orang tua sibuk main gawai

Bahaya Orang Tua Sibuk Main Gawai

Dering telepon genggam berbunyi. Mama sedang berada dalam pembicaraan yang penting dengan anak. Siapakah yang Mama minta untuk menunggu? Anak yang ada di hadapan kita, ataukah penelepon yang jauh di sana?

Sebagai orang tua, seringkali kita memikirkan dengan sungguh-sungguh manajemen gawai bagi anak agar tumbuh kembang mereka tidak terganggu. Sayangnya, hal ini terkadang membuat kita lalai terhadap pemakaian gawai kita sendiri. Jangan-jangan, kita sibuk membatasi anak main gawai, tapi malah sering memakai gawai saat mendampingi anak. Meskipun hadir secara fisik, perhatian dan emosi orang tua dapat terbagi, bahkan teralihkan oleh gawai. Inilah yang disebut sebagai teknoferensi, yakni interupsi yang disebabkan oleh perangkat teknologi pada interaksi tatap muka antar manusia. Teknoferensi dapat menimbulkan berbagai dampak negatif pada anak-anak dan hubungannya dengan orang tua. Apa saja sebetulnya bahaya orang tua sibuk main gawai ketika mendampingi anak?

Terjadi kecelakaan yang tidak diinginkan

Asosiasi penjaga pantai di Jerman mengeluarkan peringatan bahwa banyak kasus anak yang tenggelam ketika berenang erat kaitannya dengan obsesi orang tua yang berlebihan terhadap gawai. Walaupun belum ada data statistik yang menunjang pernyataan ini, patut disadari bahwa resiko tenggelam dapat terjadi dalam sekejap mata. Orang tua yang terlalu asyik bermain dengan gawai akan lalai memperhatikan kondisi anak yang sedang berenang hingga dapat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Hal serupa juga dapat terjadi di tempat aktivitas anak yang lain seperti playground. Meskipun orang tua tentu tidak akan mampu mengawasi anak terus menerus layaknya seekor burung elang, bersikap hati-hati dan waspada diperlukan terutama ketika mendampingi anak usia dini.

Perilaku berbahaya lain yang juga seringkali dilakukan orang tua adalah menyetir kendaraan sambil menggunakan gawai, padahal anak juga ikut naik kendaraan tersebut. Sebuah studi dari Rumah Sakit Anak Philadelphia menunjukkan bahwa sekitar separuh orang tua yang disurvey berbicara di telepon ketika menyetir sambil membawa anak. Dalam studi tersebut, ada pula orang tua yang mengakui bahwa mereka membaca atau menulis teks, bahkan membuka media sosial ketika menyetir. Padahal, menggunakan gawai ketika menyetir sangat rawan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Tidak hanya membahayakan diri sendiri, orang tua juga membahayakan anak yang ikut bersama mereka.

Anak merasa tidak penting

Sebuah studi yang dilaksanakan secara global oleh AVG Technologies menemukan bahwa 54% dari anak-anak yang disurvey merasa orang tua mereka mengecek gawai terlalu sering. Hal ini seringkali terjadi dalam aktivitas yang dilakukan bersama-sama seperti menonton televisi, makan bersama, bermain di luar, bahkan dalam percakapan. Akibatnya, banyak anak yang merasa bahwa diri mereka tidak penting dibandingkan apa yang dilihat oleh orang tua di gawai mereka.

Teladan yang salah

Gawai memang mengandung berbagai faktor yang mampu menyebabkan kecanduan. Sulit mengharapkan anak secara tiba-tiba mampu mengontrol dirinya untuk menggunakan gawai secukupnya saja, jika kita sendiri malah asyik bermain gawai di hadapan mereka.

Di zaman teknologi ini anak-anak mulai menggunakan gawai di usia yang semakin dini. Karena itu, sangat penting bagi orang tua untuk membangun kebiasaan baik berteknologi di rumah sejak anak mulai diperbolehkan menggunakan perangkat teknologi. Anak-anak banyak belajar dengan cara menirukan. Apa yang biasa mereka lihat, itulah yang mereka jadikan standar perilaku yang normal. Jika kita ingin anak-anak kita tidak bermain gawai terlalu sering, tentu kita perlu mengontrol diri kita sendiri terlebih dahulu di hadapan mereka.

Anak berulah, orang tua makin stres

Peneliti Brandon McDaniel dan Jenny Radesky dalam studinya tentang perilaku anggota keluarga pada saat makan bersama menunjukkan bahwa anak-anak cenderung lebih sering berulah di meja makan ketika orang tua menggunakan gawainya untuk mencari perhatian. Di lain sisi, orang tua yang menggunakan gawai juga cenderung merespon tingkah laku anak secara lebih keras. Mereka tidak sensitif menanggapi permintaan anak, memberi perintah tanpa benar-benar memandang anak,  juga mengeluarkan kata-kata yang lebih tajam dari biasanya ketika anak melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan.

Dalam studi jangka panjangnya, kedua peneliti ini menemukan adanya siklus perilaku antara orang tua dan anak. Anak yang berulah menyebabkan orang tua menjadi stres sehingga menjadikan gawai sebagai pelariannya. Ketika melihat orang tua menggunakan gawai, anak pun ingin merebut kembali perhatian orang tuanya. Anak melakukannya dengan cara membuat ulah lagi. Akibatnya, siklus ini pun terulang kembali.

Perkembangan bahasa terganggu

Dalam artikel yang dilansir The Atlantic baru-baru ini, psikolog Kathy Hirsh-Pasek menyatakan bahwa komunikasi yang terjalin antara anak usia dini dan pengasuhnya sangat menentukan perkembangan bahasa anak. Dua faktor komunikasi ikut berpengaruh: kuantitas banyaknya percakapan, juga sensitivitas orang tua dalam menanggapi komunikasi anak. Alih-alih belajar kata per kata,  ‘duet percakapan‘ yang mengalir antara anak dan orang tua adalah kunci bagi anak untuk menguasai bahasa.

Apa yang terjadi ketika perhatian orang tua terinterupsi?

Dalam sebuah studi lanjutan, sejumlah orang tua diminta mengajarkan beberapa kosa kata kepada anaknya yang berusia dua tahun. Anak-anak yang orang tuanya terinterupsi oleh dering telepon dalam proses belajar ternyata gagal memahami kosa kata yang sedang dipelajari. Hal ini menunjukkan bahwa interupsi yang terjadi dalam interaksi sosial ternyata berpengaruh pada proses belajar bahasa anak.

Siapa yang sekarang ini seringkali bersalah menginterupsi interaksi antara orang tua dan anak? 

Gawai kita dengan rentetan notifikasinyalah jawabannya.

Anak-anak usia dini tidak dapat belajar jika kita memutus alur percakapan dengan melihat telepon genggam atau teks yang tampil di layar kita,

demikian penjelasan Hirsh-Pasek.

Membangun interaksi sehat di era gawai

interaksi orang tua anak

Memang tidak mudah mengontrol pemakaian gawai jika kita sudah terlanjur terbiasa menggunakannya tanpa batasan. Tapi, menimbang berbagai resiko di atas, sebagai orang tua kita memang perlu lebih berhati-hati dan bijak menggunakan teknologi. Interaksi sosial yang sehat antara orang tua dan anak sangat penting bagi tumbuh kembang mereka. Berikut beberapa tips yang dapat Mama terapkan di dalam keluarga:

  • Sediakan waktu khusus untuk bermain dengan anak setiap harinya. Menurut Radesky, bermain bersama bagaikan membuka jendela menuju pikiran anak. Jika Mama seorang ibu bekerja, cobalah luangkan waktu barang 30 menit sebelum atau sesudah bekerja, khusus hanya untuk bermain bersama. Siapa tahu, waktu yang singkat ini menjadi waktu yang paling dinanti anak setiap harinya!
  • Fokuskan perhatian kita pada anak ketika sedang menghabiskan waktu bersamanya. Matikan televisi, singkirkan gawai, dan sejenak berhenti memikirkan berbagai kewajiban yang masih harus kita lakukan di hari itu. Jadilah pendamping yang hadir seutuhnya, baik jiwa maupun raga. Walau tak lama, niscaya anak akan merasakan kedekatan yang istimewa.
  • Matikan berbagai notifikasi aplikasi yang kurang penting di gawai agar kita tidak tergoda membukanya terus menerus. 
  • Jadwalkan unplugged time – waktu tanpa layar elektronik bersama keluarga. Misalnya, sekali-sekali kita dapat pergi tamasya tanpa membawa smartphone dan perangkat elektronik lainnya, atau menjadwalkan satu hari sebulan ketika semua gawai wajib disimpan di dalam lemari. 

Masa kanak-kanak sesungguhnya tidaklah panjang. Tanpa terasa, sebentar lagi mereka akan mulai bersekolah, menghabiskan lebih banyak waktu bersama teman-teman mereka, dan akhirnya meninggalkan rumah. Ketika orang tua sibuk main gawai, seringkali anak harus berkompetisi dengan gawai untuk mendapatkan waktu dan perhatian kita. Siapakah yang sesungguhnya lebih layak untuk menjadi pemenang? Mari manfaatkan sedikit waktu yang masih kita miliki untuk menjalin ikatan yang lebih erat dengan anak-anak kita. Karena dalam situasi apa pun, anak-anak kitalah yang seharusnya menjadi pemenangnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *