Menemani Anak Usia Sekolah dan Remaja Menggunakan Media

Berapa jam dalam sehari anak-anak di rumah menatap layar?

Di zaman sekarang, mencoba memisahkan anak dari layar, baik itu televisi, smartphone ataupun tablet terkadang membuat kita sebagai orang tua harus putar otak dulu ya, Mama. Media dalam berbagai bentuknya memang telah menjadi bagian dari kehidupan anak-anak kita sehari-hari. Terlalu membatasi anak dari paparan media dapat menghilangkan kesempatannya untuk belajar, namun terlalu membebaskan anak malah dapat menimbulkan berbagai resiko, mulai kesehatan hingga keamanan. Apa yang seharusnya kita lakukan orang tua untuk menyikapinya?

Beberapa waktu yang lalu, digitalMamaID telah membahas rekomendasi American Academy of Pediatrics (AAP) tentang penggunaan media bagi anak-anak berusia di bawah lima tahun. Sesuai bidang keahlian mereka, rekomendasi AAP disusun dengan memperhatikan kesehatan anak, baik dari segi fisik maupin mental. Bagaimana dengan anak-anak yang lebih tua? Mari kita simak bersama, rekomendasi AAP untuk anak sekolah dan remaja.

Media di Sekitar Kita

Mama tentu masih ingat, di zaman kita masih remaja, media yang akrab bagi kita hanyalah televisi dan radio. Sekarang zaman telah berubah. Apa saja media yang umum bagi anak sekolah dan remaja masa kini?

  • Televisi. Kini, jumlah saluran TV semakin banyak dan layanan TV kabel semakin meluas. Tayangan TV kini juga banyak yang dapat dinikmati melalui internet. Meskipun remaja sekarang lebih sering online daripada menonton TV, media ini masih menjadi salah satu sumber utama tontonan anak-anak kita.
  • Smartphone dan tablet. Semakin banyak anak yang memiliki akses terhadap gadget, baik milik orang tuanya maupun miliknya sendiri,  yang dapat digunakan untuk mengakses internet dan menggunakan apps untuk berbagai keperluan.
  • Media sosial. Survey APJII pada tahun 2016 menunjukkan bahwa media sosial adalah konten yang paling sering diakses di internet. Adapun media sosial yang paling populer di Indonesia adalah Facebook, Instagram, dan Youtube.
  • Video games. Sejak adanya smartphone, anak dengan mudah dapat bermain game di mana saja ia berada. Namun, rental dan warnet yang menyediakan fasilitas game juga masih menjamur dan seringkali menjadi tempat nongkrong anak-anak usia sekolah.

Pengaruh Media pada Anak

Kini bukan saatnya lagi orang tua membiarkan anak bebas menggunakan media tanpa pengawasan. Penggunaan media yang berlebihan dan tidak terfilter diketahui dapat menimbulkan beberapa dampak negatif pada anak, diantaranya:

  • Obesitas – Tidak hanya berkurangnya aktivitas fisik yang dapat menyebabkan obesitas pada anak. Jangan lupa, anak-anak kita umumnya mengenal junk food dan beragam jajanan tinggi kalori dari iklan yang mereka tonton di media.
  • Waktu tidur terganggu –  Anak umumnya membutuhkan tidur sebanyak 8-12 jam sehari bergantung usianya. Penggunaan media yang berlebihan terutama sebelum tidur mempengaruhi level hormon melatonin yang dapat menyebabkan gangguan waktu tidur mereka.
  • Kecanduan – Internet dan game jika digunakan tanpa kontrol dapat menimbulkan kecanduan pada anak. Selain sulit meninggalkan aktivitas tersebut, pengguna yang kecanduan biasanya akan menarik diri dan tidak peduli pada aktivitas dan hubungan sosial di dunia nyata.
  • Gelisah dan depresi – Remaja seringkali membutuhkan pengakuan diri dan media sosial menjadi salah satu sumber pencariannya. Kegelisahan dapat terjadi ketika ia selalu mengharapkan jumlah like, follow atau tag di akunnya bertambah dan depresi terjadi jika ia merasa dikucilkan atau mengalami cyberbullying.
  • Terpapar perilaku negatif – Anak yang sedang mencari jati dirinya seringkali mencari rujukan dari media karena ingin menjadi keren, populer, atau berbeda. Mama perlu mewaspadai media yang menayangkan konsumsi rokok, alkohol, hingga narkoba, kekerasan, perilaku seksual, juga penyebaran paham-paham ekstrim.
  • Predator online – Salah satu kejahatan di dunia maya yang menyasar anak-anak adalah adanya predator online yang berusaha memanfaatkan kepolosan dan ketidaktahuan anak untuk kepentingan pribadinya.

Khawatirkah Mama membaca hal-hal di atas?

Khawatir memang perlu, namun kita perlu bersikap bijak dalam menyikapi media. Bagaimanapun juga, anak-anak kita kini hidup di era digital. Menguasai literasi media, informasi dan teknologi merupakan bekal yang penting bagi masa depan mereka. Media juga menghasilkan pengaruh positif bagi anak-anak kita, di antaranya:

  • menambah wawasan anak akan ide-ide dan informasi baru,
  • meningkatkan kepedulian anak terhadap peristiwa dan isu-isu di luar lingkup pergaulannya sehari-hari,
  • membuka peluang kolaborasi untuk menghasilkan hal-hal yang bermanfaat,
  • menyambungkan hubungan kerabat dan pertemanan dari berbagai penjuru dunia,
  • menyediakan support network, misalnya bagi anak yang menderita sakit parah atau berkebutuhan khusus,  dan
  • meningkatkan peluang anak untuk lebih terlibat dalam masyarakat.

Karena itu, tak bijak rasanya jika kita sebagai orang tua terlalu membatasi anak dari media. Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk mencapai titik keseimbangan?

 

Rekomendasi AAP

Pengaruh media pada anak bukanlah sesuatu yang dapat digeneralisir dengan mudah karena bergantung pada jenis, cara dan lama penggunaan media serta karakteristik masing-masing anak. Karena itu,

sebaiknya orang tua membuat aturan penggunaan media yang berbeda untuk setiap anak dengan mempertimbangkan usia, kesehatan, temperamen dan tahap perkembangannya.

Apa saja rekomendasi yang disarankan AAP?

  • Membuat kesepakatan penggunaan media (family media plan) yang melibatkan seluruh anggota keluarga. Hal-hal yang perlu dibahas antara lain:
    • Media apa yang boleh digunakan dan berapa lama penggunaannya
    • Memastikan anak memiliki waktu yang cukup untuk beraktivitas fisik (1 jam) dan tidur (8-12 jam) setiap hari
    • Anak-anak sebaiknya tidak membawa perangkat ke kamar tidur
    • Menghindari layar 1 jam sebelum tidur malam
    • Menghindari tayangan hiburan ketika anak sedang mengerjakan tugas
    • Menentukan zona bebas media  seperti saat makan bersama atau di tempat tidur
    • Melakukan aktivitas tanpa gadget secara rutin seperti membaca, mengobrol dan bermain bersama anggota keluarga
    • Mengkomunikasikan kesepakatan penggunaan media kepada pengasuh anak yang lain seperti kakek nenek atau babysitter
  • Orang tua terlibat dalam memilih dan menggunakan media bersama anak
  • Orang tua selalu berdiskusi dengan anak mengenai berinternet secara sehat dan aman
  • Orang tua membangun trusted network, yaitu jaringan orang-orang yang dipercaya dan dapat berkomunikasi dengan anak dengan baik secara offline maupun online (kerabat, guru, mentor, dll).

Nah, semoga rekomendasi di atas dapat menjadi titik awal Mama dan keluarga untuk berdiskusi tentang penggunaan media di rumah. Detail dari kesepakatannya tentu perlu disesuaikan dengan aturan dan nilai-nilai yang berlaku di dalam keluarga. Mari siapkan anak-anak kita mengarungi lautan media di era digital ini dengan bekal ilmu dan percaya diri.

Smart Mama, smart children!

 

Sumber

AAP Council on Communications and Media.  Media Use in School-Aged Children and Adolescents. Pediatrics. 2016; 138(5):e20162592. Link.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *