Hari itu bisa jadi hari yang menyenangkan, pulang ke kampung halaman bertemu keluarga dan menghadiri wisuda. Sederet agenda telah dibuat jauh-jauh hari, mengajak keluarga ke rumah makan, mengajak anak bermain di sawah, dan bertemu kawan-kawan lama.
Namun takdir berkata lain. Usai menghadiri wisuda adikku, peristiwa yang tidak pernah terbayangkan itu justru terjadi.
Malam itu, sekitar pukul 20.00 WIB, tubuh yang lelah memaksaku untuk masuk kamar lebih dulu. Membaringkan badan di samping suami yang lebih dulu menutup mata, terlelap. Anak-anak, tidur bersama nenek dan kakeknya.
Tak lama setelah memejamkan mata, ada yang membangunkanku tapi bukan tangisan anak-anak. Sesuatu, aku merasa ada sesuatu yang menggigit jari tanganku.
Masih dengan rasa kantuk, aku melihat ada dua bekas gigitan pada jari tengah di tangan kiri. Aku membolak balik tangan, melihat apakah ada semut atau serangga yang menggigit. Sial, tak ku temukan apa pun.
Aku berniat kembali tidur, mengebas bantal dan kutemukan ada makhluk kecil-panjang di dekat sana. Menatap ke arahku. Seketika aku teriak dan bangkit berdiri. Membangunkan suami yang masih tertidur.
Badan kecilnya melilit handle laci lemari. Seketika teringat, aku tidur dengan tangan ke atas bantal dan menyentuh lemari.
Entah dari mana asalnya, ular itu masuk rumah tanpa permisi. Aku berlari ke dapur sedangkan suami mencari alat pukul. Semua keluarga akhirnya bangun dan mengubek-ubek kamar untuk menemukan ular yang terlanjur sembunyi.
Aku yang masih terkejut hanya duduk diam. Tentu saja aku takut bahkan tanganku pun masih bergetar.
Aku hanya termangu dengan telinga merekam semua percakapan malam itu. Mereka masih berusaha mengejar makhluk licin itu. Hingga akhirnya aku mendengar mereka berhasil membinasakannya. Seketika ada perasaan lega dan lututku kembali bertenaga.
Barulah setelah itu semua sadar dengan aku yang masih terduduk di dapur. Ibuku langsung mengikat jariku dengan karet gelang, tapi racun itu sudah lebih dulu menyebar. Jari-jariku tak berhenti gemetar, ada rasa panas terbakar pada bekas gigitan ular itu.
Dengan menggunakan sepeda listrik, ayahku lantas membawaku ke rumah seorang mantri desa. Suamiku menyusul di belakang dengan sepeda motor dan menenteng kresek berisi ular yang telah dimatikan.
Sesampainya di rumah mantri desa, tak ada jawaban ketika kami beruluk salam. Nampaknya tidak ada orang di rumah itu.
Rasa panas membakar di bekas gigitan itu tak kunjung mereda. Rasa kesemutan juga mulai menjalar naik perlahan.
Suamiku panik dan beralih ke mantri yang lain. Beruntung mantri ini sedang di rumah, menggunakan kaos oblong dan celana pendek karena sudah malam.
“Saya digigit ular apakah ada obat sementara?” tanyaku lagi.
Mantri tersebut meminta suami segera membawaku ke RSUD untuk mendapatkan serum anti bisa ular. Tetapi karena perjalanan ke RSUD cukup jauh, kami disarankan ke pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) terdekat untuk menanyakan ketersediaan serum tersebut.
Puskesmas kampung tertulis melayani 24 jam, tapi sungguh gelap, hanya bagian gerbang dan pintu masuk saja yang mendapatkan cahaya lampu. Tidak ada satpam atau pun penjaga.
Aku dan suami memberanikan diri mengetuk pintu sebuah kamar periksa yang masih menyala.
“Tok..tok..tok… permisi,” seruku dan ku ulang sebanyak tiga kali.
Tak lama seorang pria paru baya keluar dari balik pintu. “Kenapa?”
Aku lantas menceritakan keluhanku dan meminta serum anti bisa ular seperti yang disarankan mantri itu.
Tetapi serum itu juga tidak ada dan kami diminta langsung ke RSUD di pusat kota.
Dengan langkah gontai, akhirnya perjalananku mencari serum anti bisa ular memang harus ke pusat kota Indramayu. Masih dengan celana tidur, kaos lengan pendek, dan kerudung jumbo milik ibuku yang kupakai seadanya.
Aku dan suami menuju RSUD Indramayu sedangkan ayahku kembali ke rumah, memberikan kabar kemungkinan aku tidak pulang dan memastikan anak-anak tidak panik mencari orang tuanya.
Perjalanan menuju rumah sakit terasa begitu panjang, rasa panas membakar jariku semakin menjadi-jadi. Akhirnya tanganku mati rasa. Tangan yang sebelumnya melingkar di pinggang suami sudah terjatuh. “Pah, satu tanganku sudah tidak bisa digerakkan lagi,” kataku lirih dari belakang.
Tak ada jawaban, tapi laju motor itu semakin cepat menembus pekat malam. Motor tua ayahku terus melaju membelah sawah di kanan dan kiri kami, melewati perkebunan antah berantah tanpa ada penerangan selain dari motor kami.
Sesampainya di rumah sakit, kami bergegas ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) tidak lupa menenteng plastik kresek berisi ular, mencoba mencari jawaban, ular apa yang telah mengigit tanganku itu. Apakah benar hanya ula banyu (ular air yang tidak berbisa), tapi kenapa tanganku sampai mati rasa?
Dokter dan perawat bergerak cepat, memasang infus dan mengambil sampel darah. Lantas dengan sangat hati-hati menjelaskan, ular yang dibawa berjenis kobra, baby kobra tepatnya.
“Ibu… ” katanya pelan seraya memegang lembut tanganku.
“Ular yang mengigit ini jenis kobra, dan karena masih baby justru belum bisa mengendalikan racun bisanya,” ujarnya lagi.
“Jadi malam ini ibu jangan pulang, ya. Ibu menginap di sini, kami akan berikan serum anti bisa ularnya, nanti ada beberapa tes lain juga, termasuk pengambilan darah,” katanya menjelaskan.
Saya hanya mangut-mangut mencoba mencerna penjalasan.
“Kalau ibu merasa sesak napas atau jantung deg-degan engga kayak biasanya, segera hubungi perawat,” katanya dengan senyuman, seperti menenangkan anak kecil yang sedang ketakutan ditinggal ibunya.
“Baik dokter, tapi satu tanganku sudah tidak bisa gerak dan diangkat lagi…” tuturku.
“Iya, itu karena racun ularnya. Makanya kita berikan serum anti bisanya,” jawab dokter itu sambil melirik perawat yang sedang memasang selang infus di tanganku.
Malam itu kami tidak pulang dan rencana liburan di kampung halaman gagal total. Dua kantong infus dan berkali-kali suntikan anti nyeri telah dimasukkan.
Pagi harinya, tanganku sudah kembali bisa digerakkan. Nafasku juga tidak lagi terasa berat. Perawat datang silih berganti melakukan pemeriksaan dan pengecekan kondisi.
Selain dua kondisi itu, rasa perih dan panas terbakar masih sangat terasa pada bekas gigitannya. Sehingga suntikan pun masih terus dilakukan selama 3 hari di rumah sakit.
Bahkan setelah pulang ke rumah, bekal obat nyeri masih harus diminum, sehari 3 kali selama 5 hari. Pernah pada hari ketiga kepulangan, saya mencoba menghentikan konsumsi obat nyeri, tapi tubuhku menolak, rasa linu yang tidak tertahankan menjalar ke seluruh tubuh.
Mabruroh






