digitalMamaID — Ditinggalkan suami dengan tumpukan utang, membesarkan remaja yang sedang bertransisi menjadi dewasa yang sedang memberontak, hidup mandiri di kota besar, sekaligus berhadapan dengan keluarga patriarki. Beban berlapis ini dipikul oleh Shu-Feng, tokoh utama dalam film Left-Handed Girl (Mandarin: 左撇子女孩) yang rilis di Netflix pada 2025.
Disutradarai oleh Shih-Ching Tsou dan diproduseri Sean Baker, film Taiwan ini memotret kehidupan perempuan dari sudut yang sangat dekat, berlatar kota Taipei, Taiwan. Lewat kisah tiga generasi perempuan dalam satu keluarga, Left-Handed Girl menunjukkan bagaimana dunia patriarki bekerja secara halus namun menghantam keras kehidupan perempuan, bahkan sejak usia dini.
Sinopsis film Left-Handed Girl
Berlatar tahun 2016, film dibuka dengan adegan Shu-Feng (Janel Tsai) bersama dua putrinya, I-Ann (Shi Yuan-Ma) dan I-Jing (Nina Ye), berada di dalam mobil boks menuju Taipei. Mobil itu tak hanya membawa barang-barang mereka, tetapi juga harapan akan hidup yang lebih layak. Di tengah perjalanan, I-Jing melihat dunia lewat mainan kaleidoskop warna-warni yang kontras dengan realitas hidupnya yang jauh dari kata cerah.
Shu-Feng mencoba bangkit setelah ditelantarkan suaminya yang meninggalkan utang. Di Taipei, mereka tinggal di sebuah flat sempit yang bahkan lebih kecil dari foto yang dijanjikan. Untuk bertahan hidup, Shu-Feng membuka kedai mi sederhana di pasar malam yang hiruk-pikuk.
Putri sulungnya, I-Ann, terpaksa putus sekolah meski dikenal cerdas dan populer. Ia bekerja menjual pinang, sebuah pekerjaan yang mayoritas pelanggannya laki-laki. Bersama rekan perempuannya, I-Ann dituntut berpakaian minim demi menarik pembeli. Ia ingin menghasilkan uang lebih banyak dari ibunya. Sebuah ambisi yang lahir dari tekanan ekonomi dan keinginan untuk lepas dari kendali siapa pun.
Sementara itu, I-Jing, anak perempuan berusia lima tahun, menjadi penyeimbang cerita. Ia ceria, polos, dan sering lupa mengancingkan helm saat berangkat sekolah. Meski kerap dianggap “tidak mengerti apa-apa” oleh orang dewasa, I-Jing sebenarnya menangkap banyak hal dari percakapan dan sikap orang di sekitarnya.
I-Jing adalah anak yang kidal. Hal ini sebenarnya tidak jadi masalah bagi kakak, ibu dan neneknya, namun sang kakek berpikiran lain. Ia menganggap kidal sebagai keadaan yang tabu dan disebut sebagai “tangan iblis”. Label ini membekas di benak I-Jing. Ia mulai percaya bahwa tangan kirinya memang “jahat”, hingga menggunakan tangan itu untuk mencuri barang-barang kecil di pasar malam.
Alur cerita Left-Handed Girl bergerak maju dengan ritme yang cenderung lambat, namun terasa natural. Konflik I-Ann dengan dirinya sendiri, relasi Shu-Feng dengan keluarga besarnya, serta ketimpangan perlakuan dalam budaya patriarki digambarkan tanpa dramatisasi berlebihan.
Lalu, apakah ketiga perempuan ini dapat menjalani kehidupannya yang penuh drama ini dengan baik? Apakah misteri yang terbongkar dari kehidupan keluarga Shu-Feng di pesta ulang tahun ibunya yang ke-60?
Fakta menarik
Film berdurasi 109 menit yang memiliki rating usia 18 tahun ke atas ini memiliki banyak hal menarik, baik dari visual dan cerita-cerita dibalik pembuatannya.
Dalam sebuah interview bersama Netflix, Shih-Ching Tsou, sutradara film ini menyebutkan bahwa ide cerita film ini datang dari pengalaman masa kecil Tsou. Tsou adalah anak kidal di mana ia tumbuh dengan rasa bersalah dan malu karena dianggap “berbeda”. Ia ingin mengangkat bagaimana label kecil dari orang dewasa bisa membentuk cara anak memandang dirinya sendiri. Adegan ini direpresentasikan pada saat kakek I-Jing menyebut tangan kidal I-Jing adalah tangan iblis yang membuatnya menilai buruk dirinya sendiri.
Dalam artikel yang sama, Sean Baker, penulis sekaligus produser Left Handed-Girl menyebutkan latar tempat yang digunakan adalah asli pasar malam yang sudah ada di Taipei, bukan situasi dan tempat yang dibuat sebagai properti. Hal ini menjadi kekuatan cerita juga visual menjadi lebih menyatu.

Left Handed-Girl menggunakan kamera iPhone 13 demi mendapatkan tone dan pergerakan yang lebih alami. Dengan cerita yang kuat dan visual tersebut film ini berhasil jadi perwakilan Taiwan untuk Best International Feature Film di Academy Awards ke-98 dan menjadi shortlist Oscar.
Sudut pandang perempuan
Film ini kita mengajak kita melihat sepotong dunia dengan sudut perempuan di mana patriarki membuat perempuan tidak punya kendali bahkan atas kehidupannya sendiri. Kita bisa melihat ibu dan ayah Shu Feng yang sangat memanjakan adik laki-lakinya dengan memberikan banyak warisan dan modal usaha daripada ke saudara-saudara perempuannya yang lain yang lebih membutuhkan.
Lalu karakter I-Ann yang selalu membangkang namun sebenarnya punya hati yang tulus dan penyayang. Ia dipotret sebagai tipikal anak Asia yang tidak bisa mengungkapkan perasaannya dan banyak memendam sendirian. Melihat hidupnya sudah seberat itu di usianya yang masih muda mengajak kita mengingat apakah kita sudah cukup mendengarkan anak kita.
Catatan untuk orangtua: film ini memiliki rating 18+ karena terdapat beberapa adegan dewasa untuk kebutuhan cerita dan penguatan karaker. Pastikan mempertimbangkan usia anak jika ingin menonton bersama.
Tertarik menontonnya? Jangan lupa review film ini di Screen Score, ya!






