Tak Hanya Baby Blues, Kenali Postpartum Psychosis yang Bisa Mengancam Keselamatan Ibu dan Bayi

ilustrasi Postpartum psychosis
Share

digitalMamaID – Postpartum psychosis atau psikosis pascamelahirkan bukanlah kondisi baru dalam dunia medis. Namun, istilah ini kembali menjadi perhatian publik seiring persidangan Lindsay Clancy di Amerika Serikat yang membahas kondisi mentalnya saat melakukan pembunuhan terhadap tiga anaknya pada Januari 2023.

Dilansir dari AP News pada 26 Agustus 2026, dalam persidangan tersebut tim pembela berargumen bahwa Clancy mengalami postpartum psychosis dan kondisi tersebut memengaruhi kemampuannya dalam memahami tindakannya. Namun, ahli yang dihadirkan pihak jaksa memberikan penilaian berbeda dan mempertanyakan apakah Clancy memang mengalami psikosis akut ketika kejadian berlangsung. Perbedaan pendapat para ahli tersebut menjadi bagian penting dari proses hukum yang masih berjalan.

Terlepas dari perdebatan mengenai kondisi Clancy, postpartum psychosis sendiri merupakan kondisi medis yang memang dikenal dalam dunia psikiatri. Lantas, apa sebenarnya postpartum psychosis dan mengapa keluarga perlu mengenali tanda-tandanya?

Apa itu postpartum psychosis?

Royal College of Psychiatrists (RCPsych) menjelaskan, postpartum psychosis sebagai gangguan mental berat yang muncul secara tiba-tiba dalam beberapa hari atau minggu setelah melahirkan. Kondisi ini tergolong jarang, dialami sekitar 1 dari setiap 1.000 perempuan yang melahirkan, tetapi gejalanya dapat berubah dengan sangat cepat. Karena itu, postpartum psychosis dikategorikan sebagai psychiatric emergency atau kegawatdaruratan psikiatri yang membutuhkan pertolongan medis segera.

Berbeda dengan perubahan emosi yang umum terjadi setelah persalinan, postpartum psychosis dapat membuat ibu kehilangan kontak dengan realitas. Gejalanya dapat berupa perubahan mood yang sangat cepat, kebingungan berat, kegelisahan, kecemasan, mudah marah, perilaku yang berbeda dari biasanya, hingga perubahan aktivitas dan pola tidur.

Pada kondisi yang lebih berat, ibu dapat mengalami delusi dan halusinasi. Ia mungkin meyakini sesuatu yang sebenarnya tidak benar atau mendengar, melihat, merasakan, maupun mencium sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Gejala juga dapat berubah dari satu jam ke jam berikutnya atau dari satu hari ke hari berikutnya.

Yang perlu diketahui, kondisi ini tidak selalu terjadi pada ibu yang sebelumnya memiliki masalah kesehatan mental. RCPsych menyebut postpartum psychosis dapat muncul “out of the blue”, termasuk pada perempuan yang sebelumnya tidak pernah mengalami gangguan mental.

Lebih dari baby blues

Baby blues merupakan kondisi yang jauh lebih umum setelah melahirkan. Lebih dari separuh ibu baru dapat mengalaminya. Ibu mungkin menjadi lebih sensitif, mudah menangis, cemas, mudah tersinggung, atau mengalami perubahan suasana hati. Menurut RCPsych, baby blues biasanya mulai muncul sekitar tiga sampai empat hari setelah persalinan dan membaik dalam waktu sekitar 10 hari.

Sementara itu, postnatal depression atau depresi pascamelahirkan merupakan gangguan yang membutuhkan penanganan. Gejalanya dapat berupa suasana hati yang terus buruk, kehilangan energi, gangguan tidur dan nafsu makan, serta munculnya pikiran-pikiran negatif yang berlangsung lebih dari dua minggu.

Postpartum psychosis berbeda karena dapat melibatkan hilangnya kontak dengan realitas, terutama melalui delusi dan halusinasi. Karena itu, kondisi ini tidak sebaiknya dianggap sebagai bentuk baby blues yang lebih berat.

Postpartum psychosis dan kesehatan mental ibu di Indonesia

Persoalan kesehatan mental setelah melahirkan adalah masalah global yang kerap dihadapi oleh banyak ibu di dunia, termasuk di Indonesia.

Penelitian Universitas Gadjah Mada yang diterbitkan dalam Journal of Community Empowerment for Health pada 2020 meneliti kondisi ibu postpartum di wilayah Puskesmas Cangkringan dan Pakem, Yogyakarta. Peneliti menemukan blues depression pada ibu postpartum di kedua wilayah tersebut. Di Cangkringan, tercatat dua kasus yang terlambat mendapatkan penanganan hingga ibu yang hampir membunuh bayinya. Di wilayah Pakem, dua kasus mengalami postpartum depression akibat keterlambatan penanganan dan satu ibu mencoba bunuh diri.

Dari penelitian tersebut dijelaskan bahwa blues depression yang tidak ditangani dengan baik dapat berkembang menjadi postpartum depression, dengan postpartum psychosis disebut sebagai salah satu komplikasi terburuk. Karena itu, peneliti menekankan pentingnya deteksi dini dan penanganan masalah kesehatan mental ibu setelah melahirkan.

Apa yang perlu diwaspadai?

Keluarga sering kali menjadi pihak pertama yang menyadari adanya perubahan pada ibu. Menurut RCPsych, gejala postpartum psychosis dapat berubah dengan sangat cepat. Tanda yang perlu diperhatikan antara lain perubahan mood yang drastis, kebingungan berat, kegelisahan, perilaku yang tidak seperti biasanya, menjadi jauh lebih aktif atau banyak berbicara, sulit tidur atau bahkan tidak merasa membutuhkan tidur, serta menjadi sangat menarik diri.

Tanda lain yang lebih khas adalah paranoia, rasa takut atau curiga yang berlebihan, delusi, dan halusinasi. Seorang ibu juga mungkin tidak menyadari bahwa dirinya sedang sakit. Karena itu, pasangan, keluarga, atau teman dapat menjadi orang pertama yang menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

Jika tanda-tanda tersebut muncul, jangan menunggu sampai kondisi memburuk. Ibu dengan gejala postpartum psychosis disarankan untuk mendapatkan pemeriksaan secara segera ke rumah sakit.

Mengapa dukungan keluarga penting?

Kehadiran orang-orang terdekat sangat berperan dalam menjaga kesehatan mental ibu setelah melahirkan. Penelitian UGM tadi menjelaskan pentingnya dukungan sosial dan deteksi dini oleh bidan. Pelatihan yang diberikan kepada bidan dalam penelitian tersebut mencakup kemampuan mengenali blues depression serta memberikan dukungan sosial kepada ibu.

Dukungan dari orang-orang terdekat, termasuk suami dan tenaga kesehatan, dapat membuat ibu merasa diperhatikan, dihargai, dan tidak menghadapi masa postpartum seorang diri. Dukungan tersebut juga dapat membantu mengurangi rasa takut, cemas, dan stres yang menyertai masa setelah persalinan.

Karena itu, menjaga kesehatan mental ibu bukan hanya tanggung jawab ibu sendiri. Pasangan dan keluarga juga perlu memperhatikan perubahan perilaku, memastikan ibu mendapat cukup istirahat, serta membantu mencari pertolongan ketika muncul tanda-tanda yang mengkhawatirkan.

Mengalami gangguan mental setelah melahirkan bukan berarti seorang perempuan gagal menjadi ibu. Postpartum psychosis adalah kondisi medis serius yang membutuhkan penanganan. Semakin cepat tanda-tandanya dikenali, semakin cepat pula seorang ibu mendapatkan bantuan yang dibutuhkannya. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE