Tren Anomali: Tontonan FYP Absurd Gen Alpha

Tren anomali
Share

digitalMamaID – Tahukah Mama tren anomali yang banyak ditonton anak-anak di YouTube dan TikTok? Mungkin Mama tidak langsung paham, apa itu yang disebut anomali. Tapi, Mama familiar bukan dengan Tung Tung Tung Sahur? Tren apa sih ini? Apa dampaknya pada anak-anak?

Setelah Skibidi Toilet, lagu Brainrot Sigma Boy, Ballerina Capucinna, Capucinno Asasino, kini ada Tung Tung Tung Sahur. Selain memiliki nama yang aneh, karakternya pun digambarkan secara absurd alias tidak jelas. Warganet menyebutnya dengan tren anomali.

Dikutip dari Detik, fenomena ini sebenarnya merupakan adaptasi lokal dan tren global bernama Italian . Konten ini lebih dulu populer di TikTok Internasional. Tren anomali ini hasil Artificial Intelligence (AI) yang mengkombinasikan elemen manusia atau hewan dengan obyek lainnya.

Tren anomali ini viral justru karena tampilannya yang tidak jelas. Karakter seperti monyet berwajah sedih di dalam pisang, gajah bertubuh kaktus dan bersandal, atau sapi bertubuh planet Saturnus yang menari di festival. Ditambah narasi suara AI berbahasa Italia (atau bahasa campuran yang aneh), tren ini semakin terasa tidak masuk akal.

Awal mulanya seorang pengguna TikTok bernama @eZburger401 mengunggah video yang menampilkan karakter utama bernama Tralalero Tralala. Wujud karakter itu seekor hiu yang mengenakan sepatu Nike. Meskipun akun @eZburger401 akhirnya di-banned, karakter ini mulai mendapatkan perhatian lebih luas. Terlebih saat video ini diunggah ulang oleh TikTokers lainnya.

Dampak tren anomali terhadap anak-anak

Tidak sedikit orang tua yang mengeluhkan tren anomali ini. Selain menimbulkan rasa takut pada anak karena cerita-cerita di belakangnya, konten-konten anomali seperti ini juga disinyalir dapat mengakibatkan brain rot.

Brain rot adalah kemerosotan yang diduga terjadi pada kondisi mental atau intelektual seseorang. Hal tersebut bisa terjadi akibat konsumsi berlebihan terhadap materi (terutama konten daring) yang dianggap dangkal atau remeh.

Influencer keluarga dan pengasuhan, Ikma Hanifah Restisari, dalam reel instagramnya, @ikmahr mendorong orang tua untuk stop menormalisasi konten anomali yang ditonton oleh anak-anak khususnya Gen Alpha.

Menurutnya, jika anak terus-menerus mengkonsumsi konten anomali, kemampuan berpikir kritis anak nantinya akan menurun, anak-anak jadi tidak paham lagi mana yang wajar dilihat dan mana yang tidak wajar dilihat, atau bisa numpuk di alam bawah sadar (gambar dan cerita aneh terus keingat) dan membuat anak berpikir dunia ini dipenuhi hal-hal yang demikian.

Kenapa Gen Alpha suka dengan tren anomali?

Dikutip dari Kol.id, Gen Alpha yang tumbuh di era digital dan terbiasa dengan media sosial, seperti TikTok, Youtube Shorts atau Instagram Reels, menonton konten anomali ini seperti mendapat ledakan dopamin instan.

Sebuah penelitian yang diterbitkan oleh Fronties in Human Neuroscience meneliti aktivitas otak pada individu yang kecanduan menonton video pendek. Hasilnya menunjukkan aktivitas tinggi di bagian otak bernama Orbitofrontal Cortex (OFC) yang berperan penting dalam pengambilan keputusan, rasa senang (reward), dan kontrol impulsif.

Kedua, Gen Alpha yang hidup di era digital, di mana mereka googling, gaming, scrolling, semuanya bisa dilakukan secara bersamaan (multitasking). Akibatnya, otak mereka mudah lelah karena terpapar terus menerus (cognitive fatigue). Nah, konten absurd seperti anomali brain rot memberi bentuk hiburan tanpa beban kognitif, di mana anak tidak perlu berpikir dan menggunakan logika.

Terakhir, karena preferensi humor yang berbeda. Sejak kecil, mereka sudah disuguhi berbagai bentuk hiburan, kartun lucu, joget viral. Akibatnya, konten yang umum terasa biasa aja. Maka, konten anomali brain rot yang absurd dan melawan logika menjadi angin segar bagi mereka.

Pentingnya pendampingan orang tua

Dilansir dari Tirto, psikolog remaja dan anak, Mutia Aprilia menekankan kepada orang tua untuk terus memberikan pendampingan kepada anak agar tidak terpapar bahaya dari konten anomali atau hal lain serupa saat menggunakan gawai.

“Ini yang perlu dipastikan, adalah anak-anak tidak terlalu banyak atau berlebihan mengonsumsi konten-konten yang bentuknya short video,” kata Mutia.

“Jadi orang tua menyeleksi dulu mana yang bisa ditonton, kalau dirasa si tontonan ini kurang sesuai dengan value keluarga atau lebih banyak jeleknya, jadi boleh saja untuk dilarang,” tambahnya.

Psikolog Klinis, Personal Growth, Shierlen Octavia dalam Kompas juga pernah mengingatkan, dari setiap konten yang dilihat, akan mempengaruhi cara anak bertindak dan memperlakukan orang lain. “Jika mereka melihat perilaku kekerasan dan terbiasa melihat tayangan aneh, sangat mungkin bagi mereka untuk melakukan tindakan yang aneh, menyimpang, dan tidak sesuai norma,” katanya.

“Tontonan demikian juga dapat meningkatkan kemungkinan anak mengalami masalah emosional, seperti timbulnya rasa cemas dan takut berlebihan sehingga dapat menghambat perkembangan mental emosional mereka,” sambungnya. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE

Bingung cara ajak anak diskusi soal bahaya online tanpa menghakimi? 

Dapatkan solusi anti-panik untuk mengatasi hoaks, cyberbullying, dan mengatur screen time dalam Panduan Smart Digital Parenting