digitalMamaID – Bila Mama masih ingat serial web Sore: Istri dari Masa Depan yang sempat popular pada 2017 lalu, Mama mungkin tertarik dengan versi filmnya. Dengan judul yang sama, film Sore: Istri dari Masa Depan besutan sutradara Yandy Laurens sudah hadir bioskop sejak 10 Juli lalu. Disadur dari Instagram @ceritafilm, setelah 19 hari penayangannya, film Sore: Istri dari Masa Depan tembus 2,2 juta penonton!
Sinopsis film Sore: Istri dari Masa Depan
Film Sore: Istri dari Masa Depan bercerita tentang Jonathan (Dion Wiyoko), seorang fotografer Indonesia yang sedang tinggal di Kroasia. Jo, begitu ia biasa dipanggil, menjalani kehidupan yang sepi dan sendirian dengan berbagai kebiasaan buruk: begadang, minum alkohol dan merokok. Hingga akhirnya suatu hari dikagetkan dengan kehadiran Sore (Sheila Dara) yang mengaku adalah istrinya yang datang dari masa depan. Berbagai usaha dilakukan Sore untuk meyakinkan Jo, termasuk membocorkan hal-hal yang akan terjadi di masa depan Jo.
Misi Sore kembali ke masa lalu bukan tanpa alasan. Ia ingin mengubah kebiasaan buruk Jo: berhenti merokok, tidak lagi minum alkohol dan menjadi pribadi yang lebih sehat. Tapi perubahan tentu bukan perkara mudah. Ketika Jo mulai menyerah dan kembali ke kebiasaannya yang lama, Sore pun merasa perjuangannya sia-sia. Apakah Sore akan berhasil mengubah Jo? Apakah Jo bisa menjadi pribadi yang lebih baik?
Pengembangan cerita dari web series YouTube
Film Sore: Istri dari Masa Depan berangkat dari pengembangan cerita versi serial webnya. Kedua versi ini, serial web dan film disutradarai oleh Yandy Laurens, tangan di balik film Keluarga Cemara (2018), Jatuh Cinta Seperti di Film-Film (2023) dan 1 Kakak 7 Ponakan (2024).
Selain pengembangan cerita yang lebih dalam, terdapat juga perubahan aktor yaitu Tika Bravani menjadi Sheila Dara untuk karakter Sore. Selain itu, lokasinya pun berubah dari awalnya Italia menjadi Kroasia. Yandy Laurens dalam siniar Fellexandro Ruby pada 3 Juli lalu menjelaskan pilihannya mengganti lokasi ini untuk merelasikan keterasingan Jo. “Kalau masih di Asia rasanya masih dekat, tapi kalau Eropa semua orang pasti mikir dua kali untuk pergi ke sana,” jelas Yandy.
Sebagai pemeran Sore, Sheila sempat merasa terbebani karena kuatnya karakter Sore versi Tika Bravani. Namun setelah proses reading yang panjang ia akhirnya menyadari perbedaannya. “Yang dilalui Sore di web series dan Sore di film itu beda. Beda konfliknya, beda kejadian-kejadiannya,” ujar Sheila di siniar yang sama.
Tentang penerimaan
Menonton film Sore: Istri dari Masa Depan di layar lebar memberikan pengalaman sinematik yang jauh lebih dalam dibandingkan dengan versi serial webnya. Visual indah Kroasia dan Finlandia akan menjadi suguhan yang sangat memanjakan mata Mama.
Di film ini lagu latar di serial web terdahulunya, “Forget Jakarta” dari Adhitia Mulya pada pembukaan film menghadirkan nostalgia. Lagu dari Barasuara yang berjudul “Terbuang dalam Waktu” (2024) dan “Pancarona” (2019) terasa pas hingga seolah sengaja dibuat untuk film ini, padahal lagu-lagu tersebut dibuat sebelum film Sore ada.
Selama film berdurasi 1 jam 59 menit ini, Mama akan merasakan banyak emosi. Dari mulai sedih, hangat, putus asa, senang, bingung, marah, merasa dicintai dan masih banyak lagi. Menurut sang sutradara, reaksi atau emosi yang dirasakan oleh penonton sangat berpengaruh dari pengalaman pribadi penontonnya, “Itulah the beauty of cinema,” ujar Yandy.
Tema besar di film Sore: Istri dari Masa Depan adalah penerimaan. Baik itu menerima diri sendiri dengan semua lukanya atau menerima bahwa setiap orang memiliki hak untuk membuat keputusan berbeda. Sama seperti saat Sore menerima bahwa Jo tidak bisa berubah sesuai ego pribadinya saja. Atau saat Jo menerima masa lalunya dengan berdamai dengan diri sendiri.
Perjalanan panjang yang dilakukan Sore, penerimaannya terhadap Jo mengerucut pada perubahan sikap Jo yang akhirnya bisa berubah menjadi lebih baik dengan sendirinya. Semua hal itu terjadi karena Jo merasa dicintai.
Terinspirasi dari kehidupan Yandy Laurens
Setiap film maker pasti memiliki perjalanannya masing-masing dalam membuat ide cerita. Begitupun dengan Yandy. Ayah dua anak ini bercerita, inspirasi awal cerita Sore di serial web adalah dari sebuah buku pernikahan yang membahas tentang penerimaan.
Saat membuat serial web Sore, Yandy saat itu masih berpacaran, dan ia menumpahkan berbagai idenya dengan membayangkan bagaimana pernikahan ideal itu. Akhirnya, setelah menikah, Yandy merasa bahwa cerita yang ada di serial web dialaminya juga di kehidupan pernikahannya. “Setelah menikah, cerita yang di web series grow dan kualami sendiri,” ungkapnya. Terjadi perubahan signifikan kedalaman cerita yang dialami karakter Sore dan Jo ternyata bersamaan dengan berkembangnya diri Yandy sebagai pribadi di kehidupan nyata.
Yandy mengungkapkan bahwa kehidupan pernikahan dapat mengungkap innerchild yang belum selesai. Ia menjelaskan bahwa dalam fase hidup setiap orang, akan ada fase di mana innerchild kita yang belum atau tidak selesai itu terungkap dengan sendirinya. Ia mencontohkan bisa dalam fase pertemanan, pekerjaan dan lain-lain.
“Marriage jadi tempat aman untuk mengekspos itu (innerchild-red),” ungkap Yandy. Ia menjelaskan seharusnya dalam pernikahan yang sehat, saat innerchild yang belum selesai ini terungkap seharusnya tidak ada penghakiman, namun adanya penerimaan. Berbekal pengalaman inilah akhirnya dibuat cerita Sore yang lebih dalam di versi filmnya.
Siap berkelana dengan Sore dan Jo? Yuk, tonton dan dukung film lokal di bioskop terdekat, ya! [*]






