WFH vs WFO, Mana yang Lebih Baik?

Ilustrasi work from home (WFH)

Perdebatan antara WFH (Work From Home) dan WFO (Work From Office) kembali ramai dibahas, setelah pandemi COVID-19 mulai melandai. Iya, kalau 2 tahun kemarin, kayaknya kantor yang masih keukeuh menerapkan WFO, padahal bukan pelayanan vital masyarakat, bakalan kena rujak netizen.

Sekarang, setelah semuanya berangsur-angsur normal, perusahaan yang udah “nyaman” menerapkan WFH, mulai mikir nih, “harus enggak sih balik lagi WFO?” Enggak cuma perusahaan yang bingung, karyawan juga ikutan pusing menimbang-nimbang, mana sebenarnya yang lebih baik antara WFH dan WFO. 

Untuk kenyamanan bersama, banyak perusahaan yang akhirnya menumpukan pilihan ke karyawan. Mereka dikasih kebebasan untuk kerja di mana aja, atau balik lagi ke kantor. 

Nah, sebelum Mama memutuskan, kita timbang-timbang dulu yuk, pro-cons antara WFH dan WFO!

WFH (Work From Home)

WFH jadi ngetren banget selama pandemi dua tahun ke belakang. Gimana enggak, ternyata dengan modal laptop dan internet aja, kita bisa tetep dapet cuan. 

QACraft pernah bikin riset tentang keinginan para pegawai setelah situasi mulai normal: Apakah mereka ingin balik lagi WFO atau tetep pengen WFH? 

Hasilnya, 72% responden tetap ingin WFH, 19% ingin Hybrid alias campuran antara WFH dan WFO, dan hanya 9% yang ingin WFO. 

Dari survey yang sama, sebanyak 66% merasa lebih produktif dengan WFH, 19% dengan kombinasi keduanya dan 16% merasa lebih produktif dengan WFO. 

Nah, katanya sih WFH lebih produktif, tapi sebanding enggak ya sama kekurangannya? 

Kelebihan WFH

  • Hemat ongkos

Salah satu keuntungan yang paling dirasakan dengan WFH pastinya lebih hemat karena enggak keluar duit buat transportasi. Iya dong, kan kita tinggal buka laptop dan kerja di rumah aja. 

Paling, Mama harus pasang akses Wi-Fi di rumah aja, karena kalau mengandalkan internet dari HP (tethering) takutnya sinyal enggak stabil. 

Nah, karena enggak harus bepergian, selain hemat ongkos, WFH juga bikin hemat waktu. Yang biasanya harus siap-siap dari jam 6 pagi supaya nyampe kantor jam 9, kalau WFH jam 8.50 baru siap-siap juga aman. 

Ini bikin kerja jadi semakin efektif kan, karena gak harus mikirin macet, ongkos pergi, kendaraan buat pulang, desek-desekan dan lain sebagainya. 

  • Work-life balance

Kita kadang lupa, kalau hidup enggak melulu tentang kerja aja. Hmm bentar, mungkin bukan lupa ya, tapi memang kebanyakan waktu biasanya dihabiskan di kantor, jadi kayak enggak punya kehidupan lain di luar kerjaan. 

Nah, dengan WFH, kita bisa punya keseimbangan antara kehidupan di luar kantor dan kerjaan. Iya dong, selesai kerja, Mama enggak perlu lagi menghabiskan waktu di jalan, bisa langsung ketemu anak-anak karena emang kerjanya di rumah. 

WFH juga memungkinkan kita untuk lebih pake jam kerja seefektif mungkin. Semisal, kita bisa ngebut ngerjain tugas sebelum 8 jam, yaudah kita bisa punya spare waktu lebih lagi untuk hidup kita yang lain. Kalau di kantor kan, bos belum pulang, mana berani kita pulang duluan? Hehe. 

  • Lebih produktif dan nambah skill

Dengan WFH, bukan enggak mungkin loh, kita punya kerjaan lebih dari satu. Kalau kita handal me-manage waktu, bisa banget mengerjakan 2 kerjaan sekaligus. 

Di kantor, walaupun kerjaan lagi senggang, kayaknya susah buat curi-curi ngerjain projek lain, karena takut ketahuan bos atau kolega. Tapi, kalau di rumah, kan bebas ya Mam. 

Nah, karena bisa “nyambi” tentunya kita juga bisa nambah skill yaitu management waktu. Apalagi, kalau kerjaan lainnya itu, cukup beda sama kerjaan utama, tambahan lagi tuh untuk portofolio. 

WFH juga mengharuskan kita buat jadi tech-savvy alias melek sama teknologi-teknologi yang mungkin sebelumnya enggak pernah disentuh. Kayak aplikasi zoom buat meeting, Google Docs buat kolaborasi bikin dokumen, sampai ke Notion untuk liat tugas atau jadwal. 

Kekurangan WFH

  • Banyak distraksi

Kerja dari rumah emang bisa “nyambi” ngerjain tugas rumah lain, tapi ini juga bisa jadi buah simalakama. Kalau enggak pandai-pandai ngatur waktu, perintilan-perintilan gini malah bisa jadi distraksi yang menghambat kerjaan.

Apalagi kalau distraksi ini datangnya dari anak, susah kan membagi pikiran untuk keduanya? Belum lagi, kalau sedang dihadapkan dengan deadline, sementara anak ngajak main atau bahkan lagi cranky

  • Kurang bonding dengan kolega

Karena enggak pernah ke kantor, jadi jarang juga ketemu sama temen-temen kantor. Emang sih, ada meeting per minggu, tapi kan meeting-nya pun online, dan biasanya cuma 1-2 jam. 

Interaksi yang minim dengan co-workers juga bisa bikin kurangnya bonding sama mereka. Ya kalau di meeting, kayaknya kita cenderung buat bahas langsung hal-hal yang penting aja, sedangkan bonding bisa didapat kalau kita tahu mereka dari hal-hal lain selain kerjaan. Inget, co-workers juga jadi salah satu penentu kita betah di kerjaan apa enggak. 

  • Pemicu stress

Kerja dari rumah memang memangkas banyak biaya juga tenaga, tapi kalau dalam periode yang panjang, bisa menimbulkan burnout. Apalagi buat Mama yang ekstrovert dan terbiasa berosialisasi setiap harinya. 

WFH juga bikin kita kehilangan kesempatan untuk menikmati dunia luar, bahkan saat di kemacetan, saat ngantre makan siang atau menatap hujan dari gedung tinggi. Momen-momen yang bikin kangen gini, bisa bikin Mama stress juga, loh! 

Riset dari University of Southern California Chan Division of Occupational Science and Occupational Therapy menyebutkan 74% responden yang WFH merasa kesehatan mentalnya terganggu. Kecemasan berlebih, depresi, burnout, jadi beberapa masalah mental yang disebutkan paling banyak. 

WFO (Work From Office)

Walau WFH jadi sangat populer selama pandemi, bekerja di kantor alias WFO juga masih jadi pilihan banyak orang. Mereka yang sudah merasakan susahnya WFH, memilih untuk balik lagi ke rutinitas kerjaan awal. 

Ini terbukti dari survei yang dirilis oleh Jakpat pada September 2022 tentang preferensi tempat kerja setelah pandemi. Sebanyak 44% responden memilih kembali lagi ke kantor alias WFO, 21% hybrid, 19% bekerja dari mana saja (WFA), dan hanya 15% yang ingin WFH. 

Responden yang memilih WFO disebutkan banyak yang berasal dari Generasi X atau millenial. Sedangkan Generasi Z lebih banyak memilih hybrid alias kombinasi antara WFH dan WFO. 

Nah, kenapa sih banyak banget yang pengen balik lagi ke kantor? Yuk, kita bahas!

Ilustrasi work from office (WFO)
Ilustrasi work from office (WFO)

Keuntungan WFO

  • Jam kerja yang pasti

Kebanyakan dari kita, bekerja 8 jam setiap hari, biasanya jam 9 pagi sampai jam 5 sore atau waktu shift tertentu. Nah, jam kerja jadi hal yang akan lebih disiplin diterapkan jika Mama WFO.

Jadwal kerja bisa jauh lebih panjang ketika bekerja dari rumah, karena biasanya banyak distraksi. Belum lagi, harus bisa ngatur waktu sendiri buat ngurusin kehidupan pribadi dan profesional Anda. 

Untuk alasan ini, bekerja di kantor punya jam kerja yang pasti, jadi pas pulang ke rumah, kita bisa beristirahat dengan nyaman sehingga tidak akan bekerja lebih lama dari yang diperlukan.

  • Komunikasi lebih gampang

Kita enggak bisa menampik bahwa enggak ada yang mengalahkan komunikasi face-to-face alias langsung. Walau aplikasi udah serba canggih, tapi tetep aja ada yang enggak bisa tersampaikan lewat sana. 

Nah, dengan WFO, kita bisa dengan gampang diskusi kerjaan sama peers ataupun atasan. Enggak perlu nunggu waktu meeting, atau nunggu chat dibales. 

Dengan begitu, bonding sama temen-temen juga akan lebih kuat. Ini juga jadi hal yang sangat menguntungkan apalagi kalau kalau kerjaan tim. 

  • Bye bye bosan!

Walau kantornya tetap di tempat yang sama, tapi dinamika di kantor biasanya beragam setiap harinya. Mulai dari perjalanan pergi dan pulang, keadaan di kantor, teman-teman hingga variasi makanan. 

Tentunya ini bikin kita enggak akan burnout karena bosan dengan hiruk-pikuk kantor setiap hari. Jangan lupa, dengan masuk kantor juga kita bisa ikutan event tertentu yang biasanya diadain kantor, ini juga bisa untuk refreshing

Kekurangan WFO 

  • Tidak fleksibel

Kalau Mama biasanya bisa ngerjain kerjaan sambil nyuapin anak, atau meeting sambil ngelonin anak tidur, mohon maaf nih, kalau di kantor enggak bisa ya. Kita udah enggak punya lagi kebebasan buat “nyambi” kayak WFH.

Ini juga termasuk kalau Mama punya kerjaan lain. Akan sangat sulit kalau harus nge-handle keduanya saat di kantor

  • Lebih capek fisik

WFO mungkin bisa lebih baik untuk kesehatan mental, tapi enggak buat fisik. Iya, dari mulai bangun harus lebih pagi, jalanan yang bikin lelah, atau aktivitas fisik lain saat di kantor. 

Belum lagi, kemungkinan tertular virus COVID-19 ataupun yang lainnya juga sangat besar. Jadi, kalau mau WFO emang harus siap banget fisik ya, Mam.

  • Kehilangan waktu untuk kehidupan di luar kantor

Emang sih, WFO jam kerjanya bisa lebih disiplin, tapi jangan lupakan perintilan lain kayak lembur, perjalanan pulang-pergi, belum lagi kalau ada acara bonding sama team. 

Nah yang kayak gitu bikin sebagian besar waktu kita udah habis setiap harinya buat urusan kantor. Pulang ke rumah pun biasanya anak udah tidur, besok pagi harus kerja lagi. 

Weekend juga kebanyakan dipakai untuk istirahat untuk recharge energi demi weekday selanjutnya. 

Jadi, mending yang mana? 

Mau WFH ataupun WFO, punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Yang pasti, sebelum memutuskan mau kerja yang mana, sesuaikan sama kebutuhan dan kemampuan Mama ya. 

Satu lagi yang harus diperhatikan, yaitu kesehatan fisik dan juga mental. Jika dirasa WFH ataupun WFO enggak worth it untuk keduanya, lebih baik dicoba opsi lain. 

Semangat mencari cuan, Mama!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *