Film Na Willa, Melihat Warna-warni Hidup dari Mata Anak

Film Na Willa
Share

digitalMamaID — Setelah sukses dengan film animasi Jumbo, Ryan Andriandhy kembali menghadirkan film anak “Na Willa”. Film ini menghadirkan warna-warni kehidupan dari kacamata seorang gadis cilik bernama Na Willa. Tidak hanya cocok ditonton si kecil, Mama dan Papa akan diajak kembali menjadi anak-anak.

Film Na Willa diangkat dari buku cerita anak karya Reda Gaudiamo. Buku cerita ini seperti buku harian yang mencatat pengalaman Na Willa. Kadang berisi cerita lucu, penuh keingintahuan, ketidaksabaran, juga kesedihan. Emosi-emosi khas anak-anak yang dituturkan apik oleh Reda. Sudah ada tiga buku Na Willa, salah satunya Na Willa dan Rumah dalam Gang. Tampaknya, buku inilah yang menjadi benang merah cerita di film Na Willa ini.

Sinopsis film Na Willa

Film ini bertutur tentang keseharian Na Willa (Luisa Andreena) bocah perempuan berisi enam tahun yang tinggal di Gang Krembangan, Surabaya sirka 1968. Identitas Na Willa sendiri sudah unik. Tinggal di kampung Surabaya, tapi ia lahir dari ibu dari Indonesia timur yang ia panggil “Mak” dan seorang ayah Tionghoa yang dipanggil “Pak”. Ia memiliki rambut dan kulit seperti Pak, tapi matanya lebar seperti Mak. Pak jarang di rumah karena bekerja sebagai pelaut. Tapi Pak tak pernah absen membawakan buku-buku bacaan untuk Na Willa. Di rumahnya ada Mbok yang membantu Mak mengerjakan banyak pekerjaan rumah. Satu lagi yang istimewa, sebuah radio yang dipanggil Erres. Alunan tembang hits Lilis Suryani mengiringi Mak menjahit dan membuat ahri-hari Na Willa tak pernah sepi.

Di Gang Krembangan, Na Willa berkawan dengan Farida, Dul, dan Bud. Setiap hari mereka bermain bersama. Entah main layangan di pekarangan dekat rumah, atau main ke rumah salah satu dari mereka. Yang pasti, mereka tidak boleh dekat-dekat rel kereta api, berbahaya!

Na Willa senang ikut ibu ke pasar. Meski dia sering dititipkan di toko Cik Min. Ia tidak keberatan karena bisa minum Orange Cruz yang rasanya nyekrus! Juga bermain-main dengan biji kacang hijau.

Tidak ada plot utama

Film Na Willa tidak menghadirkan sebuah plot utama. Di film ini, tidak ada misi yang harus dituntaskan seperti film-film anak pada umumnya. Pembaca buku Na Willa barangkali sudah mahfum karena ini bukan cerita petualangan, melainkan catatan keseharian. Istilahnya, slice of life.

Genre slice of life yang biasa ditemukan pada serial berisi potongan-potongan kehidupan yang tidak selalu punya klimaks besar. Atau bahkan, punya beberapa klimaks. Ceritanya tidak bergerak menuju satu konflik utama, tapi mampu membentuk pengalaman emosional yang utuh.

Di film Na Willa, ada cerita tentang tetangga yang menikah tapi tidak terlihat bahagia. Ada kesedihan yang memuncak karena teman yang celaka. Lalu, ada kehampaan karena teman-teman mulai sekolah. Ada kemarahan saat sekolah yang dinanti tak seindah harapan. Emosi-emosi yang dirasakan anak kecil ini ternyata mampu menjadi refleksi bagaimana semestinya memahami pendapat dan keinginan anak.

Dialog Na Willa mengalir sederhana. Tidak ada percakapan berat, tapi sesungguhnya punya makna mendalam. Terlihat dari adegan Mak menyisir rambut Na Willa sambil membahas kejujuran dengan metafora sederhana. Juga hadir lewat adegan Na Willa memberi makan Ayam Kuning Kecil Sekali untuk menunjukkan makna tanggung jawab.

Ryan behasil menunjukkan, bukan sekadar menuturkan lewat dialog. Itu pula yang membuat film ini tidak sibuk ingin menjejalkan banyak pesan moral lewat dialog panjang. Pesan itu hadir di banyak adegan meskipun tidak ada dialog.

Dunia dari mata anak-anak

Film Na Willa tidak meletakkan Na Willa di dunia orang dewasa. Sebaliknya, penonton dewasa diajak melihat dunia dari kaca mata anak-anak.

Mengapa ada anak yang suka sekali membongkar pasang barang? Rupanya ada anak serta Na Willa yang begitu penasaran dengan radio. Ia pikir ada seseorang yang sedang bernyanyi dari balik kotak kecil itu. Tapi setelah ia bongkar radio itu, ia tidak mendapati penyanyi di sana. Hanya komponen-komponen kecil yang tak ia pahami fungsinya. Ia harus menelan omelan Mak dan harus memasang ulang radio seperti semula. Tapi Mak akhirnya menerangkan bagaimana radio bisa mengeluarkan suara merdu penyanyi favoritnya.

Belum lagi tingkah kocak Na Willa yang menjadikan sprei sebagai mukena hanya karena ingin meniru Farida yang sedang salat. Ia jadi dihukum harus ikut Mbok mencuci sprei itu.

Benar adanya tidak ada anak kecil yang nakal. Anak-anak hanya menuntaskan rasa ingin tahunya. Sayangnya, hal itu sering tidak dipahami orang dewasa.

Dunia Na Willa tergambar indah dengan warna-warna cerah. Masa kanak-kanak yang imajinatif terasa hidup dengan animasi yang menyatu apik.

Bagi penonton dewasa, adegan demi adegan mengingatkan masa kecil dulu. Memanggil teman dari luar pagar untuk bermain bersama, memainkan beras dan kacang di warung, memelihara anak ayam, sampai ingatan pada guru pertama kita.

Saat itu, belum ada gadget yang membuat anak hingga orang dewasa sibuk dengan dunianya masing-masing.

Mak yang tidak sempurna

Mak sebagai salah satu tokoh penting di hidup Na Willa dimainkan dengan apik oleh Irma Novita Rihi. Ia adalah sumber pengetahuan bagi Na Willa. Mengajarinya mahir membaca bahkan sebelum duduk di bangku sekolah.

Mak tak selalu berbicara lembut. Ia bisa marah juga. Jika Na Willa berbuat salah, Mak akan memarahinya. Na Willa harus menerima hukuman saat berbuat salah. Akan tetapi, Mak juga yang akan membela Na Willa saat ia diperlakukan tidak adil.

Mak juga bisa berbohong. Ia berbohong pada Dul saat tidak mengizinkan Na Willa pergi bermain. Ia bilang, Pak akan datang, padahal tidak. Padahal, belum lama ia menjelaskan pada anaknya soal arti berbohong. Adegan ini terasa seperti sebuah tamparan. Sebagai orangtua, kita pernah berbohong pada anak, meski alasannya demi kebaikan.

Pendeknya, Mak tidak sempurna. Tapi, anak memang tidak membutuhkan ibu yang sempurna kan?

Na Willa tayang di bioskop mulai 18 Maret 2026. Jika sudah menonton, Mama bisa menuliskan ulasannya di Screen Score! [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE