas. Platform seperti YouTube juga ingin pengguna berlama-lama di platform mereka, sehingga konten yang menarik banyak penonton akan terus didukung.
Tidak semua kreator adalah edukator
Penting untuk dipahami, kreator seperti Reza Arap bukanlah edukator yang memiliki tanggung jawab untuk mengedukasi penonton, melainkan pembuat konten hiburan. Karena itu, ketika ada orangtua atau netizen yang kontra dan menyalahkan kreator atas konten seperti ini, hal tersebut tidak sepenuhnya tepat.
Sebaliknya, fenomena ini perlu dilihat sebagai bagian dari dinamika media digital yang terus berkembang.
“Kalau kita melihat ini sebagai fenomena media, tidak bisa hanya dilihat positif atau negatif. Tapi bagaimana ini dikonsumsi dan oleh siapa,” kata Preciosa.
Di sinilah peran orang tua menjadi sangat penting. Alih-alih melarang secara total, pendekatan yang lebih efektif adalah pendampingan dan literasi media. Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:
Batasi akses dan screen time
Gunakan fitur parental control atau arahkan anak ke platform yang lebih ramah usia seperti YouTube Kids.
Lakukan co-viewing
Menonton bersama anak bisa menjadi kesempatan untuk berdiskusi tentang apa yang mereka lihat.
Bangun literasi media
Ajarkan anak untuk memahami bahwa tidak semua yang ditampilkan di media adalah realitas utuh.
Sesuaikan dengan usia anak
Pendekatan untuk anak kecil tentu berbeda dengan remaja yang sudah mulai terpapar lingkungan sosial lebih luas.
Preciosa menambahkan, melarang anak sepenuhnya justru dapat membuat mereka tidak belajar literasi media. Oleh karena itu, pendampingan dan diskusi antara orangtua dan anak menjadi hal yang penting.
Fenomena Marapthon menunjukkan bagaimana dunia hiburan digital terus berkembang, lebih interaktif, lebih personal, dan lebih dekat dengan audiens. Bagi orang dewasa, ini mungkin sekadar hiburan. Namun bagi anak dan remaja, konten seperti ini bisa menjadi bagian dari proses belajar tentang dunia.
Kuncinya bukan pada melarang atau menyalahkan kreator, melainkan pada bagaimana orangtua hadir sebagai pendamping. Di era digital, memilih tontonan anak bukan lagi soal mengontrol sepenuhnya, tetapi tentang membekali mereka dengan kemampuan untuk memahami dan menyaring apa yang mereka lihat. [*]






