peran ibu di era digital

Inilah 3 Peran Ibu di Era Digital yang Patut Mama Pahami!

Selamat datang di era digital!

Jika Mama lahir sebelum pertengahan tahun 90-an, Mama tentu menyadari perbedaan nyata antara masa kecil  kita dulu dengan masa kecil anak-anak kita sekarang. Dua dekade terakhir telah menjadi saksi perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang sangat pesat dalam berbagai bidang kehidupan. Hadirnya laptop, tablet, smartphone, internet, dan media sosial telah mengubah bagaimana kita bekerja, beraktivitas, dan berinteraksi dengan orang lain sehari-hari. Namun, sebagai seorang ibu zaman now, kita tidak punya pengalaman masa kecil dengan teknologi untuk diaplikasikan bagi anak-anak kita sekarang. Kita juga tidak menerima warisan ilmu dari generasi sebelumnya tentang bagaimana mengasuh anak di tengah gempuran teknologi dan informasi. Karena itu, kita tentu perlu menambah wawasan tentang peran ibu di era digital agar dapat menyediakan pengasuhan terbaik untuk masa depan anak-anak kelak. Setuju?

Kita perlu terlebih dahulu memaklumi, bahwa teknologi akan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan anak-anak kita. Baik di Indonesia maupun secara global, penetrasi teknologi digital terus meningkat setiap tahunnya. Jumlah pengguna internet di seluruh dunia pada tahun 2017 sudah mencapai 3.58 milyar berdasarkan situs Statista. Di Indonesia sendiri, penetrasi internet berdasarkan survey APJII telah mencapai 143.26 jiwa di tahun 2017. Bandingkan dengan satu dekade sebelumnya, ketika pengguna internet di Indonesia hanya 20 juta jiwa pada tahun 2007. Sungguh perkembangan yang luar biasa!

Survey yang dilakukan di berbagai negara juga menunjukkan bahwa semakin banyak anak-anak yang telah mengakses internet, bahkan memiliki gawai sejak dini. Di USA, hampir setengah (45%) responden dari sensus The Common Sense mengatakan bahwa anak-anak mereka yang berusia 0-8 tahun telah memiliki gawai pribadi. Di Australia,  lebih dari sepertiga (36%) anak usia dini sudah memiliki gawai sendiri, dan setengahnya (50%) seringkali menggunakan gawai tanpa pengawasan dari orang tua. Rasanya, di Indonesia angkanya juga tidak akan jauh berbeda, ya.

Fakta di atas menunjukkan bahwa banyak dari praktik orang tua  seputar penggunaan media dan teknologi bagi anak masih bertentangan dengan anjuran para ahli.  American Academy of Pediatrics (AAP) pada tahun 2016 yang lalu misalnya, telah mengeluarkan rekomendasi konsumsi media untuk mencegah dampak negatif yang dapat ditimbulkan oleh konsumsi media yang berlebihan. Salah satu  rekomendasi AAP adalah pembatasan konsumsi media sebanyak satu jam sehari bagi anak usia dini, yang tidak sesuai dengan fakta di lapangan yang menunjukkan bahwa anak mengkonsumsi rata-rata dua jam media setiap harinya.

Baca juga: Screen Time untuk Anak Usia Dini

Inilah salah satu contoh mengapa sebagai wanita kita perlu mempelajari peran ibu di era digital, yang kini telah hadir di depan mata dengan segala tantangan dan peluangnya. Seorang ibu tidak boleh lagi gagap teknologi dan buta literasi digital. Kita bertanggung jawab untuk mempersiapkan masa depan anak-anak kita sebaik mungkin, dan mempelajari metode pengasuhan di era digital adalah salah satu caranya.

Apa saja peran ibu di era digital? Mari simak di bawah ini!

1. Melindungi Anak dan Keluarga dari Dampak Negatif Media dan Teknologi

tantangan era digital

Satu hal yang perlu kita ingat, ada beberapa dampak negatif yang muncul karena maraknya teknologi dan derasnya arus informasi saat ini. Maraknya pornografi online seringkali melatarbelakangi berbagai kasus kejahatan seksual terhadap anak di bawah umur.  Bermunculan pula kasus terlambatnya tumbuh kembang anak serta gangguan fisik dan mental yang disebabkan oleh kecanduan gawai. Berita hoax beredar luas di berbagai media, tanpa diiringi dengan kemampuan masyarakat untuk mengevaluasi kabar yang diterimanya secara kritis. Keterbukaan informasi juga menyebabkan berkurangnya privasi dan keamanan diri dan keluarga, yang seringkali menimbulkan kekhawatiran tersendiri.

Orang tua yang tidak melek literasi digital secara tidak sengaja dapat memberi celah terjadinya berbagai hal yang tidak diinginkan. Saat ini masih banyak orang tua yang tidak paham resiko dari konsumsi media yang tanpa batas, baik dari segi durasi dan konten. Anak ditinggalkan begitu saja di depan layar gawai tanpa pengawasan. Akibatnya, banyak anak yang terpapar pada konten yang tidak sesuai usia seperti pornografi dan kekerasan. Banyak  pula yang berakhir dengan kecanduan.

Contoh lainnya, orang tua yang tidak memahami masalah keamanan berinternet mungkin saja akan membagikan informasi anak terlalu detail di media sosial tanpa batasan akses publik. Akibatnya, terbuka peluang terjadinya kejahatan oleh oknum yang memanfaatkan data-data pribadi anak kita untuk kepentingan mereka.

Baca juga : 3 Hal yang Tidak Boleh Dibagikan di Media Sosial

2. Mengarahkan Aktivitas Anak Berteknologi Secara Positif

peluang era digital

Di lain sisi, kita juga tidak dapat melupakan jutaan peluang dan kemudahan yang muncul karena perkembangan teknologi digital. Salah satu tugas kita sebagai orang tua adalah mengarahkan anak untuk beraktivitas positif dengan memanfaatkan bantuan teknologi.

Media sosial, aplikasi chatting, dan video call mampu mendekatkan keluarga, sahabat dan rekan yang terpisah oleh jarak secara fisik. Anak-anak dapat bergabung dengan komunitas online sesuai minat dan bakat untuk menumbuhkan sense of belonging dan kepercayaan diri. Banyaknya saluran edukasi online memberi kesempatan bagi semua orang untuk menimba ilmu dari siapa saja dan dari mana saja. Anak-anak kita memiliki kesempatan belajar yang sangat luas, sungguh sayang jika kita tidak mampu memanfaatkannya dengan maksimal. Teknologi digital juga dapat digunakan  untuk meningkatkan produktifitas dan efisiensi aktivitas sehari-hari. Anak yang lebih besar dapat belajar tentang manajemen waktu dan uang saku dengan memanfaatkan beragam aplikasi di gawainya. Anak-anak juga dapat kita arahkan untuk berkreasi menciptakan berbagai produk digital yang bernilai positif. Ajari mereka membuat infografis, vlog, ataupun blog untuk mengekspresikan diri dan menebarkan pesan kebaikan bagi orang lain.

3. Menjadi Panutan

Children have never been very good at listening to their elders, but they have never failed to imitate them – James Baldwin

Tak ada artinya ribuan ceramah dan peraturan dalam menggunakan media dan teknologi di rumah, jika Mama tidak memberikan teladan. Jika seorang ibu sering mengabaikan pertanyaan anaknya yang masih kecil karena sibuk sendiri dengan gawainya, menurut Mama apa yang akan dilakukan si anak dengan gawainya ketika ibunya menanyakan sesuatu padanya saat ia telah beranjak remaja?

Dalam tahun-tahun pertama hidupnya, anak akan menghabiskan lebih banyak waktunya di rumah. Di sinilah beragam kebiasaan hidup dibangun setahap demi setahap. Kebiasaan dalam  berteknologi adalah salah satu kebiasaan yang perlu dibangun dan ditanamkan pada anak secara bijak dan penuh kesadaran. Tujuannya tidak lain agar anak-anak kita  mampu menjadi pribadi yang bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi. Siapa lagi yang menjadi pedoman mereka di rumah, selain kita sebagai orang tuanya?

Baca juga: Literasi Digital, Siapkan Anak Menyongsong Era Digital Abad ke-21

Dengan atau tanpa Mama sadari, teknologi digital memang telah menjadi bagian yang penting dari kehidupan kita sehari-hari. Sebagai seorang wanita dengan berbagai perannya, cepat atau lambat kita akan dituntut untuk mengikuti perkembangan teknologi digital. Untuk apa saja? Untuk menjalankan aktivitas pribadi, urusan pekerjaan, manajemen rumah tangga, dan yang paling penting, untuk pendidikan anak-anak kita. Peran ibu di era digital seharusnya menjadi sesuatu hal yang wajib dipelajari setiap ibu masa kini.

Sudah siapkah Mama?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *