Marketing Vape Kian Masif, Perempuan dan Anak Jadi Incaran

Ilustrasi vape berbahaya
Share

digitalMamaID — Vape atau rokok elektrik kini menjadi fenomena yang mengkhawatirkan karena menjalar tanpa batas usia dan gender. Jika dulu produk nikotin identik dengan laki-laki dewasa, kini perempuan bahkan anak-anak ikut terpapar dan mengisap rokok bertenaga baterai tersebut, seolah-olah risiko kesehatannya bukan lagi ancaman yang serius.

Fenomena ini terlihat di berbagai ruang publik, mulai dari coffee shop, kampus, kantor hingga sudut-sudut kota. Dengan desain yang kecil, berwarna-warni, serta dilengkapi varian rasa buah dan manis, vape tampil lebih ‘clean’ dan modern. Citra inilah yang kerap membuatnya dianggap lebih aman, lebih ringan, bahkan lebih stylish dibanding rokok konvensional.

Di Indonesia, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) mencatat peningkatan prevalensi penggunaan vape pada remaja usia 10 hingga 18 tahun. Angkanya dari 0,06 persen pada 2018 menjadi 0,13 persen pada 2023.

Data dari Global State of Tobacco Harm Reduction memperkirakan, pada 2021 sekitar 5,8 % pria dewasa di Indonesia menggunakan vape dan 0,3 % perempuan menggunakan vape. Meskipun secara angka laki-laki lebih dominan, faktor sosial, termasuk peran keluarga dan paparan media sosial, turut memengaruhi perempuan untuk mulai mencoba atau menggunakan vape.

Dianggap lebih “kalcer”

Seperti pengalaman Dian (34), seorang pekerja swasta mengatakan, vape memiliki kesan yang berbeda dibanding rokok konvensional. Ia merasa stigma terhadap perempuan yang menggunakan vape tidak sekuat ketika perempuan merokok.

Vape itu kesannya santai saja. Pikiran negatif orang lebih sedikit, dibanding dengan perempuan ngerokok. Kalau vape itu lebih ke passion, kayak remaja kalcer,” ujarnya pada digitalMamaID, Jumat, 27 Februari 2026.

Dian mengaku mulai menggunakan vape secara intens sekitar enam bulan terakhir. Sebelumnya, ia hanya sekadar mencoba. Menurutnya, ada perbedaan yang dirasakan ketika merokok dan vaping.

“Rokok itu lebih enak dinikmati sama kopi hitam. Habis makan juga enak buat ngilangin enek. Kalau lagi penat, ngopi dan ngerokok itu rasanya rileks banget,” katanya.

Sementara vape, ia gunakan dalam konteks yang berbeda. “Kalau vape itu lebih untuk fashion, style, nongkrong. Nggak ribet karena nggak perlu api. Bentuknya kecil, bisa masuk kantong. Rasanya juga banyak, ada buah-buahan, cake, lebih segar,” sambungnya.

Baginya, vape lebih lekat dengan citra ‘anak gaul’ dan mengikuti tren kekinian. Namun dirinya juga masih mengonsumsi rokok, terutama di pagi hari atau saat minum kopi.

Terkait risiko kesehatan, Dian mengaku menyadarinya. Ia tidak menampik efek samping rokok maupun vape, tetapi mengaku berhenti total bukan hal yang mudah. “Kalau langsung berhenti memang susah. Jadi sekarang lebih ke mengurangi,” katanya.

Jika sebelumnya ia bisa menghabiskan satu bungkus rokok dalam sehari, kini ia membatasi konsumsinya. Ia juga berusaha menyeimbangkan dengan olahraga serta menjaga pola makan. Pengalaman Dian menunjukkan bagaimana vape dipersepsikan sebagian perempuan sebagai bagian dari gaya dan pergaulan, sekaligus menggambarkan dinamika antara kesadaran risiko dan kebiasaan yang sulit dilepaskan.

Masifnya pemasaran vape

Meningkatnya jumlah perokok elektrik aktif di Indonesia dipicu oleh pemasaran produk yang agresif, khususnya kepada anak-anak. Menurut laporan Vital Strategies yang diterbitkan pada Januari 2023 dengan judul Protecting Youth From Online E-Cigarette Marketing: Findings From a New Study in India, Indonesia and Mexico, menganalisis dan menemukan dampak pemasaran vape di tiga negara yang tidak memiliki regulasi terkait sponsor dan promosi rokok.

Temuan dari Vital Strategies menunjukkan, Indonesia menempati peringkat pertama dalam promosi dan sponsor vape di media sosial, dibandingkan dengan Meksiko dan India. Dalam pemantauan mereka, 7 dari 10 iklan vape tersebar bebas di Indonesia. Sebagai perbandingan, di India hanya 1 dari 10, dan di Meksiko 3 dari 10.

Lebih mengkhawatirkan, promosi, iklan, dan sponsor vape hampir selalu dilekatkan dengan citra anak muda. Produk dipasarkan dengan rasa-rasa unik, warna kemasan yang mencolok, high-tech, serta fitur yang bisa dimodifikasi sesuai gaya penggunanya. Sebanyak 58 persen produk yang dipasarkan di Indonesia menonjolkan fitur dan keunggulan produk, sementara peringatan dampak kesehatan muncul kurang dari satu persen.

Di Indonesia, produsen vape juga menggunakan pendekatan yang terasa personal dan “ramah”. Mereka membangun citra gaya hidup yang lebih modern dan relevan dengan keseharian anak muda. Strateginya bukan hanya menjual produk, tetapi meningkatkan engagement, menyapa audiens, hingga ikut merayakan momen-momen tertentu seperti hari raya atau peringatan nasional. Laporan tersebut mengungkap sekitar 69 persen promosi dilakukan melalui direct advertising.

Dalam hal platform, Indonesia dan Meksiko memiliki pola serupa. Facebook menjadi kanal utama promosi, sekitar 56 persen di Indonesia dan 51 persen di Meksiko, diikuti Instagram dengan 43 persen di Indonesia dan 48 persen di Meksiko. Media sosial bukan sekadar ruang berbagi, melainkan etalase yang efektif untuk membentuk persepsi bahwa vape adalah bagian dari gaya hidup yang normal dan modern.

Influencer perempuan jadi ikon

Dalam buku A Giant Pack of Lies, kelompok perempuan dan anak-anak merupakan target empuk industri vape. Senior Media and Social Media Analyst dari eBdesk Indonesia Albert Tarigan pernah mengatakan dalam forum daring pelatihan menulis, saat ini banyak pemengaruh (influencers) perempuan yang menjadi ikon promosi vape. “Wangi asap vape dianggap sebagai parfum,” katanya.

Penelitian dari Campaign for Tobacco For Kids (2023) yang bertajuk #SponsoredbyTobacco Tobacco & Nicotine: Marketing on Social Media mengungkap bagaimana industri tembakau memanfaatkan media sosial untuk menjangkau audiens muda. Pada 2018, The New York Times melaporkan, perusahaan rokok membayar influencer media sosial agar secara terselubung mempromosikan vape dalam unggahan mereka di Facebook, Instagram, dan X. pendekatan itu dilakukan perusahaan rokok di 40 negara.

Laporan tersebut juga menemukan, perusahaan besar seperti British American Tobacco (BAT) dan Philip Morris International menarget lebih dari 60 negara. Strateginya beragam, menggandeng badan amal, berkolaborasi dengan merek olahraga, menawarkan diskon dan hadiah, melakukan pemasaran produk secara langsung, hingga menggunakan influencer berbayar dan iklan digital.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa promosi vape tidak lagi sekadar iklan konvensional, melainkan terintegrasi dalam ekosistem media sosial dan budaya populer, membaur dengan konten sehari-hari yang dikonsumsi anak muda

Bahaya laten vape dan temuan narkotika

Di Amerika Serikat, vaping telah dinyatakan sebagai epidemik baru karena menimbulkan ragam penyakit pernapasan. Vaping Associated Pulmonary Injury (VAPI) adalah penyakit paru-paru yang disebabkan oleh vape. WHO juga sudah menegaskan, tidak ada bukti vape jauh lebih sehat dari rokok konvensional. Akibat nyata adalah penyakit popcorn lungs, penyakit paru yang dialami seorang perempuan asal Inggris pada 2021 karena kecanduan vape.

Temuan medis lainnya berdasarkan riset Rowell T.R dan Tarran R pada 2015 berjudul ‘Will chronic e-cigarette use cause lung disease?’ adalah vape mengandung logam (heavy metals), formaldehyde (aldehyde), nitrosamine (TSNa), silikat dan nano-partikel yang bahkan dapat masuk ke bagian paling dalam paru, serta kandungan particulate matter (PM) yang paling berbahaya bagi kesehatan paru.

Temuan komponen narkotika juga baru-baru ini diungkapkan oleh Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Suyudi Ario Seto. Menurutnya, vape menjadi pintu masuk baru bagi zat adiktif. “Cairan vape atau liquid adalah koktail kimia. Mengandung nikotin, propilen glikol, gliserin, serta zat pemberi rasa seperti diasetil dan asetilpropionil yang berisiko tinggi bagi kesehatan paru-paru,” ujarnya dikutip dari Detik.

Menurutnya, Pusat Laboratorium Narkotika BNN baru-baru ini sudah menguji 341 sampel cairan vape yang beredar di lapangan. Hasilnya, ditemukan 11 sampel mengandung sintetik kanabinoid (ganja sintetis), satu sampel mengandung metamfetamin atau sabu, serta 23 sampel mengandung zat etomidate, yang kini telah dikategorikan sebagai Narkotika Golongan II berdasarkan Permenkes No 15 Tahun 2025. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE