Menciptakan Ruang Berkarya untuk Anak Down Syndrome

Share

digitalMamaID – Anak dengan down syndrome membutuhkan ruang berkarya agar bisa berdaya. Dengan pelatihan dan pembiasaan, daya kreativitas mereka bisa diasah. Mereka perlu diberi ruang untuk menunjukkan kemampuannya.

Dalam rangka memperingati Bulan Peduli Down Syndrome selama Oktober, ARTOTEL Suites Aquila berkolaborasi dengan Pusat Informasi dan Kegiatan-Persatuan Orang Tua Anak dengan Down Syndrome (PIK-POTADS) Jawa Barat menghadirkan ruang bagi anak-anak down syndrome untuk berekspresi melalui seni.

Kolaborasi ini diwujudkan melalui pameran 10 karya lukisan dan produk shibori hasil kreativitas anak-anak PIK-POTADS Jawa Barat yang berlangsung sepanjang Oktober 2026 di area lobi hotel.

Shibori merupakan teknik pewarnaan kain tradisional Jepang dengan proses melipat, mengikat, menjepit, memelintir, atau menjahit kain sebelum dicelupkan ke dalam pewarna. Proses tersebut menghasilkan pola yang unik dan tidak beraturan, sehingga setiap karya memiliki karakter dan cerita yang berbeda.

Menariknya, banyak anak dengan down syndrome mampu melakukan teknik shibori di bawah bimbingan dan pelatihan. Ini membuktikan, mereka juga bisa berekspresi. Mereka juga bisa mendapat keuntungan ketika karyanya sudah menjadi produk.

“Alhamdulillah sejak pameran dibuka sudah beberapa produk shibori hasil karya anak-anak yang laku terjual. Juga lukisan anak-anak, ada yang sudah bisa menjual karyanya. Ini langkah yang besar,” ujar Ketua POTADS Jawa Barat Mira Widiastuti saat ditemui dalam pembukaan pameran di ARTOTEL Suites Aquila, Senin, 5 Oktober 2026.

Menurutnya, melalui seni, mereka mendapatkan ruang untuk tampil, berekspresi, sekaligus menunjukkan kemampuan dan kreativitasnya. Di organisasi ini, anak-anak bisa mendapat pengarahan untuk setiap minat bakat yang disukai. Tak hanya melukis dan membuat shibori, ada juga peminatan pada perkusi (jimbe), menari, dan juga pelatihan keterampilan lain seperti barista.

“Kami berharap masyarakat luas, instansi, dan perusahaan menyadari keberadaan serta potensi anak-anak ini. Saat ini beberapa anak yang berlatih menjadi barista sudah bisa magang di beberapa coffeeshop. Ini sangat berarti karena memberikan ruang bagi mereka untuk berkarya dan berprestasi menjadi amat penting karena selama ini masih sangat terbatas,” tutur Mira.

General Manager ARTOTEL Suites Aquila, Anton Susanto mengatakan jika kolaborasi ini untuk memberikan ruang agar karya anak-anak Down Syndrome dapat dilihat dan diapresiasi lebih luas. Bukan hanya hasil akhirnya, tetapi juga keberanian, proses, dan kreativitas yang ada di balik setiap karya.

Sebagai brand yang mengapresiasi seni, ARTOTEL Group berkomitmen mendukung komunitas lokal dan melihat potensi di wilayah tempat mereka berbisnis. Anton menjelaskan, seni yang rutin digelar di sana bersifat personal dan inklusif, tidak terbatas pada seniman terkenal.

Kolaborasi bersama PIK-POTADS Jawa Barat ini menjadi bagian dari komitmen Anton untuk terus membuka ruang bagi seni, komunitas, dan keberagaman. “Kami akan bicarakan dengan stakeholder terutama di dunia perhotelan untuk ikut membuka ruang untuk mendukung pemberdayaan anak-anak down syndrome. Bahkan sebetulnya sudah ada aturannya dari Pemkot Bandung terkait dukungan kepada penyandang disabilitas. Mungkin ke depannya hotel kami bisa membuka kesempatan untuk magang dari anak-anak down syndrome yang memiliki  keterampilan yang kami butuhkan,” katanya.

Anton juga berharap dapat menampilkan bakat anak-anak, seperti melukis, fotografi, hingga tarian, terutama saat menyambut musim liburan agar para tamu dapat mengenal potensi mereka.

Wadah orangtua dari anak down syndrome agar tidak merasa sendiri

POTADS didirikan di Jakarta sebagai wadah berbagi pengalaman antar orangtua anak down syndrome. Saat ini, organisasi tersebut telah tersebar di 11 provinsi, termasuk Jawa Barat. Fokusnya untuk mendampingi keluarga dan melatih potensi anak-anak melalui berbagai kegiatan rutin mingguan yang berjalan sejak tahun 2019, seperti kelas memasak, barista , shibori, jimbe, menari, dan kelas bermain.

Rainy Mawarwati, salah seorang pionir POTADS Jawa Barat menuturkan, rasa cemas dan kebingungan sudah pasti dirasakan para orangtua yang baru mengetahui anaknya menyandang down syndrome. Pengalamannya 25 tahun lalu, ia cukup kesulitan mencari informasi merawat dan membersamai anak dengan down syndrome.

Ia tergerak mencari komunitas seperti ini setelah anaknya lahir dengan kelainan jantung, suatu kondisi yang dialami oleh 75% anak down syndrome. Setelahnya, perjalanan belum usai. Ia masih harus melakoni banyak sesi terapi agar anaknya memiliki tumbuh kembang optimal.

Keberadaan komunitas seperti POTADS membantu Rainy bersandar pada jangkar dengan situasi yang sama. Selain memberi dukungan emosional, komunitas ini juga menjadi tempat saling berbagi informasi terutama untuk mengembangkan minta dan bakat anak.

Keanggotaan POTADS sebenarnya tak hanya untuk orangtua, caregiver untuk penyandang down syndrom juga dapat bergabung. Contohnya anggota POTADS Jabar ada yang harus merawat adiknya yang menyandang down syndrome yang kini beerusia 56 tahun karena orangtuanya sudah tiada.

Pendampingan dan penemuan bakat anak down syndrome

Mengarahkan anak down syndrome membutuhkan sikap proaktif dari orangtua melalui metode trial and error karena anak-anak ini umumnya tidak memiliki inisiatif sendiri untuk memulai suatu aktivitas. “Orangtua dapat mengenali minat anak dari antusiasme dan kegembiraan yang mereka tunjukkan saat menjalani latihan. POTADS Jabar sendiri memprioritaskan pelatihan yang diminati banyak anak, seperti menari, latihan angklung, dan alat musik jimbe. Meskipun anak bisa menyukai beberapa hal, biasanya hanya ada satu bakat yang paling menonjol,” ujarnya.

Peran orangtua sangat besar di tahap ini. Berbeda dengan anak lainnya, penyandang down syndrome butuh waktu lebih lama untuk menemukan keterampilannya. Di sinilah dibutuhkan kerja bersama dan juga kesabaran mendampingi anak. Bahkan dari pengalaman Rainy, ia baru bisa mengarahkan bakat anaknya setelah usia SMA.

“Anak dengan down syndrome memang terlihat harus bekerja keras agar punya kemampuan yang sejajar dengan anak lainnya. Tapi di balik itu, ada usaha besar orangtua sebagai pendamping yang juga tak kalah penting dan tidak bisa disepelekan. Dan untuk itulah POTADS hadir sebagai wadah saling support kepada orangtua dan keluarga anak penyandang down syndrome,” kata Rainy.

Tantangan tumbuh kembang

Anak down syndrome lahir dengan kondisi hipotonus (otot lemah), sehingga membutuhkan stimulasi dan terapi intensif, bahkan untuk gerakan dasar seperti mengunyah, mengemut, menutup mulut, hingga berjalan. Proses terapi ini melibatkan berbagai ahli seperti dokter, psikolog, terapis, dan pedagog.

Lilis, anggota POTADS Jabar yang sudah bergabung sejak 13 tahun lalu mengisahkan peliknya merawat anak dengan down syndrome.

“Saya dulu bekerja. Sempat mengalami depresi dan penolakan saat anak kedua saya dinyatakan menyandang down syndrome. Yang saya rasakan itu, takut dia tidak mandiri di usia dewasa, dan mencemaskan masa depannya akan seperti apa,” tuturnya.

Lilis akhirnya memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya agar bisa mendampingi sang anak secara penuh. Namun seiring berjalannya waktu, ia menyadari, perkembangan anak down syndrome sebenarnya sama dengan anak-anak pada umumnya, hanya saja prosesnya lebih lambat.

“Ternyata mereka itu sangat pintar meniru apa yang dilihat. Contohnya, pada usia 3 tahun, anak saya, Aisyah, secara inisiatif mampu membawa dan menaruh piring kotornya sendiri setelah makan tanpa diajari, meskipun sebelumnya ia harus digendong ke mana-mana hingga usia 2 tahun karena belum bisa berjalan,” katanya.

Saat ini Aisyah sudah berusia 20 tahun dan sudah lulus SMA. Salah satu keterampilan Aisyah adalah menari. Ia membuktikan kebolehannya saat tampil membuka pameran. Belum lama ini, ia juga tengah mengikuti program magang di sebuah kafe di Jalan Pajajaran Kota Bandung.

Kepada para orangtua yang baru mengetahui anaknya menyandang down syndrome, Lilis berpesan, boleh untuk merasa takut dan cemas, tapi jangan berlarut-larut. Membersamai anak dengan down syndrome akan membuahkan hasil positif selama orangtua tidak berhenti mencari ilmunya. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE