Membaca Lateral untuk Mengevaluasi Situs Internet

Ketika sedang mencari informasi di internet, seringkali kita mendarat di suatu situs yang belum kita ketahui reputasinya. Apakah informasi dari situs ini akurat? Haruskah saya mempercayainya? Sebagian besar orang akan mencoba menilai reputasi sebuah situs internet dengan menggali lebih dalam situs tersebut, membuka link-link di dalamnya, dan membaca halaman demi halamannya. Ternyata, ini bukanlah cara yang paling efektif untuk melakukan penilaian. Membaca lateral sebuah situs adalah teknik yang lebih disarankan. Inilah cara yang umumnya digunakan oleh para pemeriksa fakta profesional untuk menilai apakah suatu situs internet layak dipercaya atau tidak. Seperti apakah cara membaca lateral? Yuk, kita simak penjelasannya berikut ini.

Mengapa kita perlu membaca lateral?

Di era digital ini, kita seakan sedang menghadapi tsunami informasi dari internet. Semua orang dapat menulis dan mempublikasikan apa saja di internet dengan relatif mudah, murah, dan minim konsekuensi. Akibatnya, internet menjadi bagaikan sebuah rimba raya informasi yang mampu menyesatkan pembaca awam. Informasi yang benar dan terpercaya bercampur baur dengan informasi yang salah dan menyesatkan. Jika kita menemukan sebuah situs internet yang belum diketahui reputasinya, apa yang dapat dilakukan untuk memeriksa apakah situs tersebut dapat dipercaya?

Dalam beberapa tahun terakhir, telah lahir beberapa checklist yang dapat membantu seseorang mengidentifikasi apakah suatu situs layak untuk dipercaya dan diikuti informasinya. The CRAAP Test adalah salah satu diantara checklist tersebut. Tes ini mengarahkan pembaca untuk menggali situs lebih dalam untuk memeriksa kebaruan (currency), relevansi (relevance), pembuat konten (authority), akurasi (accuracy), juga tujuan informasi tersebut ditulis (purpose). Checklist semacam ini banyak diajarkan dalam pelajaran literasi media dan informasi di berbagai institusi pendidikan.

Sayangnya, tes semacam ini memiliki kelemahan. Sebuah studi yang dilakukan oleh Prof. Sam Wineburg dan rekan dari Stanford University mempelajari bagaimana ribuan pelajar hingga mahasiswa mengevaluasi informasi yang mereka baca online. Hasilnya ternyata cukup mengecewakan. Mayoritas responden tidak dapat membedakan berita dengan iklan (sponsored post). Banyak pula yang lebih memilih informasi dari sebuah organisasi yang kurang jelas afiliasinya daripada dari sumber organisasi resmi, karena websitenya terlihat lebih profesional.

Mengapa begitu banyak responden yang terkecoh?

Memeriksa reputasi situs seringkali dilakukan dengan checklist
Memeriksa reputasi situs seringkali dilakukan dengan checklist

Yang dilakukan oleh kebanyakan responden ini adalah menelusuri situs untuk memeriksa apakah ia memenuhi checklist seperti yang telah disebutkan di atas. Sayangnya, pembuat konten saat ini telah belajar untuk menyajikan situsnya sedemikian rupa sehingga terlihat dapat dipercaya. Seorang pembaca awam yang menemukan logo yang profesional, layout situs yang rapi dan menarik, penjelasan tentang organisasi pemilik situs, bahasa yang resmi, serta beberapa referensi dari jurnal, akan dengan mudah percaya bahwa situs tersebut layak dijadikan acuan. Menginvestigasi suatu situs secara vertikal (menggali lebih dalam), dengan makin banyaknya pembuat konten yang ahli menyulap tampilan situsnya, menjadi pendekatan yang boleh dibilang naif di era informasi saat ini.

Studi dari Stanford University di atas kemudian membandingkan apa yang dilakukan oleh para pemeriksa fakta (fact checkers) profesional ketika menghadapi situs yang tidak mereka kenal. Ternyata, mereka menghabiskan sedikit waktu saja pada situs yang sedang diinvestigasi dan justru lebih banyak memeriksa sumber lain tentang situs tersebut. Hasilnya, para pemeriksa fakta ini mampu menilai reputasi sebuah situs dengan lebih akurat dalam waktu yang lebih singkat. Yang dilakukan oleh pemeriksa fakta ini adalah membaca lateral, dan kita perlu lebih banyak belajar dari mereka untuk dapat mengarungi era informasi ini dengan lebih bijak dan selamat.

Baca juga: Literasi Media, Kenali 5 Prinsip Menjadi Konsumen Aktif

Apa itu membaca lateral?

Secara sederhana, membaca lateral dapat didefinisikan sebagai strategi untuk menginvestigasi reputasi situs yang tidak dikenal dengan cara membaca apa yang dikatakan sumber lain mengenai situs tersebut. Adapun membaca vertikal dilakukan dengan menggali situs yang sedang diinvestigasi lebih dalam, misalnya dengan membaca halaman ‘About Us’ atau ‘Tentang Kami’. Kekurangan membaca vertikal adalah apabila situs tersebut sesungguhnya tidak dapat dipercaya, maka apa yang ditulis di dalamnya, termasuk pada halaman ‘Tentang Kami’, juga tidak akan dapat dipercaya. Pembaca lateral menghindari hal ini dengan melakukan cross-checking mengenai situs tersebut dari sumber lain sebagai pihak ketiga.

Apa yang dilakukan oleh para pemeriksa fakta profesional? Ketika menemukan situs yang tidak familiar, alih-alih menghabiskan waktu untuk membaca halaman demi halaman di situs tersebut (membaca vertikal), mereka mereka membuka tab baru di browser dan menggunakan Google untuk mencari tahu reputasi situs tersebut dari sumber-sumber yang lain (membaca lateral). Mereka paham bahwa apa yang tertulis di halaman ‘Tentang Kami’ atau ‘About’ tidak selalu dapat dipercaya. Mereka juga tidak selalu mempercayai ranking Google di hasil pencarian. Sebagian besar orang akan berhenti membaca di halaman pertama hasil pencarian Google. Para pemeriksa fakta akan melihat halaman hasil pencarian berikutnya dan mencari sumber yang lebih meyakinkan.

Istilah lateral digunakan karena cara paling efektif untuk membaca lateral adalah membuka beberapa tab sekaligus pada browser yang berjajar pada sumbu lateral (horisontal), alih-alih membuka jendela (window) baru yang menyebabkan apa yang dibaca menjadi bertumpuk-tumpuk.

Membuka beberapa tab di browser untuk membaca lateral
Membuka beberapa tab di browser untuk membaca lateral

Setelah memahami bagaimana reputasi sebuah situs dari sumber yang lain, barulah pembaca lateral akan kembali dan membaca artikel di situs tersebut dengan pemahaman tentang latar belakang dan tujuan pembuat situs. Hal ini  membuat mereka lebih bijak dalam menyikapi informasi yang sedang mereka baca.

Bagaimana cara membaca lateral?

Prof. Wineburg menyatakan dalam kesimpulan studinya, ada tiga prinsip yang perlu dilakukan untuk memeriksa reputasi sebuah situs yang tidak dikenal.

1. Menentukan orientasi

Menentukan orientasi arah sebelum mulai membaca lateral
Menentukan orientasi arah

Langkah awal yang perlu dilakukan ketika mendarat di suatu situs adalah menentukan orientasi, ada di manakah kita sekarang?

Dalam tulisannya mengenai membaca lateral, Prof. Wineburg menggunakan istilah ‘take bearings‘. Istilah ini biasanya digunakan bagi para penjelajah yang sedang berusaha menentukan posisinya sekarang, baik dengan membaca peta, kompas, maupun penanda alam.

Dalam konteks browsing di internet, ketika kita menemukan suatu informasi di sebuah situs, kita perlu menentukan dulu, apakah situs ini adalah sebuah situs yang dapat dipercaya? Jika ya, maka kita dapat dengan tenang melanjutkan membaca informasi di situs tersebut. Jika tidak, sebaiknya kita meninggalkannya. Namun, bagaimana jika situs ini baru bagi kita dan kita tidak tahu apakah ia dapat dipercaya atau tidak?

Maka langkah yang perlu kita lakukan adalah dengan singkat mencari tahu di situs tersebut, siapa pemilik dan pembuat kontennya. Informasi ini dapat kita temukan dari logo, alamat situs, juga halaman ‘Tentang Kami’ yang umumnya menyebutkan tentang pemilik dan pengelola situs. Yang perlu kita ingat, kita cukup mencari informasi ini sekilas saja, karena jika terus menggali maka kita akan berakhir menjadi pembaca vertikal. Setelah mendapatkan informasi singkat yang kita butuhkan, saatnya memulai membaca lateral.

2. Membaca lateral

Membaca lateral dilakukan dengan cara membuka tab-tab baru di browser kita. Tergantung pada jenis sumber informasi yang ingin kita selidiki, ada beberapa alat bantu yang  dapat kita gunakan untuk memeriksa reputasi suatu situs. Berikut beberapa hal yang dapat kita lakukan ketika membaca lateral berdasarkan buku Web Literacy for Student Fact-Checker karya Mike Caulfield.

Mencari tahu otoritas situs dari Google

Cara termudah untuk mempelajari suatu situs adalah dengan mencari tahu tentang situs tersebut di Google. Jika kita langsung memasukkan kata kunci “xyz.com” pada kolom pencarian Google, maka hasil pencarian yang muncul paling atas adalah halaman-halaman dari situs xyz.com itu sendiri. Karena kita ingin tahu pendapat pihak ketiga dan bukan apa yang dikatakan oleh situs itu sendiri tentang dirinya, gunakan sintaks berikut untuk menghilangkan xyz.com dari hasil pencarian:

xyz.com -site:xyz.com

Maka, Google akan menampilkan apa yang dikatakan sumber-sumber lain mengenai situs xyz.com. Hal yang sama dapat kita lakukan untuk mencari nama organisasi atau pembuat konten situs tersebut.

Menggunakan WHOIS untuk mencari pemilik domain

Terkadang, sebuah situs tidak mencantumkan dengan jelas siapa pihak yang ada di belakangnya. WHOIS adalah sebuah protokol untuk mencari tahu siapa yang teregistrasi sebagai pemilik suatu domain. Berikut salah satu contoh penggunaan WHOIS dari situs ICANN untuk mencari administrator Facebook. Kita dapat menggunakan protokol ini untuk mengetahui siapa yang mendaftarkan sebuah situs.

Mencari tahu administrator Facebook dengan ICANN WHOIS
Mencari tahu administrator Facebook dengan ICANN WHOIS

Menyelidiki impact factor jurnal ilmiah

Terkadang, informasi yang kita temukan berasal dari sebuah jurnal ilmiah. Saat ini, ada banyak jurnal yang kurang selektif dalam menerbitkan artikel. Bahkan beberapa diantaranya akan menerbitkan apa saja asalkan penulisnya memberikan sejumlah bayaran. Meskipun memiliki kekurangan, salah satu alat ukur yang dapat kita gunakan untuk mengevaluasi reputasi suatu jurnal adalah impact factor. Semakin tinggi impact factor suatu jurnal, semakin berpengaruh jurnal tersebut di kalangan akademik.

Kita dapat menggunakan Google untuk mencari impact factor suatu jurnal.

Impact factor jurnal Nature
Jurnal ‘Nature’, salah satu jurnal dengan reputasi terbaik di dunia, memiliki impact factor yang tinggi

Perlu dicatat, artikel dalam jurnal dengan impact factor rendah tidak selalu lebih buruk daripada yang dimuat dalam jurnal dengan impact factor tinggi. Hal ini terutama terjadi untuk bidang-bidang yang sangat spesifik, yang artikelnya hanya beredar di kalangan tertentu sehingga pengaruhnya (impact) tidak tinggi. Namun, impact factor dapat membantu kita untuk secara kasar menilai reputasi jurnal ilmiah yang kita temukan.

Menyelidiki keahlian penulis artikel

Tidak semua penulis artikel berasal dari kalangan akademik. Kalangan profesional pun bisa memiliki keahlian yang mendalam tentang suatu bidang berdasarkan pengalamannya. Namun, jika penulis yang ingin kita selidiki berasal dari kalangan akademik, kita dapat menggunakan Google Scholar untuk mengetahui sejarah publikasinya, yang merupakan salah satu indikasi keahliannya dalam bidang yang ia tulis.

Contoh hasil pencarian akademisi dengan Google Scholar
Contoh hasil pencarian akademisi dengan Google Scholar

Dalam contoh di atas, Prof. Sam Wineburg yang studinya kita kutip sebelumnya memiliki afiliasi yang terverifikasi dengan Stanford University. Ia memiliki sejarah publikasi ilmiah di bidangnya, dan artikelnya cukup banyak dikutip dalam publikasi yang lain. Hal-hal ini dapat menjadi pertimbangan penting untuk menilai keahlian seseorang dalam suatu bidang.

3. Tidak sembarang klik

Click restraints akan mencegah kita tersesat dalam spiral informasi tanpa kendali
Click restraints akan mencegah kita tersesat dalam spiral informasi tanpa kendali

Prinsip ketiga yang disebutkan Prof. Wineburg adalah ‘click restraints‘. Ketika kita sedang melakukan aktivitas browsing di internet, sangat mudah bagi kita untuk mengklik begitu banyak link yang tersedia. Dalam studi di atas, para pemeriksa fakta profesional terlihat menahan diri dari sembarang mengklik link. Ketika melakukan pencarian dengan Google, mereka tidak serta merta membuka hasil pencarian yang teratas. Mereka seringkali membaca sekilas  terlebih dahulu hasil-hasil pencarian di halaman pertama, bahkan terkadang juga membuka halaman kedua atau ketiga untuk memilih link mana yang lebih meyakinkan untuk diklik lebih lanjut.

Perlu kita pahami bersama, informasi yang muncul sebagai hasil teratas pencarian tidak selalu yang paling dapat dipercaya. Seringkali,  pembuat kontennya begitu ahli memanfaatkan teknik-teknik SEO (search engine optimization) yang dapat melejitkan tulisannya ke ranking teratas. Akibatnya, tulisan yang sesungguhnya lebih terpercaya dan dibuat oleh ahli di bidangnya, terlempar keluar dari halaman pertama hasil pencarian. Padahal, pembaca awam seringkali enggan untuk membuka halaman-halaman selain halaman pertama.

Sebelum mengklik hasil pencarian, para pemeriksa fakta memeriksa dulu setiap URL dan deskripsi singkat tulisan (snippets) untuk menilai apakah link tersebut layak ditindaklanjuti. Mengklik sebuah link seringkali membawa kita menuruni sebuah spiral tak terkendali jika kita terus mengikuti link-link yang ditampilkan di dalamnya. Click restraints akan mencegah hal ini terjadi.

Membaca Lebih Sedikit, Belajar Lebih Banyak

Kemampuan membaca dengan mendalam dan teliti memang merupakan keterampilan penting yang perlu dikuasai setiap orang. Namun, ketika membaca informasi di internet dari sumber yang belum diketahui reputasinya, membaca secara mendalam dapat menjadi aktivitas buang waktu belaka. Sebelum membaca lebih jauh, kita perlu membiasakan diri untuk membaca lateral sumber informasi yang ingin kita baca terlebih dahulu. Setelah itu, barulah kita dapat memutuskan apakah kita perlu melanjutkan bacaan kita atau tidak, dengan pemahaman lebih baik tentang sumber informasi di hadapan kita.

Selamat membaca!

Baca juga: Literasi Digital, Siapkan Anak Menyongsong Era Digital

1 Komentar

  1. Wah saya baru tahu kalau kegiatan menelisik lebih detail ini namanya membaca lateral. Kebetulan dunia pekerjaan saya mengharuskan saya mencari berbagai jurnal yang terpercaya dengan kualitas isi yang valid. Maka berpedomanlah kita pada si impact factor, indeks scopus, dan lain sebagainya itu. Tapi lagi-lagi ternyata itu tidak cukup. Karena tetap kita sebagai pembaca memerlukan keahlian untuk “membaca” atau memahami apa yang kita baca. Yang jelas selama ini yang saya pegang adalah jangan hanya percaya pada satu sumber saja. Carilah yang lain untuk menambah informasi apa yang kita baca tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *