Skor PISA Indonesia di Bawah Rata-Rata, Orangtua Perlu Mewaspadai Fenomena “Hasty Readers”

DJULI PAMUNGKAS/digitalMamaID Ilustrasi sekolah gratis
Share

digitalMamaID — Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) resmi merilis hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 pada 8 September 2026. Skor PISA Indonesia berada di bawah rata-rata negara OECD. Orangtua perlu mewaspadai fenomena hasty readers.

Ajang studi berskala internasional ini diikuti oleh 760 ribu siswa berusia 15 tahun dari seluruh dunia, tepatnya 91 negara. PISA merupakan program penilaian bagaimana dunia memotret sistem pendidikan global dan melihat kemampuan mereka, khususnya dalam bidang sains, matematika, membaca. Ditambah yang terbaru dalam bidang computational problem solving. Tujuannya untuk mempersiapkan siswa agar mampu berpikir kritis dalam merumuskan masalah dan menyelesaikannya.

Cina dan Singapura memimpin

Pada kompetensi sains, Cina memiliki skor PISA di atas rata-rata OEDC yakni mencapai 597. Urutan kedua ditempati Singapura dengan skor 560. Urutan selanjutnya Makau (451), Taiwan (540), Jepang (538), Estonia (527), Korea Selatan (526), Inggris (511), Kanada (510), dan Selandia Baru (509).

Pada kompetensi Matematika, Cina juga kembali memimpin dengan skor 612. Singapura kembali menduduki posisi kedua dengan skor 563. Kemudian disusul oleh Makau (549), Taiwan (546), Jepang (525), Korea Selatan (522),  Hongkong (522), Estonia (508), Swiss (499), dan Inggris (488).

Pada kompetensi membaca, Singapura memimpin secara global dengan skor 535. Cina berada di urutan kedua dengan skor 527, Taiwan (506), Jepang (503), Makau (501), Korea Selatan (501), Irlandia (500), Estonia (499), Selandia Baru (497) dan Inggris (494).

Secara global berdasarkan laporan PISA 2025 dari OECD, Cina dan Singapura sukses mendominasi sebagai negara terbaik yang memimpin di tiga bidang tersebut. Namun yang tidak kalah penting, temuan PISA 2025 juga mengonfirmasi adanya penurunan secara global dalam bidang membaca.

Krisis membaca global dan pengaruh AI

Laporan PISA 2025 menyebutkan, hampir seluruh siswa di negara-negara OECD pada tiga tahun terakhir mengalami penurunan tajam dalam bidang membaca. Menurut PISA, penurunan ini terjadi berkaitan dengan munculnya era kecerdasan buatan (AI). Setelah era AI, siswa kehilangan kemampuan mengevaluasi informasi, menghubungkan berbagai sumber, dan berpikir kritis.

Menurut PISA, 46 persen siswa di negara-negara OECD menggunakan chatbot AI setiap minggu atau lebih untuk membantu mereka belajar, termasuk untuk merangkum teks, melakukan riset awal, hingga membuat draf tugas menulis.

Selain penggunaan AI, fenomena membaca tergesa-gesa (hasty Readers) juga menjadi satu faktor lain. Menurut PISA, siswa yang membaca dengan terburu-buru tetapi tidak akurat, melonjak dua kali lipat menjadi 9 persen antara tahun 2018 hingga 2025.

Bagaimana skor PISA Indonesia?

Skor PISA Indonesia menunjukkan, dalam bidang sains dan membaca mengalami peningkatan bila dibandingkan PISA 2022 namun masih tertinggal dari beberapa negara tetangga di Asia. Pada bidang sains, Indonesia memperoleh skor 389, berada di peringkat 73 dari 91 negara. Pada bidang literasi atau membaca, mendapat skor 365 yang menempatkan Indonesia pada peringkat 74 dari 90 negara. Skor matematika berada pada peringkat 78 dari 90 negara dengan skor 364. Paada bidang computational problem solving, Indonesia mendapat skor 427 berada di peringkat 62 dari 85 negara.

Seluruh capaian tersebut masih berada di bawah rata-rata negara OECD. Apabila dibandingkan dengan negara-negara serumpunnya di kawasan ASEAN, Indonesia juga masih kalah. Posisi Indonesia secara konsisten masih berada di bawah negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand.

Mandeknya peningkatan performa ini memicu kritik dari berbagai pengamat dan masyarakat, terutama di tengah munculnya fenomena sosial yang kita ketahui bersama-sama, bahwa masih ada siswa tingkat menengah (SMP) di Indonesia seperti di Bali dan Jawa Barat yang dilaporkan belum lancar membaca. Jadi tidak heran apabila kemampuan literasi masyarakat Indonesia menurut PISA, sebanyak 73 persen masih berada di level 2.

Praktisi Pendidikan sekaligus Learning Product Manager Sekolah Murid Merdeka (SMM), Anggayudha Ananda Rasa menyebut, kondisi ini harus menjadi perhatian para orangtua. Level 2, kata dia, diartikan sebagai kemampuan membaca yang sangat dasar.

“Level 2 itu sesederhana kalau ada artikel yang bisa dibaca dalam 3 sampai 5 menit, mereka tidak tahu artikelnya membahas apa. Mereka hanya paham dengan informasi yang secara harfiah ada di tulisan. Kalau informasinya implisit, mereka tidak mengerti,” ujar Angga saat Instagram Live bersama pemengaruh Rahma Maryama bertajuk “PISA Score: Haruskah Orang Tua Khawatir?”

Fenomena “hasty readers

Angga melanjutkan, salah satu temuan menarik dari laporan PISA adalah performa membaca yang turun secara global dalam 10 tahun terakhir. Padahal yang menarik dari komponen membaca ini, kata dia, ternyata performa membaca pada anak akan mempengaruhi komponen sains dan matematika. “Jadi kalau kemampuan matematika anak rendah, coba cek jangan-jangan kemampuan membacanya juga belum mumpuni. Jadi intinya membaca itu sangat krusial,” kata dia.

Ternyata, temuannya adalah ada korelasi antara pengalaman anak membaca buku fisik dengan perkembangan kognitif lainnya. “Ada data yang mereka sebut hasty readers. Tipikal anak yang ketika diberi teks, membaca cepat dan menjawab cepat, tapi salah. Itu menunjukkan dia tidak bisa fokus lama-lama,” katanya

Fenomena hasty readers atau membaca yang tergesa-gesa adalah kondisi di mana seseorang membaca teks secara sangat cepat namun dengan tingkat akurasi dan pemanaham yang rendah. Data OECD menunjukkan tren yang mengkhawatirkan karena banyak pelajar yang dikategorikan sebagai hasty readers dan jumlahnya berkali lipat selama tahun 2018 hingga 2025.

Apa yang harus dilakukan orangtua?

Angga menyarankan dua langkah utama yang bisa dilakukan orangtua. Pertama, terlibat lebih aktif dalam pendidikan anak dan tidak sepenuhnya menggantungkan pada lembaga pendidikan, baik sekolah maupun bimbel. Kedua, melakukan upaya konkret di rumah dengan mengurangi screen time dan memperbanyak aktivitas literasi.

“Upaya kita bareng-bareng semua. Kurangi screen time, perbanyak aktivitas sama anak, banyak ngobrol, banyak diskusi, banyak dialog, ajak baca buku. Termasuk kita sebagai orangtua perlu lebih banyak membaca buku,” ujarnya.

Menurut Angga, dialog sederhana seperti anak bercerita lalu orangtua membalas dan mengajak bertanya, terbukti efektif meningkatkan pemahaman.

Dikutip dari website resmi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), menindaklanjuti hasil PISA 2025, pemerintah menetapkan empat pilar strategi utama. Pertama, penguatan kompetensi guru melalui pemenuhan kualifikasi akademik, Pendidikan Profesi Guru (PPG), serta penguatan kompetensi pedagogik dan digital termasuk koding dan kecerdasan artifisial.

Kedua, peningkatan kualitas pembelajaran melalui penerapan pembelajaran mendalam, digitalisasi pembelajaran, dan penguatan literasi-numerasi serta karakter murid.

Ketiga, harmonisasi kerangka Asesmen Nasional (AN) dan Tes Kemampuan Akademik (TKA) dengan kompetensi bernalar pada kerangka PISA.

Keempat, penguatan peran keluarga melalui Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH) dan penguatan kemitraan orang tua dalam pembelajaran mendalam.

Direktur Pendidikan dan Keterampilan OECD Andreas Schleicher mengapresiasi capaian Indonesia yang dinilai berhasil mengatasi tantangan yang masih dihadapi banyak negara, yaitu memperluas akses pendidikan tanpa mengorbankan kualitas. Data OECD menunjukkan, murid usia 15 tahun di Indonesia memiliki tingkat keingintahuan (curiosity) yang termasuk salah satu yang tertinggi, serta telah mengembangkan kemampuan belajar secara mandiri. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE