Lagi-lagi Anak Jadi Korban Konflik Orangtua

Ilustrasi kekerasan seksual anak TK
Share

digitalMamaID — Kasus bunuh diri seorang ibu bersama dua anaknya di Banjaran, Kabupaten Bandung, pekan lalu, menimbulkan keprihatinan mendalam. Himpitan ekonomi dan konflik keluarga diduga menjadi pemicu keputusan impulsif ini. Namun yang paling menyayat hati adalah lagi-lagi anak jadi korban.

Senior Director Advocacy, Campaign & Government Relation Save the Children Indonesia Tata Sudrajat, menilai peristiwa ini menunjukkan betapa rentannya posisi anak-anak dalam keluarga yang menghadapi tekanan ekonomi maupun berkonflik.

“Anak seringkali korbannya korban. Artinya, mereka seperti lapisan korban yang paling rentan karena semua stres yang dihadapi oleh orangtua, ayah dan ibu seringkali berujung pada anak,” ungkap Tata kepada digitalMama, Senin 9 September 2025.

Padahal menurutnya, anak-anak bukanlah sosok kecil yang tidak berdaya, melainkan manusia juga dengan hak-hak dasar yang melekat dan harus dipenuhi, mulai dari hak kelangsungan hidup, tumbuh kembang, hingga perlindungan dari kekerasan.

“Kalau misalnya anak sekolah, bukan karena anak harus sekolah tapi itu adalah memang hak anak untuk mendapatkan pendidikan dan ada tanggung jawab orangtua untuk menyekolahkan anak. Jadi bukan hanya soal sekadar menyekolahkan anak. Atau dibawa ke posyandu itu juga sama, ada hak anak untuk mendapatkan tumbuh kembang yang baik,” jelas Tata.

Agar anak tidak jadi korban

Save the Children memiliki tiga koridor penting sebagai upaya untuk anak-anak tidak menjadi korban. Pertama, penyadaran yaitu edukasi terhadap orangtua dan anak-anak tentang hak anak, hak perlindungan anak. Penyadaran ini menekankan pentingnya pola pengasuhan yang positif, tanpa kekerasan, serta perlu digencarkan secara berkelanjutan, baik melalui pertemuan langsung maupun media daring.

Kedua, pencegahan. Maksudnya, jika sudah ada tanda-tanda atau gejala masalah, harus segera diatasi. ”Sebenarnya kasus ibu di Bandung ini kan gejalanya sudah ada: terlilit utang, sudah mengeluh, tapi tidak ada yang merespons. Nah, itu sebenarnya sudah menjadi alarm,” ujar Tata.

Menurutnya, jika gejala seperti itu tidak segera ditangani, masalah bisa berkembang lebih jauh. Dalam kasus Bandung terbukti, ketika tidak ada dukungan dalam situasi sulit, akhirnya berujung pada hal yang tidak kita inginkan,” katanya.

Ketiga, upaya penanganan. Ini dilakukan ketika persoalan sudah benar-benar terjadi, misalnya anak tidak bisa sekolah, kebutuhan makan sudah tidak terjamin, atau bahkan muncul isu kekerasan fisik maupun seksual kepada anak. Situasi seperti ini tidak cukup hanya diatasi dengan penyadaran atau pencegahan, tapi harus ditangani secara serius.

“Save the Children mendorong itu semua dengan melahirkan sejumlah modul yang kami berikan kepada pemerintah untuk disebarluaskan. Modul ini mencakup upaya pencegahan maupun manajemen kasus,” tuturnya.

Intervensi pemerintah

Tata, menilai pemerintah perlu lebih memperkuat sistem perlindungan anak berbasis komunitas, misalnya lewat kader PKK, posyandu, atau RT/RW, agar lebih peka terhadap tanda-tanda bahaya. “Kalau ada anak menangis tidak berhenti, atau keluarga menunjukkan gejala tekanan berat, lingkungan sekitar seharusnya bisa responsif, bukan membiarkan,” katanya.

Jadi, bagaimana pemerintah bisa benar-benar mendorong respons yang lebih cepat dan tepat di masyarakat. Karena jika pemerintah pusat harus langsung menjangkau 30 atau 40 provinsi, tentu tidak memungkinkan. Yang lebih penting adalah bagaimana perangkat yang ada di daerah benar-benar digerakkan. Jadi, menurutnya, upaya ini memang harus dilakukan secara masif dan bersama-sama.

Lebih jauh, perlindungan anak menurut Tata, tidak bisa hanya dilihat dari sisi anak semata, melainkan dalam kesatuan keluarga. “Tidak ada anak yang menciptakan masalahnya sendiri. Sebagian besar justru anak menjadi korban dari situasi dalam keluarga. Karena itu, penting untuk meningkatkan penyadaran mengenai hak anak, perlindungan anak, dan pola pengasuhan yang baik. Pengetahuan ini perlu disebarluaskan, tidak hanya melalui program-program spesifik, tetapi juga melalui kader-kader di masyarakat. Bahkan, materi edukasi berbasis e-learning atau media sosial juga perlu dikembangkan agar lebih mudah diakses,” katanya.

Kemudian, dukungan berupa bantuan sosial juga sangat penting sebagai bagian dari perlindungan sosial, terutama bagi keluarga yang mulai menunjukkan tanda-tanda kerentanan. Misalnya, ketika anak tidak bersekolah dan masih banyak anak yang tidak melanjutkan ke jenjang SMP atau SMA kita perlu bertanya, mereka kemudian akan ke mana? Sering kali anak-anak yang putus sekolah akhirnya menjadi pekerja anak atau bahkan dikirim ke panti agar bisa melanjutkan pendidikan. Situasi seperti ini sebenarnya sudah merupakan tanda-tanda kerentanan, sehingga intervensi berupa bantuan sosial harus segera diberikan.

Ruang aman

Founder dan Psikolog Hipnoterapis Be Sha Counseling, Marsya Rezkita Dewi, M.Psi., Psikolog., CHt mengatakan, perempuan perlu menyadari apa yang terjadi di sekeliling kita bisa mempengaruhi kondisi diri sendiri. Hal ini sangat manusiawi karena sebagai manusia, perempuan bukan makhluk pasif yang hidup bersama dengan orang lain.

“Seringkali (perempuan) berpikir, apapun yang terjadi yang penting biar aku saja (yang memikulnya). Jika sudah seperti itu, bisa cerita ke orang lain. TIdak apa-apa cerita ke orang lain. Pastikan mental kita sehat, minta bantuan profesional,” katanya.

Sebetulnya saat ini di Puskesmas sudah tersedia layanan psikologi. Sayangnya, masyarakat enggan menggunakan layanan ini karena stigma. “Stigma ini yang harus dibereskan,” ujarnya.

Bantuan profesional, kata Marsya, penting karena orang yang sudah frustasi cenderung berpikiran sempit. Ditambah dengan beban sosial ekonomi yang berat. Sehingga seseorang bisa membuat keputusan yang keliru. “Sampai anak diputus masa depannya. Padahal, kita tidak tahu apakah anak bisa berjuang atau tidak,” katanya.

Sebagai bagian dari masyarakat, kita bisa menjadi ruang aman bagi lingkungan terdekat kita. “Sebagai tetangga misalnya, kita tidak bisa mencampuri urusan orang lain, tapi kita bisa saling cerita. Tawarkan diri menjadi ruang aman, bukan untuk menghakimi apalagi menyebar gosip,” tuturnya. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE

Bingung cara ajak anak diskusi soal bahaya online tanpa menghakimi? 

Dapatkan solusi anti-panik untuk mengatasi hoaks, cyberbullying, dan mengatur screen time dalam Panduan Smart Digital Parenting