Cerita Pekerja Migran Indonesia di Singapura: Mewujudkan Mimpi Sekolah yang Pernah Padam

Ilustrasi pekerja migran Indonesia di Singapura/NETFALLS
Share

Dulu, tidak semua anak perempuan punya kesempatan untuk bermimpi tinggi. Kemiskinan dan patriarki mengubur mimpi banyak perempuan. Banyak orangtua kala itu lebih memilih menikahkan anak perempuannya ketimbang menyekolahkannya.

Novia adalah satu dari sekian banyak perempuan yang tak bisa melanjutkan pendidikan formal. Orangtuanya bukan berasal dari keluarga berpendidikan. Bagi mereka, biaya sekolah terasa terlalu mahal. Ia hanya bersekolah sampai SMP. Di Lumajang, Jawa Timur, kampung halaman Novia, hanya empat dari teman-temannya yang berhasil menamatkan pendidikan hingga SMA.

Novia adalah nama pena dari seorang pekerja migran Indonesia di Singapura. Nama aslinya Sariasih. Demi menghidupi keluarganya, jatuh bangun menjadi pekerja migran Indonesia ia telan sendiri. Tapi satu hal, ia tidak membiarkan semangat belajarnya padam. Tak hanya untuk memajukan dirinya, ia ingin berdampak untuk sesama.

Sejak kecil, ia sudah gemar membaca. “Waktu itu di kampung, kalau belanja di warung kadang dibungkus pakai potongan koran. Ya itu saya baca, sekecil apa pun korannya saya baca. Kan saya nggak sekolah, dan di kampung saya nggak ada koran,” kenangnya pada #DigitalMamaTalk yang disiarkan lewat Live Instagram @digitalmamaid, Jumat 4 Juli 2025.

Pekerja migran indonesia
Novia, pekerja migran Indonesia di Singapura.(DOK. PRIBADI)

Tak ada pilihan, pilih jadi pekerja migran

Putus sekolah membuat Novia menikah muda dan memiliki dua anak. Namun pernikahan itu harus berakhir. Setelah menjadi orangtua tunggal, ia menyadari bahwa kampung halamannya tak menawarkan banyak pilihan pekerjaan. Mayoritas warganya bekerja sebagai petani. Tidak ada industri seperti pabrik yang bisa menyerap banyak tenaga kerja. Demi memenuhi kebutuhan hidup anak-anaknya, Novia pun memberanikan diri merantau ke Singapura sebagai pekerja migran Indonesia.

“Jujur, ini sebenarnya kecelakaan. Di lingkungan saya, kebanyakan orang pergi ke Malaysia, entah itu tetangga atau saudara. Informasi ke luar negeri biasanya didapat dari tetangga juga, tapi mayoritas ilegal, lewat calo,” ungkapnya.

Tak punya uang untuk membayar calo, Novia akhirnya mendapat rekomendasi untuk berangkat dengan jalur resmi lewat sebuah perusahaan (PT). Meskipun prosesnya lebih lama dan ia tak bisa berbahasa Inggris sama sekali, tekadnya begitu kuat. Ia menjalani berbagai tes dan akhirnya berhasil berangkat.

“Saya benar-benar nol besar. Tiba-tiba harus ke Singapura sendiri, belajar Bahasa Inggris, padahal nggak pernah sekolah. Jadi pendidikannya juga lumayan lama,” tambahnya.

Kini, sudah 20 tahun Novia bekerja sebagai pekerja migran di Singapura. Pahit dan manis telah ia rasakan. Ia masih ingat betul majikan pertamanya adalah seorang nenek asal Malaysia yang tidak bisa berbahasa Inggris. Selama dua tahun pertama, ia tidak mendapatkan libur, dilarang berbicara dengan orang lain, dan tak diizinkan memegang ponsel. Beruntung, putra bungsu majikannya sering membelikannya tabloid sebagai bahan bacaan.

“Setelah pindah majikan, saya jaga anak kembar. Dari situ mulai bisa praktik Bahasa Inggris sehari-hari,” kenangnya.

Di majikan kedua, Novia mendapatkan libur sebulan sekali. Ia memanfaatkan waktu liburnya untuk berkumpul dan berbagi informasi dengan sesama pekerja migran. Dari sanalah ia menyadari bahwa gajinya selama ini di bawah standar yang dipatok Kedutaan Besar RI (KBRI) di Singapura. Barulah di majikan ketiga, seorang ekspatriat asal India, Novia mendapatkan hak libur mingguan dan gaji sesuai standar.

Menjadi relawan di HOME

Setelah mulai mendapatkan libur rutin, Novia sempat kebingungan mengisi waktu. Ia kemudian mengikuti berbagai kursus, mulai dari tata rias hingga menari. Awalnya hanya untuk mengisi waktu, bukan niat menambah keahlian.

“Kursus ini diadakan oleh NGO bernama HOME (Humanitarian Organization for Migration Economics). Di sana saya lihat teman-teman bukan cuma belajar, tapi juga jadi relawan. Saya tertarik, tapi minder karena nggak punya latar belakang pendidikan. Jadi saya cuma bilang, kalau butuh tenaga, saya siap bantu,” tuturnya.

Novia akhirnya menjadi relawan mingguan di HOME. Semakin lama ia terlibat, semakin ia memahami bahwa HOME fokus memperjuangkan hak-hak pekerja rumah tangga migran. Ia mengikuti berbagai workshop dan pelatihan, hingga akhirnya dipercaya bertugas di bagian Help Desk sejak 2015, untuk menerima aduan dan memberikan konseling.

“Saat memberi konseling, kita belajar mengidentifikasi masalah sekaligus kondisi mental teman-teman yang sedang mengalami krisis. Setidaknya, kita dilatih jadi pendengar yang baik. Itu basic skill-nya,” jelasnya.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by digitalMamaID (@digitalmamaid)

Dari konseling ke advokasi

Menurut Novia, masalah yang paling sering dihadapi pekerja migran berkaitan dengan jam kerja yang panjang, kekurangan makanan, serta gaji yang tidak dibayar tepat waktu.

“Padahal sejak 2013 sudah ada hak libur. Tapi itu masih bersifat pilihan—boleh libur, atau tidak libur tapi dibayar. Sayangnya, ini sering dimanfaatkan oleh majikan dan agensi,” katanya.

Banyak pekerja baru tidak tahu bahwa mereka sebenarnya berhak memilih. “Soal gaji pun banyak yang telat dibayar, bahkan sampai dua bulan. Itu bikin stres. Soalnya, kerja capek-capek, meski majikan cerewet kita bisa tahan, tapi kalau gaji nggak keluar, rasanya ambyar,” lanjutnya.

Ia mengakui bahwa pemerintah Singapura telah banyak melakukan perbaikan, seperti mewajibkan agensi untuk membuka rekening bagi pekerja migran. Namun, kebijakan direct hiring tetap membuka risiko.

“Kalau majikan tak puas, kita bisa langsung dipulangkan. Sementara kalau lewat agensi, meski orientasinya bisnis, setidaknya masih ada peluang dicarikan majikan baru. Itu win-win solution,” tambahnya.

Sayangnya, Singapura tidak punya standar gaji resmi untuk pekerja migran karena tidak termasuk dalam Employment Act. Gaji ditentukan oleh kedutaan masing-masing negara. “Kalau di Hongkong, secara hukum lebih jelas karena ada standar gaji minimum,” jelasnya.

Menghidupkan mimpi lama: Sekolah

Tahun 2021, Novia memutuskan resign dari HOME. Namun, ia tetap memberikan konseling secara sukarela. Di sela waktunya, ia memutuskan kuliah di Universitas Terbuka, mengambil jurusan hukum. Sebelumnya, ia telah menyelesaikan Paket C di tahun 2018 saat masih menjadi relawan.

“Waktu itu anak perempuan saya bilang ingin kuliah. Saya pikir, berarti saya harus terus bekerja. Kalau saya bekerja, berarti saya masih bisa punya waktu untuk kuliah. Ini kan mimpi saya waktu kecil,” tuturnya.

Mimpi yang dulu dipaksa padam itu kini menyala kembali. “Saya bilang ke anak, ‘Ibu mau kuliah.’ Anaknya bilang, ‘Kalau ibu sarjana, terus ibu mau jadi apa?’ Saya jawab, ‘Tetap jadi ibu’,” kenangnya sambil tersenyum.

Bersama sang putri yang juga tengah kuliah di Malang, keduanya saling menyemangati. Jika tak ada aral melintang, dua perempuan ini akan menjadi sarjana pertama di keluarga mereka.

Perlahan, sekolah bukan lagi mimpi. Ia berhasil mewujudkannya. Mimpi baru sudah tumbuh, ia ingin terus sekolah. Selepas sarjana, ia ingin melanjutkan sekolahnya.

Meski sibuk sekolah, ia tak meninggalkan aktivismenya. Novia dan teman-temannya mendirikan komunitas kecil di Singapura. Fokus mereka adalah advokasi dan pendidikan. Anggotanya kebanyakan adalah mereka yang tertarik pada tulisan-tulisan Novia di media sosial dan ingin belajar menulis bersama.

“Kita lebih banyak diskusi online. Tapi tetap aktif berdiskusi dengan organisasi-organisasi yang peduli pada isu pekerja migran, baik di Singapura, Indonesia, maupun negara lain. Kalau ada diskusi, kita pasti diajak,” katanya.

Menulis untuk merawat kesehatan mental

Baru-baru ini, Novia dan rekan-rekannya sesama pekerja migran menerbitkan buku berjudul “Di Bawah Bayang-Bayang Patung Merlion”. Buku ini memuat kisah-kisah nyata, harapan, dan perjuangan mereka di negeri rantau. Tersedia dalam bentuk e-book gratis, siapa pun bisa membacanya.

Sejak dulu, Novia memang mencintai dunia baca dan tulis. Ia kerap membagikan puisinya di media sosial, bahkan pernah meraih juara dua kali dalam lomba menulis.

“Pertama, saya menang lomba menulis tentang membangkitkan mimpi yang terkubur. Kedua, menulis fiksi dan menang juara tiga,” ujarnya.

Baginya, menulis bukan hanya cara untuk mengasah cara berpikir, tapi juga merawat kesehatan mental.

Kisah Novia mengajarkan kita bahwa mimpi tak pernah benar-benar padam. Ia hanya menunggu untuk diperjuangkan kembali. Dengan keberaniannya, Novia menjelma jadi bukti bahwa keterbatasan bukan akhir, melainkan awal dari perjalanan yang bermakna. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE