digitalMamaID – Siapa perempuan yang tidak bangga melilhat sesama perempuan lainnya yang cerdas dalam berpikir dan bertutur? Apalagi menyaksikan gambaran sosok perempuan-perempuan masa kini yang tercerahkan pola pikirnya oleh modernitas tetapi masih menjunjung isu pemberdayaan perempuan (women empowerment).
Kehadiran empat (awalnya lima, red) perempuan yang rutin membuat podcast In Her View/Pancatera dengan beragam isu tentang perempuan dianggap dobrakan positif untuk menyebarkan paham penguatan. Dikemas dengan menarik, elegan, minimalis dan tak jarang bercakap-cakap dengan bahasa asing, betulan menyemangati kaum perempuan tanah air yang masih hidup berdampingan dengan sistem kental patriarki.
Dan semua persona itu runtuh pada perayaan Hari Kemerdekaan RI 17 Agustus 2026. Sebagian warganet menilai unggahan keempat pembawa acara (host) podcast itu mencederai isu penguatan perempuan yang mereka usung.
Dengan terang benderang, mereka berfoto bersama kalangan elit dan kaum oligarki tanah air. Mereka secara sadar membagikannya di masing-masing akun pribadi sosial media.
Perilaku itu mengejutkan. Warganet gempar. Tudingan jika para host itu merapat ke kalangan elit, membuat kecewa penyimaknya yang sempat percaya jika mereka pelantang isu penguatan perempuan.
Pada 18 Agustus 2026, melalui unggahan di laman sosial media Instagram Pancatera, mereka menuliskan permohonan maaf kepada para ViewHers, sebutan akrab penyimak mereka. Dikatakan, jika podcast In Her View dan keberadaan Pancatera tidak terafiliasi manapun, termasuk pendanaan. Unggahan tersebut juga mengutarakan permintaan maaf mereka kepada khalayak atas keputusan yang telah diambil.
“Saya penonton setia In Her View sedari awal. Apalagi saya menaruh respect pada salah satu host-nya. Ini membuat saya menjadikan podcast tersebut sebagai benchmark tentang perempuan. Saat sedang beberes rumah, saya dengarkan podcast-nya. Saat di mobil juga begitu,” ujar Endah Asih, salah seorang penonton In Her View.
Tapi itu hanya awalnya. Hanya saja, seiring perjalanannya, ia yang juga ibu bekerja itu mulai merasa aneh dengan isi podcast tersebut. Semakin lama ia menilai penjelasan para host dan isu yang diangkat semakin tidak relate dengan perempuan kebanyakan.
“Rasanya setiap tema seperti di awang-awang, tidak menyentuh substansi. Tapi saya tetap dengarkan agar sekalian belajar Bahasa Inggris,” tuturnya.
Puncak kekecewaannya pada momen peringatan hari kemerdekaan itu. Berfoto dengan kalangan oligarki membuat Endah sadar jika sisi ‘In Her View’ para host ini ada di kelompok elit yang jauh dari kelompok sebagian besar perempuan Indonesia.
“Unggahan mereka di sosial media itu bagi saya sebuah bentuk tone deaf. Masa, sih, mereka tidak memikirkan akibat dari datang ke istana, terus foto bareng, dan di-posting! Setelah baca utas dari banyak aktivis perempuan seperti Kalis Mardiasih, saya sadar jika isu perempuan itu memang paling seksi untuk dijadikan komoditas. Apalagi untuk menyentuh keadilan sosial, membuat orang-orang notice tapi tanpa mengusik pemilik modal atau pemerintah. Jadinya semacam feminisasi merek,” ujar Endah.
Makna women empowerement
Hariati Sinaga dari Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia yang juga aktif di PhD Mama Indonesia menjelaskannya lebih rinci. Istilah women empowerment atau pemberdayaan perempuan pada dasarnya berangkat dari salah satu pendekatan gender dan pembangunan, yang berupaya untuk menghapuskan subordinasi perempuan.
Upaya ini pada dasarnya menyasar hal yang struktural, seperti kesetaraan akses ekonomi atau akses terhadap sumber daya. Istilah women empowerment juga sebenarnya bukan merujuk pada proyek, tetapi pada penguatan gerakan perempuan.
“Namun, dalam perjalanannya, istilah ini diadopsi dalam proyek-proyek yang sering kali menyederhanakan pemahaman akan pemberdayaan perempuan. Misalnya, justru memahami pemberdayaan perempuan sebagai persoalan individual, dan bukan persoalan struktural. Selain itu, istilah women empowerment kian menjadi buzzword, hingga seperti kehilangan artinya yang sebenarnya progresif,” ujarnya.
Menimbang reaksi publik
Membaca kasus hosts Podcast Pancatera yang berfoto bersama dengan anak Prabowo dengan istilah women empowerment, maka publlik bisa melihat dan memahami beberapa hal. Pertama, ini seperti mengkonfirmasi bahwa istilah women empowerment seperti kehilangan makna dan hanya sekadar buzzword.
“Women empowerment sebenarnya menyasar pada persoalan struktural yang menyebabkan diskriminasi dan subordinasi perempuan. Ini berarti merujuk pada kebijakan-kebijakan negara yang justru menyebabkan perempuan menjadi tidak berdaya,” katanya.
Melihat kondisi saat ini, negara melalui kebijakannya justru menyebabkan struktur yang tidak memberdayakan perempuan, maka para hosts podcast Pancatera sepertinya kurang memahami apa sebenarnya women empowerment itu.
Kedua, publik juga bisa mempertanyakan apakah hosts Pancatera menjadikan istilah women empowerment hanya sebagai komoditas atau buzzword yg menjual untuk menarik perhatian publik. Maka dari itu, kekecewaan publik menjadi wajar.
Publik masing-masing memiliki ekspektasi tertentu terhadap host dan podcast tersebut. Sehingga memnimbulkan reaksi publik yang berbeda-beda, mulai dari yang menerima dan menghargai kebebasan untuk berfoto sampai kepada meng-cancel host atau podcast tersebut.
“Terlepas dari reaksi yang berbeda-beda, yang perlu diingat adalah bagaimana sistem atau struktur juga berpengaruh dalam kasus ini. Struktur kompetisi dalam attention economy menyebabkan para pemengaruh menggunakan isu-isu tertentu, termasuk isu feminis atau women empowerment hanya sebagai komoditas untuk menarik perhadian. Ditambah istilah women empowerment yang semakin ke sini semakin kehilangan maknanya atau hanya sekadar jargon,” kata Hariati.
Dengan meng-cancel hosts atau podcast tersebut mungkin bagi sebagian orang adalah penting untuk menunjukkan sikap mereka. Tetapi kita masih tetap harus berhadapan persoalan struktural. Di sisi lain, reaksi publik yang menghargai kebebasan host Pancatera untuk memilih bisa jadi alarm kegagalan publik memahami women empowerment. [*]






