digitalMamaID — Di tengah derasnya arus informasi, ancaman teknologi digital terhadap kelompok rentan seperti anak-anak dan remaja sudah semakin parah. Paparan konten berbahaya, vulgar, bullying, manipulatif, hingga eksploitasi digital menjadi keresahan bersama.
Kasus bom molotov di sebuah sekolah negeri beberapa waktu lalu menjadi bukti nyata, bagaimana tekanan psikologis perundungan dan paparan konten ekstrem bisa berdampak sangat serius pada remaja. Sedangkan kemampuan orangtua dalam memberikan pendampingan tidak selalu mulus.
PP Tunas hadir untuk menjawab kekhawatiran para orangtua, membatasi anak-anak dari mengakses konten-konten berbahaya, menjadikan ruang digital sebagai tempat bermain yang aman.
“Kami percaya bahwa melindungi anak bukan hanya tentang menjauhkan mereka dari risiko tapi juga membekali mereka agar mampu menghadapi dengan percaya diri dan aman digital,” kata Co-Founder dan Editor in Chief Magdalene, Devi Asmarani.
Anak kecanduan game
Banyak sekali dampak negatif yang terjadi pada anak-anak yang mengonsumsi internet secara berlebihan. Malas sekolah, malas belajar, mengabaikan tugas sekolah, prestasi menurun, putus sekolah, hingga terjerat pinjol.
Hal ini diungkapkan oleh Praktisi Pendidikan Dr. Noviyanti Elizabeth yang melihat fenomena dampak penggunaan internet dan gawai yang berlebihan sangat memengaruhi perkembangan kognitif anak-anak dan remaja.
Banyak pelajar yang tidak fokus di dalam kelas, mengantuk bahkan tertidur di sekolah ketika masih jam pelajaran. Setelah ditelisik, ternyata mereka menghabiskan waktu berjam-jam untuk scroll-scroll di media sosial atau bermain game sampai larut malam sehingga mengganggu jam tidurnya.
“Ketidakfokusan itu disebabkan tadi karena mereka bermain game online sampai pagi. Sekarang di kelas jam 8 sudah ada yang tertidur, Karena apa? Karena kecanduan game online, mabar dan sebagainya,” kata Novi dalam acara talkshow Bangun Ruang Digital Ramah Anak yang digelar Magdalene di Jakarta, Selasa, 10 Desember 2025.
Padahal kata dia, belajar membutuhkan konsentrasi dan kesiapan fisik yang baik. Ketika siswa kurang tidur akibatnya mengantuk, lemas, dan kemampuan menerima informasi pelajaran pun akan menurun.
“Mereka sulit untuk mengerjakan tugas, walaupun diberi tugas dikerjakan pada akhir-akhir deadline sehingga tugasnya pun dibuat secara terburu-buru hasilnya jadi tidak maksimal dan pastinya akan mengalami penurunan-penurunan penilaian akademiknya,” kata Novi.
Tekanan teman sebaya
Psikolog Anak dan Remaja, Gisella Tani menilai tekanan teman sebaya (peer pressure) seringkali mendorong remaja untuk menyesuaikan diri dengan norma, sikap, atau perilaku agar diakui oleh circle-nya. Misalnya ikut memainkan game yang sedang populer dan trending, atau mengikuti konten yang sedang ngetren dan banyak dibicarakan teman-temannya.
“Karena untuk anak pra remaja dan remaja ini penting banget diterima oleh teman sebayanya. Jadi kalau saya ketinggalan konten ini, saya merasa saya tidak ikut tren dan tidak di-include atau nggak diajak ngobrol, nggak dianggap oleh teman sebaya karena aku nggak ikut tren itu,” ujar Gisella.
Karena itu, lagi-lagi peran dan pendampingan orangtua benar-benar dibutuhkan oleh remaja. Orangtua harus membekali remaja dengan literasi digital yang baik. Jika tidak, remaja akan ikut tersulut oleh media sosial, oleh lingkungan pertemanan yang mungkin saja tidak sehat.
“Menjadi orangtua itu selalu menantang, apa yang dihadapi anak-anak kita itu sudah sangat jauh berbeda dengan apa yang orang tuanya alami di usia remaja dulu. Gaya pengasuhan yang dialami orang tua ketika menjadi anak-anak sebagian bisa diterapkan tapi sebagian besar ada yang harus kita adaptasi. Adaptasi artinya orang tua harus belajar lagi, bukan hanya tentang skill parenting bagaimana mengasuh anak tapi juga informasi apa yang sedang dihadapi anak,” terang Gisella.
Koneksi orangtua dan anak adalah pondasi awal literasi digital
Membangun pondasi literasi digital dengan anak tidak melulu orangtua harus lebih jago digital dari anaknya. Karena yang dibutuhkan anak adalah kehadiran orang tua yang mau mendengarkan bukan menasehati apalagi menghakimi.
“Anak-anak zaman sekarang itu bu tidak terlalu suka menerima nasehat, jadi kita dengarkan saja sampai akhir, jangan buru-buru ngeluarin dalil, nanti besok-besok anak kita nggak mau cerita lagi ke kita,” kata praktisi influencer gentle parenting, Halimah.
Menurut Halimah, untuk membangun kedekatan (bonding) dengan anak tidak harus dengan pergi jalan-jalan ke mall atau makan di resto. Sekedar olahraga bareng, masak bareng, atau ngobrol hal-hal kecil di meja makan pun bisa dilakukan. Sesuatu yang paling anak butuhkan adalah kehadiran penuh orangtuanya.
“Jadi nggak harus pergi ke tempat yang mahal-mahal, tapi yang benar-benar kita (orang tua) bisa hadir secara utuh, ngobrol ke anak-anak kita, misalnya tanya pendapatnya tentang bencana banjir yang terjadi di Sumatera, gali perspektifnya seperti apa. Cukup kita dengarkan dulu perasaannya, nanti akan terbuka ruang-ruang diskusi selanjutnya,” ungkap Halimah.
Jika koneksi dan bonding dengan anak sudah dibangun, orang tua akan lebih mudah untuk membuat aturan dan kesepakatan tentang batasan screen time, termasuk jika orangtua ingin melarang penggunaan bebas media sosial dan game yang memang belum cukup usianya. Misalnya tentang game Roblox yang banyak digandrungi anak-anak dan remaja, tapi karena tidak diperuntukkan bagi usia di bawah 13 tahun, Halimah melarang anaknya yang masih berusia 11 tahun mengunduh game Roblox.
“Saya bilang, ‘abang sedih? Abang ngerasa tertinggal ya? Engga papa Abang boleh merasa sedih wajar kok. Jadi kita izinkan perasaan itu untuk keluar, tapi kemudian kita isi dengan kegiatan-kegiatan lain,” ujar Halimah.
Halimah mengaku bersyukur hadirnya PP Tunas di tengah-tengah kekhawatiran para orang tua. Coba bayangkan kata dia, jika aturan dan larangan yang kita buat di rumah tidak didukung oleh pemerintah, maka tugas orang tua akan jauh lebih berat dan melelahkan.
Tunggu anak siap
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid secara tegas mengajak seluruh lapisan masyarakat, terutama orang tua, untuk mengadopsi prinsip “Tunggu Anak Siap” sebelum memperkenalkan anak pada dunia digital.
Ajakan itu disampaikan sebagai bagian dari komitmen pemerintah dalam mengimplementasikan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Perlindungan Anak di Ruang Digital atau yang dikenal sebagai PP Tunas.
“Pesan utama kami sederhana namun krusial: Tunggu anak siap, Tunas. Pastikan anak benar-benar siap, baik secara usia, kematangan mental dan adanya pendamping yang memadai sebelum mereka memasuki dunia digital,” ujar Meutya.
Menurutnya, memastikan anak-anak Indonesia aman terlindungi dan didampingi di ruang digital sangat penting karena ruang digital membawa banyak peluang tetapi juga ada risiko yang nyata yang mengintai, seperti paparan hoaks dan konten berbahaya.
Oleh karena itu PP Tunas hadir bukan untuk membatasi anak di ruang digital, melainkan sebagai wujud perlindungan negara pada masa depan anak-anak. Indonesia, bahkan mendorong PP Tunas agar menjadi acumen global demi menjaga dan melindungi anak di era digital.
“Kita tidak hanya menjaga anak-anak kita tapi juga ikut mendorong standar internasional agar teknologi lebih aman bagi anak-anak di dunia,” kata Meutya.
Meutya menekankan pentingnya kolaborasi untuk mewujudkan dan menyukseskan kampanye PP Tunas ini. “Perlindungan anak tidak bisa dikerjakan pemerintah sendiri, peran orang tua, guru, komunitas perempuan dan sekolah juga kunci. Kita harus bergerak bersama,” ujarnya. [*]






