Strategi Ramadan dan Lebaran Hemat “In This Economy”

Ilustrasi ramadan dan lebaran hemat
Share

digitalMamaID – Ramadan dan Lebaran di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu cukup membuat cemas mengatur keuangan. In this economy, perlu strategi Ramadan dan lebaran hemat agar keuangan tetap aman terkendali.

Sebenarnya, puasa Ramadan bisa jadi peluang berhemat karena agenda jajan di siang hari jauh berkurang. Akan tetapi, seringkali selama Ramadan pengeluaran justru berlipat karena belanja sahur, buka puasa, dan takjil. Belum lagi perlu anggaran untuk bersedekah, bukber, hampers, biaya mudik, sampai THR dan angpau Lebaran.

Data dari Databoks Katadata Insight Center menunjukkan, sekitar 33,3% responden mengeluarkan lebih dari Rp1 juta untuk kebutuhan terkait Idulfitri. Pos terbesar adalah biaya mudik, diikuti belanja kebutuhan Lebaran.

Temuan itu membuktikan, Ramadan dan Idulfitri memang bukan bulan biasa dari sisi finansial. Lalu bagaimana agar momen itu tetap terasa spesial tanpa membuat kita cemas setelahnya karena keuangan terkuras?

Sadari lonjakan pengeluaran sejak awal

Menurut perencana keuangan dari Finante, Rahma Maryama, banyak yang baru menyadari pengeluaran membengkak ketika saldo sudah terlanjur menipis. Padahal, kesadaran harus muncul sejak awal.

“Nah, makanya kenapa penting sekali membuat anggaran pengeluaran di bulan tersebut yang akan menjadi kenaikan. Bikin anggarannya harus realistis, harus sesuai dengan misalnya kenaikan harga yang terjadi saat itu,” ujar Rahma kepada digitalMamaID, Senin, 23 Februari 2026.

Selain untuk kebutuhan harian, perhitungkan anggaran-anggaran tambahan untuk kebutuhan Ramadan dan Lebaran. Antara lain anggatan untuk menunaikan zakat dan bersedekah, anggaran sosial misalnya untuk bukber, hampers, hingga THR. Dengan begitu, Mama tidak kaget dengan peningkatan kebutuhan ini.

Sahur dan buka puasa: Utamakan kualitas

Sering kali kita merasa Ramadan harus identik dengan meja penuh. Padahal, yang terpenting adalah kecukupan gizi.

“Kita harus tetap fokus pada pemenuhan gizi seimbang ketika buka puasa dan sahur. Jadi tetap mengutamakan kualitas makanan yang kita konsumsi untuk keluarga,” jelas Rahma.

Founder Minimalist Moms Indonesia Evi Syahida menambahkan, membuat menu sebelum dan setelah belanja bisa membantu agar tidak bablas. Perencanaan sebelum belanja diperlukan agar tidak impulsif membeli banyak bahan pangan. Perencanaan setelah belanja dilakukan menyusun menu apa saja yang bisa dibuat dengan bahan-bahan yang sudah dibeli. Bisa dengan membuat meal plan.

Ia juga menyarankan memilih menu yang minim proses. “Takjil juga simpel-simpel, jus, smoothies, buah, atau gorengan bikin sendiri,” katanya.

Meski berhemat, tetap boleh menghadirkan kolak atau menu manis lain agar terasa Ramadan, tapi tetap sesuaikan dengan anggaran yang sudah disusun. Hangatnya Ramadan bukan dari banyaknya hidangan yang tersaji kan, Mama?

Menahan diri dari godaan promo dan flash sale

Bagi penjual, Ramadan dan Lebaran jadi momen promo besar-besaran. Diskon terasa seperti panggilan yang sulit diabaikan.

Rahma menjelaskan, ada faktor perilaku ekonomi di baliknya. Saat Ramadan, ada dorongan untuk belanja lebih banyak dari biasanya. “Ada perasaan di mana selama ini mungkin belanja kita seperti tertahan. Jadi ingin belanja ketika bulan-bulan tertentu gitu. Contohnya ketika Ramadan dan Lebaran,” katanya.

Sebelum tergoda check out, lakukan refleksi diri. Apakah barang itu kita butuhkan atau tidak. “Apakah keinginan belanjanya hanya dorongan emosi sesaat atau tidak,” ujar Rahma.

Jika masih ragu, gunakan strategi cooling off 24–72 jam. Pada durasi itu, perlahan kita bisa berpikir lebih rasional sehingga bisa menilai lebih jernih apakah perlu membeli barang itu atau tidak.

Sementara Evi punya pendekatan bertahap sebelum membeli barang baru. “Apakah memang kita enggak punya barang serupa? Bisa pinjam atau sewa? Bisa bikin sendiri? Bisa beli bekas? Beli baru kita jadikan opsi terakhir,” tuturnya.

Belanja bukan hanya soal mampu membayar, tetapi penting untuk memilihnya dengan sadar.

Bukber dan hampers: Atur prioritas, bukan ikut arus

Ramadan sering membuat jadwal sosial padat. Mulai dari bukber atau buka bersama keluarga, teman sekolah, rekan kerja, komunitas, dan circle lainnya.

Evi mengingatkan tentang pentingnya prioritas. “Kita punya keterbatasan waktu, tenaga, bahkan mungkin materi atau uang. Sehingga kita perlu punya fokus, perlu punya prioritas.”

Mama bisa membatasi frekuensi. Misalnya bukber maksimal satu kali seminggu, atau memilih circle yang benar-benar bermakna. Tidak semua ajakan bukber harus diiyakan.

Begitu juga dengan hampers dan angpau. Jika kondisi keuangan terbatas, bentuk perhatian bisa disesuaikan.

“Kalau misalnya memang kondisi keuangannya tidak memungkinkan, kita bisa memberikan balasan dalam bentuk yang lain, misalkan didoakan atau memberikan souvenir kecil yang sesuai dengan kemampuan kita,” tutur Rahma.

Ia menyarankan agar memprioritaskan keluarga inti dan orangtua terlebih dahulu. Selebihnya, sesuaikan dengan kemampuan. Memberi bukan soal gengsi, ketulusan yang utama.

Kebutuhan vs keinginan menjelang Lebaran

Menjelang Lebaran, daftar yang harus dipenuhi sering kali bertambah panjang. Servis kendaraan, beli baju baru, ganti gorden, hingga dekorasi ulang rumah.

Rahma mengingatkan, kebutuhan dasar tetap jadi prioritas. “Selain kebutuhan dasar, yang sifatnya keinginan-keinginan bisa kita lihat lagi urgensinya,” katanya.

Rencana kecil bisa membesar jika tidak dikontrol. Niat mengecat pagar bisa berubah menjadi renovasi besar jika tidak direncanakan matang.

Di sinilah Mama perlu jujur pada diri sendiri, mana yang benar-benar kebutuhan atau hanya dorongan suasana saja.

Tenang setelah Lebaran juga penting

Strategi yang jitu perlu ditopang pola pikir yang benar. Penting untuk memiliki sifat qanaah yang berarti merasa cukup dengan rezeki yang diberikan. Mindset ini akan membantu Mama mengendalikan semua bentuk pengeluaran terutama agar tidak over budget.

“Kemudian yang kedua, kita fokuskan Ramadan ini untuk hal-hal yang mendekatkan diri kita kepada Allah,” ujar Rahma.

Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan dorongan belanja dan pengeluaran berlebihan.

Evi pun mengingatkan, Ramadan dan Lebaran bukan momen untuk memuaskan hawa nafsu, tapi justru lebih menahan diri. “Lebih punya self control,” ujarnya.

Setelah Lebaran, harga kebutuhan pokok belum tentu langsung turun. Biaya tidak terduga juga masih mungkin muncul. Tanpa pengendalian, setelah Lebaran justru membuat kondisi finansial jadi tidak aman.

Agar tidak stres setelah Lebaran, Rahma menyarankan untuk menyisihkan sebagian THR untuk tabungan atau investasi dan sediakan dana cadangan.

In this economy, yang kita butuhkan bukan lebih banyak, tapi lebih sadar. Ramadan tetap bisa hangat. Lebaran tetap bisa meriah. Tanpa harus membuat keuangan goyah. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE