Bolehkah mengunggah foto anak di media sosial?

Ketika anak sulung saya sedang asyik bermain bersama adiknya di rumah, saya mengambil foto mereka berdua dan berencana mengunggah foto kebersamaan mereka di Instagram. Melihat saya sibuk menggunakan handphone, anak saya bertanya apa yang sedang saya lakukan. Karena anak saya belum mengenal media sosial, saya jelaskan foto ini akan disimpan di internet dan bisa dilihat oleh teman-teman saya. Di luar dugaan ternyata anak saya keberatan, “Jangan dikirim ya Ma fotonya”, katanya.

Mungkin sudah puluhan kali saya mengunggah foto anak-anak saya ke media sosial sebelumnya, meskipun saya sudah mempertimbangkan sisi privacy dengan memastikan foto hanya di-share di lingkungan “teman” saja, namun saya tidak pernah mempertimbangkan untuk meminta izin pada anak untuk mengunggah foto mereka.

Orang tua memang senang sekali berbagi cerita mengenai anak, it’s human nature, dan keberadaan sosial media memudahkan dan mendorong orang tua untuk berbagi melalui tulisan maupun foto. Sisi positifnya tentu ada, berbagai cerita keseharian orang tua membesarkan anak dapat menjadi panutan maupun inspirasi bagi orang tua lainnya. Namun tentu saja selalu ada sisi negatif yang muncul dari penggunaan media sosial secara masif.

Ada dua hal yang perlu diketahui orang tua sebelum mengunggah foto anak di media sosial

Informasi yang diunggah ke internet sifatnya permanen

Meskipun kita dapat membersihkan atau menghapus akun media sosial kita, namun foto atau tulisan yang pernah kita unggah di internet sifatnya permanen, mudah sekali untuk mengunduh atau menyimpan screenshot-nya dan membagikannya melalui akun lain.

Informasi yang kita bagikan sebetulnya bukan milik kita, namun milik anak

Setiap kita mengunggah informasi mengenai anak ke media sosial, sebetulnya kita mulai membentuk digital footprint bagi anak kita yang akan terbawa hingga mereka dewasa lagi. Dengan mengetikkan nama saja di kolom search Google dengan mudahnya kita dapat menemukan informasi tentang seseorang. Semakin banyak paparan seseorang di media sosial, semakin banyak juga yang bisa digali atau diketahui publik.

Oleh karena itu orang tua perlu mempertimbangkan apakah informasi yang diunggah ini akan membawa hal negatif, bukan hanya sekarang namun juga di masa yang akan datang seiring mereka tumbuh dewasa. Orang tua juga perlu mempertimbangkan apakah anak akan menginginkan informasi ini menjadi bagian dari digital footprint mereka nantinya.

Contoh sederhananya, berbagi foto di media sosial mengenai potty training accident anak mungkin kita anggap hal biasa, namun mungkin saja ada anak yang dipermalukan oleh teman-temannya ketika remaja saat mereka mengetahui cerita tersebut. Atau ketika orang tua berbagi foto dan cerita mengenai anak yang sedang mendapatkan hukuman karena melanggar peraturan tertentu, apakah anak menginginkan cerita ini menjadi bagian dari digital footprint nya ketika ia dewasa nanti?

Secara garis besar, keputusan untuk mengunggah foto anak tentu menjadi hak orang tua, namun alangkah baiknya jika orang tua memiliki aturan atau kesepakatan bersama dalam keluarga mengenai apa saja yang boleh diunggah di media sosial. Libatkan anak yang sudah mulai bisa berdiskusi untuk membuat aturan ini, hal ini bisa menjadi kesempatan emas untuk mulai memperkenalkan pada anak konsep privasi dan keamanan di dunia digital.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *