digitalMamaID — Dunia anak-anak sedang mengalami perubahan besar. Laporan The Common Sense Census: Media Use by Kids Zero to Eight tahun 2025 mengungkap, anak usia 0-8 tahun kini tidak hanya akrab dengan gim dan video pendek, tetapi juga mulai bersentuhan dengan kecerdasan buatan (AI). Sementara itu, kebiasaan membaca buku setiap hari justru menurun signifikan.
Laporan ini disusun oleh tim peneliti Common Sense Media: Supreet Mann, Angela Calvin, Amanda Lenhart, dan Michael B. Robb, berdasarkan survei daring terhadap 1.578 orang tua di Amerika Serikat pada Agustus 2024, dengan margin kesalahan ±2,9 persen.
Waktu layar stabil, pola konsumsi bergeser
Secara rata-rata, anak-anak usia dini menghabiskan 2 jam 27 menit per hari di depan layar. Angka ini relatif stabil dibanding 2020, namun pola pemanfaatannya mengalami pergeseran.
Menonton video masih mendominasi, mencakup 64 persen dari total waktu layar. Namun, waktu bermain gim naik tajam menjadi 38 menit per hari, meningkat 65 persen dari 23 menit pada 2020. Selain itu, konsumsi video pendek di platform seperti TikTok, YouTube Shorts, dan Instagram Reels muncul sebagai kebiasaan baru.
Hampir 48 persen anak pernah menonton video pendek, dengan rata-rata 14 menit per hari. Bahkan 18 persen anak menonton video pendek setiap hari. Angka ini melonjak drastis dibanding 2020, ketika konsumsi video berdurasi singkat hampir tidak tercatat.
“Konten singkat dan cepat memberi stimulasi yang kuat, tapi juga berisiko membuat anak lebih sulit berkonsentrasi pada aktivitas panjang seperti membaca atau belajar,” jelas peneliti literasi digital Amanda Lenhart dalam laporan itu.
AI hadir di ruang belajar anak
Untuk pertama kalinya, laporan ini mendokumentasikan penggunaan AI pada anak usia dini. Hampir 29 persen orang tua menyatakan anak mereka pernah menggunakan aplikasi berbasis AI untuk mengerjakan pelajaran sekolah, sementara 26 persen memanfaatkannya untuk latihan berpikir kritis.
Meski jumlahnya masih relatif kecil, tren ini dianggap sebagai sinyal bahwa AI akan semakin melekat pada pendidikan anak-anak di masa depan.
“AI bukan hanya teknologi masa depan, melainkan realitas masa kini yang mulai menyentuh anak usia sekolah dasar,” tulis laporan tersebut.
Ketimpangan digital semakin nyata
Laporan ini juga mengungkap kesenjangan signifikan dalam penggunaan media berdasarkan kondisi ekonomi keluarga. Anak-anak dari rumah tangga berpenghasilan rendah menghabiskan rata-rata 3 jam 48 menit per hari di depan layar. Angka itu hampir dua kali lipat dibanding anak-anak dari keluarga berpenghasilan tinggi yang hanya 1 jam 52 menit per hari.
Menurut tim peneliti, perbedaan ini mencerminkan keterbatasan akses ke kegiatan alternatif non-digital di rumah tangga berpenghasilan rendah. Dengan waktu orangtua yang sering tersita untuk bekerja, gawai akhirnya menjadi solusi praktis untuk menemani anak.
Dalam surat pengantar laporan, pendiri sekaligus CEO Common Sense Media James P. Steyer menyoroti fenomena baru satu dari lima keluarga kini menggunakan perangkat seluler untuk mendukung rutinitas sehari-hari anak. Mulai dari membantu tidur, menemani waktu makan, hingga menenangkan emosi ketika anak marah atau gelisah.
“Fenomena ini menegaskan bahwa perangkat digital bukan lagi sekadar hiburan, melainkan telah masuk ke fungsi pengasuhan. Ini membawa manfaat sekaligus risiko besar,” tulis Steyer.
Membaca buku kian terpinggirkan
Di tengah melonjaknya konsumsi layar, kebiasaan membaca buku justru menurun. Hanya 52 persen anak usia 5–8 tahun yang rutin membaca atau dibacakan buku setiap hari, turun drastis dari 64 persen pada 2017.
Penurunan ini dikhawatirkan melemahkan fondasi literasi sejak usia dini. Para pendidik mengingatkan bahwa membaca bukan hanya soal mengenal huruf, melainkan juga melatih daya imajinasi, kosakata, hingga kemampuan berpikir kritis yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh media digital.
Sikap orangtua terhadap media digital cenderung ambivalen. Tiga dari empat orangtua percaya teknologi dapat membantu anak belajar hal baru, memperluas minat, hingga menjaga hubungan dengan keluarga dan teman.
Namun, pada saat yang sama, 75 hingga 80 persen orang tua juga menyatakan kekhawatiran serius soal paparan konten tidak pantas, risiko kecanduan, serta dampak negatif terhadap kesehatan mental.
Orangtua juga menyoroti isu spesifik 69 persen khawatir soal citra tubuh, 65 persen tentang alkohol dan narkoba, serta lebih dari 50 persen mengenai stereotip ras dan gender. Kekhawatiran ini mencerminkan beban ganda, yaitu menjaga anak dari bahaya digital sekaligus memanfaatkan teknologi untuk pembelajaran.
Tantangan bagi masa depan
Temuan sensus ini menegaskan, era pengasuhan digital sudah tiba. Anak-anak semakin dini bersentuhan dengan gawai, video pendek, gim, bahkan AI, sementara kegiatan tradisional seperti membaca mulai terpinggirkan.
Kini bukan lagi apakah anak akan menggunakan teknologi, tetapi bagaimana orang tua, pendidik, dan pembuat kebijakan bisa memastikan teknologi dipakai secara sehat, seimbang, dan bermanfaat bagi tumbuh kembang generasi baru.
AI, video pendek, dan gim sudah menjadi bagian dari dunia anak, sementara membaca harian kian tergerus. Fenomena ini menjadi alarm bagi keluarga dan masyarakat luas: membesarkan anak di era digital membutuhkan strategi baru, bukan hanya aturan pembatasan, melainkan juga pendampingan aktif dan literasi digital yang kuat. [*]






