Lonjakan Kasus Demam Berdarah, Kenali Ciri-Cirinya Sebelum Terlambat

Nyamuk penyebab demam berdarah dengue/Witsawat Sananrum/Getty Images
Share

digitalMamaID — Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia kembali meningkat di awal tahun 2025. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat sebanyak 6.050 kasus DBD terjadi di 235 kabupaten/kota di 23 provinsi di Indonesia dengan 28 kematian.

Lonjakan kasus tertinggi terjadi di wilayah DKI Jakarta. Menurut Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi DKI Jakarta, mencatat ada 1.416 kasus DBD di wilayah Jakarta. Sedangkan kota-kota lainnya Tangerang Selatan mencatat 233 kasus, Kota Bekasi 596 kasus, Bandung 453 kasus, Pacitan 258 kasus, Tanjungpinang 86 kasus.

Peningkatan kasus ini menjadi perhatian bersama karena DBD dapat menyerang kapan saja, terutama penghujan. Karena pada saat itu, kondisi lingkungan yang lembab dengan banyaknya genangan air, mendukung perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti, pembawa virus penyebab demam berdarah (DBD).

DBD sendiri merupakan salah satu penyakit infeksi, yang disebabkan oleh virus dengue, yang dibawa melalui perantara nyamuk Aedes Aegypti. Penyakit ini bisa menjadi lebih serius jika terlambat mendapatkan pertolongan, hingga berujung pada kematian.

Gejala awal

Dikutip dari laman Kemenkes, gejala awal DBD meliputi demam mendadak yang tinggi, mencapai suhu hingga 39-40 derajat Celcius. Demam ini berlangsung terus-menerus selama 2-7 hari.

Gejala lain yang mengikuti antara lain sakit kepala, menggigil, lemas, nyeri di belakang mata. Selain itu, nyeri otot, dan sendi, ruam merah pada kulit, mual dan muntah.

Jika telah masuk dalam tahap komplikasi DBD, muncul gejala seperti mimisan, gusi berdarah, perdarahan di bawah kulit, batuk darah. Selain itu muntah berwarna hitam, juga feses berwarna hitam, tekanan darah menurun, denyut nadi lemah, tubuh terasa dingin. Frekuensi buang air kecil menurun, sesak nafas, penurunan kesadaran. Gejala ini perlu diwaspadai karena menjadi tanda DBD sudah memasuki fase kritis yang dapat mengancam jiwa.

Pertolongan pertama

Dikutip dari Halodoc, berikut cara mengatasi DBD di rumah sambil menunggu pertolongan medis.

      • Istirahat yang cukup: Berikan waktu istirahat yang cukup agar tubuh bisa fokus melawan virus.
      • Minum banyak cairan: Berikan air putih, jus buah, atau oralit untuk mencegah dehidrasi.
      • Kompres air hangat: Kompres dahi dan ketiak dengan air hangat untuk membantu menurunkan demam.
      • Obat penurun panas: Jika demam sangat tinggi, berikan obat penurun panas yang aman seperti paracetamol sesuai dosis yang dianjurkan dokter.
      • Jangan berikan aspirin atau ibuprofen pada penderita DBD karena bisa meningkatkan risiko perdarahan.

Pencegahan

Ada beberapa langkah untuk mencegah DBD, seperti 3M yaitu menguras tempat penampungan air, menutup wadah-wadah penampungan air, mengubur barang-barang bekas. Selain itu upaya pencegahan bisa dilakukan dengan menjaga kebersihan rumah, menggunakan lotion obat nyamuk, melakukan penyemprotan nyamuk atau fogging, menggunakan kelambu saat tidur, menggunakan kawat nyamuk pada ventilasi rumah, dan mengenakan pakaian tertutup serta pakaian berwarna terang. Vaksinasi dengue juga dapat dilakukan pada anak-anak berusia 9-16 tahun.

Kapan harus ke dokter?

Jika ada anggota keluarga yang mengalami gejala DBD, seperti demam mencapai 40 derajat Celcius disertai dengan muncul bintik-bintik merah, nyeri perut yang hebat atau muntah, sesak napas, lemas, hingga pendarahan hebat, maka segera bawa ke dokter dan melakukan cek darah untuk memastikan diagnosis DBD.

Perlu diketahui, DBD adalah keadaan darurat medis yang mengancam jiwa, sehingga cara mengobati demam berdarah dengue ini perlu dilakukan dengan segera. Oleh karena itu, penting untuk mencegah kondisi ini dari awal dengan berbagai langkah, termasuk dengan melakukan vaksin DBD.

Vaksinasi merupakan salah satu strategi penting dalam pencegahan demam berdarah dengue. Karena dapat mencegah dan mengurangi risiko komplikasi serta kematian. Vaksin dengue atau DBD, merangsang respons kekebalan tubuh untuk mengenali dan melawan virus demam berdarah, sehingga mengurangi risiko infeksi dan keparahan gejala jika seseorang terpapar.

Lonjakan kasus DBD di dunia

Dilansir dari ECDC Europa, sejak awal tahun 2025 hingga Maret 2025, lebih dari 1,4 juta kasus DBD dan lebih dari 400 kematian telah dilaporkan dari 53 negara/wilayah di Kawasan WHO Amerika (PAHO), Asia Tenggara, dan Kawasan Pasifik Barat, di Kawasan WHO Mediterania Timur (EMRO), dan di Afrika.

Di daratan Eropa kasus telah dilaporkan dari wilayah terluar Uni Eropa. Di Madeira, dua kasus penularan lokal dilaporkan pada tanggal 18 Februari, dengan gejala timbul pada bulan Januari 2025. Pada minggu ketiga bulan Januari, penyelidikan entomologi mengkonfirmasi keberadaan virus dengue pada nyamuk yang ditangkap di Madeira.

Di Reunion, 33 kasus demam berdarah telah dilaporkan sejak awal tahun hingga 16 Maret 2025. Sementara di Wilayah PAHO, lebih dari satu juta kasus telah dilaporkan, 34 persen di antaranya telah dikonfirmasi di laboratorium.

Di Bangladesh, tercatat 1.493 kasus dan 14 kematian akibat demam berdarah. Di Nepal, terdapat 252 kasus, di India terdapat 707 kasus, di Laos 378 kasus, Vietnam 6.945 kasus, Singapura 785 kasus, di Tiongkok China 49 kasus, di Afghanistan (EMRO) 98 kasus. Kemudian di Afrika, lebih dari 3.600 kasus dan satu kematian telah dilaporkan dari Burkina Faso, Cabo Verde, Ghana, Mali, Senegal, dan Sudan.

Beban global

Dilansir dari laman WHO, kasus demam berdarah telah meningkat secara drastis di seluruh dunia dalam beberapa dekade terakhir, dengan kasus yang dilaporkan ke WHO meningkat dari 505.430 kasus pada tahun 2000 menjadi 5,2 juta pada tahun 2019.

Jumlah kasus demam berdarah tertinggi tercatat pada tahun 2023, yang mempengaruhi lebih dari 80 negara di semua wilayah WHO. Sejak awal tahun 2023, penularan yang terus berlanjut, dikombinasikan dengan lonjakan kasus demam berdarah yang tidak terduga, mengakibatkan rekor tertinggi lebih dari 6,5 juta kasus dan lebih dari 7300 kematian terkait demam berdarah dilaporkan.

Wilayah Amerika menurut WHO melaporkan 4,5 juta kasus, dengan 2.300 kematian. Jumlah kasus tertinggi dilaporkan di Asia: Bangladesh (321.000), Malaysia (111.400), Thailand (150.000), dan Vietnam (369.000).

Penyakit ini sekarang menjadi endemik di lebih dari 100 negara di Kawasan WHO di Afrika, Amerika, Mediterania Timur, Asia Tenggara, dan Pasifik Barat. Kawasan Amerika, Asia Tenggara, dan Pasifik Barat merupakan kawasan yang paling parah terkena dampaknya, dengan Asia mewakili sekitar 70 persen dari beban penyakit global. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE