literasi media

Literasi Media, Kenali 5 Prinsip Menjadi Konsumen Aktif

Sebagai seorang ibu, tentu banyak yang ingin kita pelajari sebagai bekal untuk memberikan pengasuhan yang terbaik untuk anak-anak kita. Zaman dahulu, ilmu seputar pengasuhan anak diwariskan secara turun temurun, ditularkan dari tetangga, kawan, dan kerabat. Sekarang di era digital, informasi dapat diakses  dari mana saja dan kapan saja dari berbagai media: buku, majalah, surat kabar, radio, televisi, dan juga internet. Di satu sisi, sangat mudah bagi kita untuk menemukan informasi tentang apa pun yang kita butuhkan. Di sisi lainnya, kita seakan dihadapkan pada tsunami informasi yang begitu melimpah. Siapa pun dapat menuliskan apa saja yang ia mau melalui beragam media. Media cetak bisa diterbitkan secara self-published dan semua orang bisa mengunggah video, tulisan, dan gambar apa saja di media sosial. Akibatnya, fakta yang benar terkadang bercampur aduk dengan iklan, opini, atau berita palsu. Bagaimana kita dapat menemukan informasi yang dapat dipercaya di tengah lautan media yang melimpah ini? Sebagai ibu dari generasi yang lahir di era digital, kita wajib menguasai literasi media. Berikut 5 prinsip yang dapat Mama pegang untuk menjadi konsumen media yang aktif, mampu berpikir kritis, serta bijak dalam mengambil keputusan.

1. Bersikap skeptis

berpikir skeptis

Jangan langsung percaya 100% pada informasi apa pun yang kita terima dari berbagai media. Selalu sediakan celah kemungkinan bahwa informasi tersebut dibuat dengan tidak jujur (bohong) atau keliru.

Kebohongan adalah sesuatu yang dibuat dengan sengaja:

  • Fakta sengaja diubah atau diada-adakan untuk mengecoh (misalnya menyatakan suatu terapi pengobatan hanya menggunakan bahan-bahan alami untuk tujuan marketing, padahal tidak)
  • Fakta sengaja digunakan untuk menyimpulkan hal yang tidak benar (misalnya terapi terbukti bisa menyembuhkan sakit kepala, lalu diklaim bisa menyembuhkan pula penyakit lainnya meski belum ada buktinya)
  • Fakta sengaja disembunyikan untuk menutupi sesuatu (misalnya efek samping terapi tidak pernah disebutkan)

Adapun kekeliruan umumnya terjadi karena kurang ilmu atau kurang teliti, dan harusnya segera dikoreksi setelah disadari oleh pembuatnya (misalnya ketika breaking news menyampaikan jumlah korban yang keliru karena terburu-buru). Bahkan lembaga resmi pun terkadang melakukan kesalahan dalam menyampaikan informasi, jadi sebaiknya kita tetap waspada apa pun media sumbernya.

2. Belajar teknik media

pesan media

Pahami bahwa setiap pesan media dirancang sedemikian rupa untuk memenuhi tujuan tertentu. Ada media yang dengan sengaja dibuat untuk meyakinkan agar kita untuk mempercayai sesuatu, mendorong kita untuk membeli sesuatu, atau memancing reaksi emosional kita untuk tujuan-tujuan tertentu. Beragam elemen media dirancang untuk memenuhi tujuan tersebut, mulai dari pemilihan kata-kata, warna, gambar, hingga musik pengiring.

Dalam penggunaan kata-kata misalnya, ada strategi untuk mempengaruhi konsumen yang dilakukan secara mencolok, misalnya dengan menggunakan huruf kapital, banyak tanda seru, dan kata-kata bombastis:

WOW! ASTAGA! MENGEJUTKAN! TOLONG SEBARKAN!!!!!

Berita dengan judul demikian biasanya berupa clickbait, sengaja dibuat agar orang membuka situs atau membagikan berita untuk tujuan tertentu seperti mendapat uang berdasarkan jumlah pengunjung website.

Namun, ada pula pesan media yang disampaikan secara sangat halus, hingga kita tidak menyadari bahwa kita sedang disetir ke arah tertentu. Misalnya, setelah baca tulisan dengan serius, ternyata ujung-ujungnya jualan. Sudah sering mengalami, bukan? 

Tidak semua pesan media bersifat negatif. Yang penting, kita wajib memahami bahwa media dapat digunakan sebagai sarana yang efektif untuk mempengaruhi kita sebagai konsumennya.

3. Bersikap adil dan terbuka

lihat sudut pandang yang berbeda

BLW vs spoon feeding, co-sleeping vs tidur terpisah, TV vs no TV, homeschooling vs sekolah?

Selalu ada dua sisi di balik setiap cerita. Jangan terlalu percaya diri dan bersombong hati bahwa apa yang kita percayai sekarang sudah pasti benar, kecuali untuk perkara-perkara yang Mama anggap fundamental. Tidak ada yang salah atau memalukan dengan berganti haluan di tengah jalan.

  • Tantang asumsi kita dengan membaca berita dengan sudut pandang yang berbeda
  • Go outside your comfort zone, sekali-kali cari sumber berita selain yang biasanya kita baca, atau cari opini di luar komunitas kita.

Waspadai juga akan adanya gelembung media sosial, yaitu ketika apa yang ditampilkan di timeline media sosial kita hanya hal-hal yang memang sejalan dengan pemahaman kita. Akibatnya, pandangan kita akan makin mengerucut, sulit berempati tanpa mencoba memahami sudut pandang pihak lain.

4. Malu bertanya sesat di jalan

malu bertanya sesat di jalan

Sebagai konsumen media, kita harus selalu bertanya tentang pesan yang dikandung di dalamnya. Mama dapat melakukan validasi secara mandiri dengan mengajukan beberapa pertanyaan yang pernah kami bahas dalam artikel kami sebelumnya (baca  “Evaluasi Sumber Informasi Online, Ini 5 Kriterianya!”).

Jika kita masih tidak yakin atas kebenaran suatu informasi, jangan ragu untuk bertanya langsung kepada ahli di bidangnya, yang terpercaya dan baik reputasinya, apakah informasi yang kita terima memang benar.

  • Untuk informasi seputar kesehatan, bertanyalah pada dokter dan tenaga kesehatan. Untuk informasi seputar agama, bertanyalah pada pemuka agama. Untuk informasi tentang fenomena alam, bertanyalah pada ahli geologi, biologi, astronomi, atau yang lain sesuai bidangnya.
  • Tidak punya kenalan ahli? Carilah situs lembaga resmi yang terkait, lalu kirimkan email. Carilah akun media sosial sang ahli dan kirimlah pesan. Kita hidup di zaman teknologi informasi dan komunikasi, maka kita layak berusaha untuk mencari kebenaran.

5. Tunda untuk bereaksi

tunda untuk bereaksi

Wanita sering dikatakan lebih mengandalkan emosi dan perasaan. Ini disadari betul oleh para pembuat media, dan sering digunakan sebagai senjata untuk menyetir opini dan reaksi kita.

  • Biasakan untuk membaca lengkap dan memeriksa kevalidan suatu berita sebelum bereaksi, jangan hanya membaca judul lalu asal komentar dan membagikannya kesana kemari.
  • Cek emosi diri. Jika kita seketika merasa marah atau jengkel setelah membaca suatu berita, kita patut bertanya, apakah kita sedang dimanipulasi untuk melakukan sesuatu?
  • Ambil nafas panjang setelah membaca. Beri kesempatan otak untuk berpikir sebelum mulut mulai bicara dan jempol mulai beraksi.

Ibu Cerdas Melek Literasi Media

Literasi media sayangnya belum menjadi kurikulum wajib di sebagian besar institusi pendidikan di negara kita. Sebagai seorang ibu, Mama adalah sekolah pertama bagi anak-anak. Kita perlu menguasai literasi media sebagai bekal untuk mendampingi mereka mengarungi era media dan informasi yang akan semakin terbuka di masa yang akan datang. Mari menjadi konsumen media yang cerdas, kritis, dan bijak!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *