peran ibu dalam gerakan literasi keluarga

Peran Ibu dalam Gerakan Literasi Keluarga

Ibu adalah penggerak literasi keluarga

Sebagai guru pertama bagi anak-anak  dan manajer rumah tangga, seorang ibu punya peran besar untuk menumbuhkan budaya literasi dalam keluarga, lho. Bukankah Mama yang biasanya memilihkan buku untuk anak, mendampingi mereka bermain, hingga mengatur uang jajan? Banyak aktivitas di rumah yang sebetulnya dapat menjadi sarana belajar literasi bagi seluruh anggota keluarga.

Pentingnya aktivitas literasi dalam keluarga diakui dalam  Gerakan Literasi Nasional  (GLN) yang digiatkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) sejak tahun 2016 yang lalu. Gerakan ini bertujuan untuk menumbuhkan budaya literasi masyarakat Indonesia. Salah satu cabang GLN adalah Gerakan Literasi Keluarga (GLK) yang melibatkan orang tua sebagai penggerak utamanya.

Kini, gerakan literasi tidak lagi sekedar tentang memberantas buta huruf. Tujuan yang ingin dicapai dalam GLN adalah tumbuhnya budaya belajar sepanjang hayat bagi seluruh masyarakat Indonesia. Ya betul, belajar itu tidak hanya berlangsung di sekolah. Setelah menjadi ibu pun kita perlu terus meng-update ilmu kita, bukan? Mulai urusan parenting, manajemen keuangan keluarga, hingga urusan dapur, semua butuh ilmu yang perlu di-upgrade sepanjang waktu. Karena itu, menumbuhkan kecintaan anak terhadap proses belajar sepanjang hidupnya adalah PR bagi kita bersama.

Ada enam komponen literasi dasar yang ditetapkan dalam GLN: baca-tulis, numerasi, sains, digital, finansial, serta budaya dan kewargaan. Sebagai seorang ibu, kita memiliki peran besar dalam gerakan ini sesuai dengan kapasitas kita di ranah keluarga. Apa saja peran yang dapat Mama lakukan dalam Gerakan Literasi Keluarga untuk menumbuhkan semua komponen literasi dasar? Yuk, simak berikut ini! 

Literasi Baca-Tulis

literasi baca tulis

Mengapa banyak orang yang mudah termakan hoax saat ini?

Salah satunya adalah karena banyak orang yang hanya membaca judul tanpa membaca artikel, tidak bisa membedakan satir dengan fakta, juga tidak mampu memperluas jangkauan wawasan dengan membaca berbagai sumber berita. Mereka bisa membaca aksara, namun kerap gagal memahami esensi. Membaca hanya untuk kewajiban, belum menjadi budaya dan kegemaran.

Menulis pun demikian halnya. Di era internet saat ini, berapa banyak dari kita yang masih sering menulis lebih panjang dari sekedar status media sosial?

Menumbuhkan budaya membaca dan menulis memang merupakan pekerjaan besar bagi kita semua. Apa yang dapat kita lakukan sebagai orang tua untuk menumbuhkan literasi baca-tulis? 

Berikut adalah beberapa ide kegiatan yang dapat Mama lakukan di rumah bersama keluarga:

  • Rutin membacakan cerita untuk anak
  • Berdiskusi tentang buku, film, dan media massa dengan anggota keluarga
  • Bermain kata-kata seperti permainan Scrabble, teka-teki, atau permainan sambung-bisik
  • Menyediakan bahan bacaan yang bermutu di rumah
  • Mengagendakan ‘tamasya baca’ ke toko buku, rumah baca, atau perpustakaan
  • Menyediakan pojok baca yang nyaman di rumah
  • Mendorong anggota keluarga untuk menulis diary, kartu ucapan, atau surat untuk kerabat dan sahabat

Literasi Numerasi

literasi numerasi

“Kalau satu resep bisa menghasilkan 20 potong kue, berapa banyak terigu dan telur yang harus saya beli untuk jamuan arisan 35 orang sore nanti?”

Seseorang yang menguasai literasi numerasi tidak hanya pandai berhitung, melainkan juga mampu menggunakan matematika untuk memecahkan berbagai persoalan sehari-hari. Ia juga mampu memahami informasi matematis seperti tabel atau grafik, dan mampu menggunakannya sebagai pertimbangan untuk mengambil keputusan.

Ada banyak hal yang dapat Mama lakukan untuk menumbuhkan literasi numerasi pada anak-anak dalam kehidupan sehari-hari, antara lain:

  •  Menghitung dan mengukur benda-benda di sekitar rumah
  • Memasak bersama dan mengukur bahan makanan sesuai resep
  • Mengukur suhu badan dan ruangan dan membuat grafiknya
  • Memperhatikan jarak dan waktu tempuh saat bepergian
  • Mengajak anak berbelanja

Literasi Sains

literasi sains

Belajar sains itu tidak hanya mempelajari tentang alam semesta. Seseorang yang menguasai literasi sains diharapkan juga mampu memanfaatkan prinsip dan produk sains untuk beragam keperluan sehari-hari. Dalam lingkup keluarga yang Mama jalani sehari-hari, hal ini dapat berarti memilih produk pembersih dapur yang efektif namun ramah lingkungan, mengenali bentuk awan untuk memutuskan apakah hari ini akan hujan ataukah cucian bisa dijemur sekarang, juga menyusun menu sehat untuk keluarga. 

Kecintaan terhadap sains dan pola pikir saintifik dapat ditumbuhkan sejak dini pada anak. Mama dapat mereka melakukan beragam aktivitas sains sederhana di rumah, misalnya:

  • Bereksperimen dengan aneka bahan dapur
  • Mengamati tumbuhan dan binatang di kebun
  • Mengamati perubahan cuaca
  • Mengamati benda-benda langit

Literasi Digital

Anak belajar coding

Apakah seseorang yang mampu mengoperasikan laptop dan smartphone suda bisa dibilang melek literasi digital?

Ya, namun itu saja belum cukup!

Selain kemampuan operasional, seseorang juga harus menguasai cara menggunakan teknologi secara bijak. Hal ini termasuk etika bermedia sosial, pemahaman terhadap privasi dan keamanan, juga kesadaran untuk menggunakan gadget dengan postur, jarak pandang, dan durasi yang aman bagi kesehatan.

Peran seorang ibu juga penting dalam menumbuhkan literasi digital, karena di rumahlah seorang anak mengenal teknologi untuk pertama kalinya. Beberapa hal yang sebaiknya dilakukan di rumah adalah sebagai berikut:

  • Menyediakan perangkat teknologi
  • Menyeleksi konten sesuai usia
  • Membuat aturan keluarga seputar pemakaian gawai
  • Mendampingi anak memakai gawai
  • Membatasi pemakaian gawai di depan anak
  • Mengajarkan keamanan dan privasi
  • Menanamkan etika dunia maya

Literasi Finansial

literasi finansial

Keterampilan mengelola keuangan adalah salah satu kecakapan penting yang perlu diajarkan pada anak-anak sejak dini. Seorang individu yang melek literasi finansial akan mampu membuat keputusan keuangan yang lebih efektif. Jangan menunggu hingga seseorang berumah tangga baru belajar bagaimana mengatur keuangan. Bisa-bisa gaji habis duluan padahal baru tengah bulan. Gawat, kan!

Berikut ini beberapa prinsip menumbuhkan literasi finansial dalam keluarga yang dapat Mama terapkan di rumah:

  • Merencanakan keuangan keluarga
  • Membiasakan pola hidup hemat
  • Mengajarkan anak mengelola uang saku
  • Membiasakan menabung
  • Membiasakan bersedekah
  • Mendorong anggota keluarga berwirausaha
  • Bermain permainan finansial semacam Monopoli atau lainnya

Literasi Budaya dan Kewargaan

Literasi budaya berkaitan dengan sikap dan pemahaman seseorang terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa. Adapun literasi kewargaan berkaitan dengan pemahaman hak dan kewajiban sebagai warga negara. Anak tentu akan mempelajari kedua hal ini di sekolah. Namun, karena mereka menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah, orang tua berperan penting dalam menanamkan nilai-nilai budaya dan kewargaan agar dapat diresapi, menjadi kebiasaan sehari-hari, dan tak sekedar menjadi teori.

Kegiatan yang dapat kita lakukan untuk menumbuhkan literasi budaya dan kewargaan dalam keluarga antara lain sebagai berikut:

  • Membiasakan penggunaan bahasa daerah
  • Memajang karya seni tradisional sebagai hiasan rumah
  • Mengajarkan nilai budaya lokal dan nasional
  • Mendongeng cerita rakyat
  • Bermain permainan tradisional
  • Mengunjungi tempat wisata budaya dan sejarah

Nah, bagaimana Mama? Tak sulit bukan aktivitas-aktivitas yang dapat kita lakukan di rumah untuk menumbuhkan budaya literasi? Peran ibu dalam Gerakan Literasi Keluarga ini penting sekali, lho. Jika di sekolah anak mungkin belajar teori, di rumahlah mereka akan praktik dan menjadikan budaya literasi dan belajar sebagai kebiasaan sehari-hari. Mari sukseskan Gerakan Literasi Nasional, mulai dari dalam rumah, untuk Indonesia!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *