Ekonomi Tak Menentu, Prioritaskan Dana Darurat!

ilustrasi dana darurat
Share

digitalMamaID — Di tengah kondisi ekonomi yang tak menentu, risiko pengeluaran tak terduga makin dekat dengan keseharian keluarga. Mulai dari harga kebutuhan pokok yang naik, penghasilan yang tidak selalu stabil, hingga risiko pemutusan hubungan kerja atau biaya tak terduga lainnya. Semua situasi ini bisa datang tanpa aba-aba dan sering kali membutuhkan dana yang tidak sedikit. Di sinilah dana darurat seharusnya berperan sebagai penyangga keuangan keluarga.

Namun, kesiapan menghadapi kondisi darurat tersebut masih menjadi tantangan besar, terutama bagi generasi muda yang kini mulai membangun rumah tangga dan menopang ekonomi keluarga. Hasil riset OCBC Financial Fitness Index (FFI) 2025 menunjukkan adanya penurunan signifikan kepemilikan dana darurat di kalangan generasi muda. Pada 2025, hanya 19 persen generasi muda yang memiliki dana darurat untuk menghadapi kehilangan pekerjaan, turun dari 25 persen pada 2024. Penurunan ini bahkan terjadi di seluruh kelompok pendapatan, tidak hanya pada kelompok berpenghasilan rendah.

Financial planner dari Finante Rahma Maryama, CFP menyebut, ada sekitar 70 persen masyarakat Indonesia diketahui belum memiliki dana darurat atau sudah memiliki dana darurat namun jumlahnya belum mencukupi. Padahal memiliki dana darurat menurutnya merupakan kebutuhan yang seharusnya dimiliki setiap keluarga. Namun, dalam praktiknya, dana darurat sering kali tidak diperlakukan sebagai kebutuhan utama.

“Dana darurat kan pasti dibutuhkan untuk kondisi-kondisi yang kita nggak pernah tahu datangnya kapan dan biasanya kebutuhan dananya cukup besar. Contohnya seperti sekarang nih musim hujan gitu ya. Kalau kita nggak punya dana darurat, kalau misal tiba-tiba plafon dapur ambruk atau misalnya ada yang bocor-bocor, ini lumayan ya biaya-biaya perbaikan gitu,” jelas Rahma kepada digitalMamaID Kamis, 29 Januari 2026.

Tanpa dana darurat, keluarga rentan

Tidak adanya dana darurat membuat keluarga berada pada posisi rentan secara finansial. Risiko yang paling mungkin terjadi adalah utang bertambah. “Karena yang paling gampang untuk kita dapat uang segera ya dari utang terutama pinjol ya. Pinjol kan nggak sampai sehari langsung cair,” ungkap Rahma.

Selain itu, ketiadaan dana darurat juga kerap membuat tabungan yang diperuntukkan untuk tujuan-tujuan keuangan jangka panjang, seperti dana pendidikan akhirnya terpakai untuk kebutuhan mendesak.

Menurutnya, masih banyak orang yang berpikir bahwa dana darurat bukan prioritas karena menganggap kondisi darurat tidak akan terjadi pada diri sendiri. Kemudian kebiasaan menunda-nunda. ”Terkadang sulit untuk menyisihkan di awal, nunggu sisa. Nggak tahunya di akhir bulan sisanya sudah nggak ada. Jadi nggak bisa nabung, termasuk dana darurat,” katanya.

Masih banyak yang belum sepenuhnya menyadari betapa pentingnya dana darurat sebagai perlindungan keuangan. Padahal pengalaman selama pandemi telah menunjukkan bahwa dana darurat sangat krusial untuk bertahan dalam situasi tak terduga.

Jangan tunda dana darurat

Lalu kapan waktu yang tepat untuk menyiapkan dana darurat? Rahma menyarankan segera. “Segera, sebenarnya sih dari kemarin-kemarin. Jadi jangan menunda untuk berinvestasi termasuk di dalamnya menyiapkan dana darurat,” imbaunya.

Bagi pasangan menikah, dana darurat idealnya minimal enam kali pengeluaran bulanan. Sementara bagi pasangan menikah dengan satu anak, jumlah idealnya meningkat menjadi sembilan hingga 12 kali pengeluaran bulanan. Semakin besar jumlah anggota keluarga, semakin besar pula kebutuhan dana daruratnya.

Rahma pun menyarankan dana darurat sebaiknya disimpan pada instrumen yang likuiditasnya cukup baik misalnya berupa simpanan tabungan atau logam mulia. “Logam mulianya yang kecil-kecil yang gramasinya kayak 1,5 gram, 1 gram itu oke untuk ibu-ibu jadikan dana darurat. Kenapa? Karena gampang dijual, dibanding kita beli 10 gram, 5 gram itu kan maksudnya nggak se-likuid kalau kita beli yang kecil-kecil ya,” jelasnya.

Selain simpanan tabungan dan logam mulia, dana darurat juga dapat ditempatkan pada reksa dana pasar uang. Meski bukan tanpa risiko, instrumen ini relatif aman karena yang diutamakan dalam dana darurat adalah likuiditas, bukan imbal hasil. Dengan tingkat likuiditas yang baik, risiko reksa dana pasar uang cenderung rendah.

Tips menyiapkan dana darurat

Di akhir perbincangan, Rahma pun membagikan beberapa tips untuk menyiapkan dana darurat, utamanya untuk keluarga dengan penghasilan yang terbatas. Langkah awal adalah memahami prioritas keuangan, membedakan mana yang memang kebutuhan, mana yang kewajiban dan mana yang keinginan agar alokasi dana lebih bijak.

“Seringkali dana darurat nggak dimasukkan ke kebutuhan, padahal namanya dana darurat itu kebutuhan kita juga. Mungkin selama ini kita nggak notice banget tentang itu. Jadi, alokasi dana kita tuh justru nggak bijak karena lebih mengarahkan ke apa yang jadi keinginan-keinginan kita. Itu yang pertama,” tuturnya.

Langkah kedua, adalah membiasakan menyisihkan dana di awal saat menerima penghasilan. Sebagian dana, misalnya sekitar 20 persen, sebaiknya langsung dipisahkan ke pos tabungan atau investasi dan tidak digunakan untuk kebutuhan lain. Jika memungkinkan penggunaan sistem auto-debit juga dapat membantu menjaga kedisiplinan.

Kemudian, jika memiliki penghasilan tambahan seperti hasil usaha, komisi, THR atau bonus tahunan sebaiknya diprioritaskan untuk menambah dana darurat. “Kalau misalnya dana-dana darurat sudah ada, sudah kok tenang baru bisa untuk yang lain-lain,” katanya.

Dana darurat dan dana cadangan

Selain dana darurat, dalam praktik pengelolaan keuangan, Rahma punya istilah lain yaitu dana cadangan. Menurut Rahma, jika dana darurat dapat dijadikan sebagai tujuan keuangan jangka pendek (kurang dari setahun) atau jangka menengah (dua hingga tiga tahun) sehingga proporsinya bisa diatur secara bertahap.

Dana darurat itu ibarat bumper terakhir, untuk kondisi-kondisi yang darurat, yang tidak pernah terprediksi atau hal-hal yang sifatnya insidental seperti keluarga sakit butuh dukungan finansial, kondisi darurat bencana, musibah, atau perbaikan-perbaikan dan lain-lain. Sedangkan dana cadangan itu untuk buffer pengeluaran.

“Dana cadangan apalagi buat kita-kita, misalkan seperti aku freelance, karena aku nggak selalu dapat event atau nggak selalu dapat klien. Walaupun penghasilan aku beda-beda di tiap bulan, pengeluaran kan selalu sama ya. Karena pengeluaran itu lebih bisa dihitung daripada penghasilannya kita. Mungkin aku membutuhkan dana cadangan dua sampai tiga kali dari income-nya aku atau pengeluarannya aku,” jelasnya.

“Artinya apa? Artinya kalau misalnya tiga bulan aku nggak dapat job, aman-aman aja nih keuangan keluarga. Iya itu adalah dana cadangan,” pungkasnya.

Tidak ada kata terlambat untuk mengatur ulang keuangan. Semangat, Mama! [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE