Di Balik Tunjangan Fantastis DPR, Ada Balita yang Meninggal karena Cacingan

Ilustrasi cacing gelang/cacingan (Piola666/Gatty Images)
Share

digitalMamaID — Kematian memilukan menimpa seorang balita berusia 4 tahun di sebuah desa di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Gadis kecil itu meregang nyawa setelah ditemukan ratusan cacing gelang hidup di dalam tubuh mungilnya. Sebuah ironi, balita meninggal karena cacingan ini tinggal di negara yang sama dengan anggota DPR dengan gaji dan tunjangan fantastis.

Sebuah tragedi yang seharusnya bisa dicegah, namun pemerintah abai. Peristiwa ini diektahui di kerasnya kritik publik terhadap wakil rakyat yang menerima gaji dan tunjangannya lebih dari Rp100 juta.

Kemalangan yang menimpa Raya (4) ini menyisakan duka sekaligus ironi di negara yang katanya sudah merdeka 80 tahun lamanya. Peristiwa ini seharusnya cukup membuat kita sadar dan membuka mata selebar-lebarnya, betapa bahayanya cacingan dan betapa kemerdekaan itu amat mahal untuk bisa dirasakan oleh tubuh mungil Raya di rumah kecilnya.

“Meninggalnya bocah tiga tahun di Sukabumi dengan tubuh dipenuhi cacing adalah tragedi yang tak layak terjadi di negeri sebesar Indonesia,” ujar mantan anggota DPR RI, Didi Irawadi Syamsuddin dałam keterangan tertulisnya yang diterima digitalMamaID, Sabtu, 23 Agusttus 2025.

Gagalnya sistem perlindungan sosial

Seorang anak yang mestinya terlindungi layanan kesehatan dasar dan jaminan sosial, justru meninggal dunia akibat penyakit sederhana yang mestinya bisa dicegah sejak dini.

“Kasus ini menunjukkan jelas gagalnya sistem perlindungan sosial dan kesehatan kita,” kata Didi.

Raya, balita berusia 4 tahun tanpa identitas, tanpa BPJS, dan tak terjangkau Posyandu maupun Puskesmas. Ia baru dibawa ke rumah sakit ketika kondisinya kritis. Ironis, pemerintah baru mengurus KTP, BPJS, bahkan renovasi rumah setelah kasusnya viral. Negara seolah hanya hadir setelah publik marah.

“Ini adalah alarm kegagalan negara dalam melindungi rakyat kecil,” ujar Didi.

Penyakit cacingan dan TBC adalah penyakit yang disebabkan salah salah satunya karena faktor kebersihan lingkungan, sanitasi yang buruk, dan rendahnya kualitas gizi. Padahal, pemerintah memiliki program dana desa, posyandu, hingga pemberantasan TBC nasional. 

Namun semua itu gagal menyentuh yang paling rentan. BPJS yang digadang sebagai jaring pengaman justru diskriminatif, karena mensyaratkan dokumen formal yang sering tak dimiliki rakyat miskin.

“Kelemahan layanan kesehatan primer juga telanjang. Posyandu gagal mendeteksi dini, puskesmas tidak hadir proaktif. Obat cacing massal, edukasi sanitasi, hingga pemantauan gizi seolah hanya retorika di atas kertas. Ditambah lagi, koordinasi lintas sektor lemah, dinas kesehatan, sosial, kependudukan, dan pemerintah desa berjalan sendiri-sendiri,” terang politikus Partai Demokrat ini.

Tragedi ini adalah tamparan keras bagi pemerintah. Kemiskinan tidak boleh lagi jadi retorika politik belaka. Negara harus proaktif, menjemput bola, mendata warga miskin, membuka akses BPJS tanpa hambatan administrasi, memperkuat layanan kesehatan preventif, dan memastikan sanitasi serta rumah layak bagi keluarga miskin. 

“Jika seorang anak bisa mati karena cacingan di abad ke-21, maka pertanyaan mendasar pun muncul: untuk siapa sebenarnya negara ini bekerja?” Kata Didi.

Gejala cacingan

Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Nutrisi dan Penyakit Metabolik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr Meta Herdiana Hanindita SpA(K), mengatakan cacingan merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi parasit berupa cacing. Penyakit ini dapat menular di antaranya melalui makanan atau minuman yang tercemar telur cacing atau lewat tanah, sedangkan gejalanya mulai dari ringan hingga berat.

“Muka pucat, tidak bersemangat, kurang gizi, diare, dan infeksi cacingan ini bisa menyebabkan resiko gangguan nutrisi, gangguan perkembangan, dan penurunan prestasi belajar,” kata dr Mita dalam unggahan video di media sosialnya.

World Health Organization (WHO) merekomendasikan untuk memberikan obat cacing secara berkala kepada anak-anak. WHO juga menargetkan untuk dapat menekan signifikan angka cacingan, khususnya cacing yang ditularkan melalui tanah p]hingga tahun 2030. 

“Menurut WHO untuk mencegah cacingan maka anak yang berusia di atas 1 tahun dapat diberikan obat cacing dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat,” kata  Mita.

Mita menjelaskan, infeksi cacing gelang (askariasis lumbricoides) merupakan contoh Soil Transmitted Helminths (STH) atau cacing yang ditularkan melalui tanah. Siklus hidup cacing ini memerlukan tanah yang sesuai agar telurnya dapat berkembang menjadi bentuk infektif dan siap menulari manusia. 

Jenis cacing STH yang paling sering adalah cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing cambuk (Trichuris trichiura) dan cacing tambang (Ancylostoma duodenale, Necator americanus).

“Infeksi cacing gelang sangat erat dengan kebiasaan BAB sembarangan, tidak mencuci tangan sebelum makan dan bermain tanah tanpa alas kaki,” ujar Mita.

Mita menambahkan, kebiasaan BAB sembarangan menyebabkan tanah terkontaminasi telur cacing. Telur cacing bertahan di tanah yang lembab dan hangat, berkembang menjadi telur infektif.

Infeksi cacing gelang

Cacing ini dapat masuk ke dalam paru-paru, ke dalam hati, otak, usus halus, dan usus buntu. Karena itu, penting bagi orang tua dan anak-anak untuk menanamkan perilaku hidup bersih dan sehat dengan membiasakan mencuci tangan pakai sabun, menggunakan air bersih untuk keperluan rumah tangga, menjaga kebersihan dan keamanan makanan, menggunakan jamban sehat, dan mengupayakan kondisi lingkungan yang sehat.

Jika sudah terinfeksi cacing gelang, orangtua perlu untuk mengenali ciri-cirinya. Menurut Mita atau yang akrab disapa Dokmet, gejala klinis cacing gelang terbagi menjadi 2 fase. Pada fase migrasi larva, bisa ada gejala pneumonia atau radang paru seperti mengi, sesak, batuk kering, demam dan pada infeksi berat dapat timbul dahak yang disertai darah.

Fase berikutnya saat cacing dewasa hidup di saluran intestinal dan jarang menimbulkan gejala klinis. Jika terdapat gejala klinis biasanya tidak khas yaitu mual, nafsu makan berkurang, diare atau konstipasi, lesu, tidak bergairah, dan kurang konsentrasi.

Cacing gelang dapat menyebabkan intoleransi laktosa, malabsorbsi vitamin A dan mikronutrisi yang membuat gagal tumbuh karena penurunan nafsu makan serta gangguan penyerapan.

Efek yang serius terjadi bila cacing menggumpal dalam usus sehingga terjadi obstruksi usus. Selain itu cacing dewasa dapat masuk ke usus buntu dan menimbulkan apendisitis (radang usus buntu).

Jika cacing dewasa menyumbat saluran empedu dapat terjadi kolik, kolesistitis (radang kantong empedu), kolangitis (radang saluran empedu), pankreatitis dan abses hati. Selain bermigrasi ke organ, cacing dewasa juga dapat bermigrasi keluar melalui anus, mulut atau hidung.

“Di Indonesia, pemberian obat pencegahan massal cacingan diberikan bersamaan dengan vitamin A. Obat yang digunakan adalah Albendazol atau mebendazol, dalam bentuk tablet kunyah dan sirup,” kata Mita. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE

Bingung cara ajak anak diskusi soal bahaya online tanpa menghakimi? 

Dapatkan solusi anti-panik untuk mengatasi hoaks, cyberbullying, dan mengatur screen time dalam Panduan Smart Digital Parenting