Literasi Digital, Siapkan Anak Menyongsong Era Digital Abad ke-21

Membaca, menulis dan berhitung – calistung. Inilah tiga hal dasar yang harus dikuasai anak untuk menjadi anggota masyarakat yang mandiri. Namun, kini kita telah memasuki era digital yang ditandai dengan hadirnya teknologi di berbagai bidang. Seperti halnya seseorang yang tidak menguasai calistung (illiterate) beresiko terpinggirkan, semakin hari seseorang yang tidak menguasai literasi digital juga beresiko untuk tertinggal. Kita bisa kehilangan relasi karena tidak bisa berkomunikasi online. Sebuah toko bisa kehilangan pembeli karena tidak menguasai marketing via media sosial. Selain itu, derasnya informasi dari media juga menyebabkan banyak orang mudah termakan berita hoax atau gampang terpengaruh iklan. Era digital memang memberikan tantangan tersendiri bagi kita sebagai orang tua ya, Mama. Tentunya kita ingin mempersiapkan anak-anak kita sebaik mungkin. Nah, apakah sebenarnya literasi digital itu? Kemampuan apa sajakah yang diperlukan generasi muda zaman sekarang untuk menghadapi era digital?

P21, sebuah organisasi non-profit di bidang pendidikan, mendefinisikan sebuah framework berisi sejumlah kemampuan yang sebaiknya dimiliki anak untuk menyongsong abad ke-21. Salah satu komponen pentingnya adalah literasi digital. Literasi digital adalah seperangkat skills yang diperlukan untuk menghadapi berbagai tantangan di era digital yang muncul karena meluasnya teknologi dan media di seluruh aspek kehidupan. Literasi digital mencakup tiga hal berikut ini:

  • literasi teknologi informasi & komunikasi,
  • literasi media, dan
  • literasi informasi

Seperti apa detailnya? Yuk, kita simak berikut ini!

Literasi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)

Apa yang ada di benak Mama ketika mendengar literasi TIK? Apakah Mama membayangkan anak-anak yang handal menggunakan perangkat digital? Jawaban ini tidaklah salah, namun kurang lengkap. Literasi teknologi tidak hanya mencakup kemampuan mengoperasikan teknologi dengan lancar, tetapi juga berkaitan dengan sikap dan kebiasaan baik ketika menggunakan teknologi.

Pada dasarnya, literasi teknologi mencakup dua hal berikut:

1. Mampu menggunakan perangkat digital untuk mengakses, mengolah, mengintegrasi, menciptakan dan mengkomunikasikan informasi

Kemampuan dasar yang perlu dimiliki di antaranya:

  • menggunakan perangkat digital dan perlengkapannya (komputer, smartphone, printer, speaker, dll),
  • mengoperasikan beberapa software dasar seperti word processor, spreadsheet, software presentasi dan pengolah gambar sederhana,
  • menggunakan browser dan mesin pencari,
  • berkomunikasi secara online menggunakan email, video call, chat, dan media sosial.

2. Mampu menggunakan teknologi dengan aman, beretika dan bertanggung jawab

Sikap dan kebiasaan yang perlu dibangun pada anak antara lain:

  • mampu melindungi privasi dan keamanan diri saat berinternet,
  • menjaga etika ketika berkomunikasi online,
  • menghargai karya orang lain,
  • menjaga keseimbangan aktivitas dengan dan tanpa perangkat digital.

Jadi, meskipun anak telah mahir mengoperasikan laptop atau smartphone, jangan lupa untuk memastikan bahwa ia juga telah mampu bertanggung jawab atas perilakunya dalam menggunakan teknologi ya, Mama.

Literasi Informasi

Sekarang bukan zamannya lagi anak harus belajar dengan menghafal banyak fakta. Anak-anak kita bisa menemukan topik apa saja yang mereka inginkan di internet. Namun, informasi di internet tidaklah selalu akurat dan berkualitas karena bisa ditulis oleh siapa saja meskipun tanpa keahlian di suatu bidang. Karena itu, anak kita wajib menguasai literasi informasi yang membuat mereka mampu melakukan hal berikut:

1. Mengidentifikasi informasi yang dibutuhkan

Misalnya, anak memahami ketika ingin membuat kue ia membutuhkan resep, dan ketika mendapat hadiah hewan peliharaan ia butuh mencari tahu bagaimana cara merawatnya.

2. Mencari informasi secara efektif

Anak memahami ada berbagai saluran untuk mencari informasi (Google Images untuk mencari gambar, Google News untuk mencari berita, dll) dan mampu menggunakan kata kunci secara efektif.

3. Mengevaluasi informasi

Anak yang lebih tua diharapkan dapat membedakan website yang dapat dipercaya dan tidak, situs resmi dan personal, fakta dan opini, serta berita asli dan hoax.

4. Menggunakan informasi untuk menyelesaikan permasalahan

Misalnya, anak mampu mengerjakan tugas sekolah dengan merangkum informasi yang ditemukannya di internet, atau mencetak resep kue untuk dimasak di dapur.

5. Menghargai sumber informasi

Anak selalu mencantumkan sumber yang digunakannya baik berupa teks maupun gambar.

Literasi Media

Saat ini, hampir setiap hari anak-anak kita dikelilingi berbagai bentuk media dari segala penjuru, mulai televisi, radio, musik pop, koran, majalah, billboard, game, internet, hingga kemasan makananan. Media pada dasarnya merupakan sarana untuk menyampaikan suatu pesan dan dapat memiliki pengaruh yang kuat pada pembentukan nilai, karakter dan kebiasaan anak. Coba saja Mama ingat-ingat, berapa banyak kebiasaan dan kosa kata baru anak yang muncul karena menonton televisi atau mendengar lagu?

Sayangnya, tidak semua pesan yang disampaikan media sesuai dengan nilai-nilai yang dianut keluarga. Karena kita sebagai orang tua tidak dapat mendampingi mereka sepanjang waktu, anak-anak kita perlu dibekali dengan literasi media sesuai dengan usianya.

Inti dari literasi media adalah kemampuan mengevaluasi media dan pesan yang dikandungnya dengan lima konsep berikut:

  1. Author – Siapa yang membuat pesan ini?
  2. Format – Teknik apa yang digunakan agar saya tertarik melihatnya?
  3. Audience – Siapa saja yang menjadi sasaran dan bagaimana mereka menangkap isi pesan ini?
  4. Message – Pesan apa yang sedang disampaikan?
  5. Purpose – Apa tujuan pesan ini?

Terdengar sulit untuk anak? Literasi media pada dasarnya membutuhkan skill critical thinking untuk dapat mengevaluasi dan mengkritisi berbagai bentuk media. Namun, melatih literasi media pada anak perlu disesuaikan dengan tingkatan usianya ya, Mama. Contohnya, literasi media untuk anak yang lebih muda bisa dibiasakan dengan meminta anak menceritakan kembali apa yang dibaca, didengar, atau ditontonnya dan mendiskusikan mana yang bagus dan tidak dari pesan tersebut.

Nah, demikianlah tiga literasi digital yang perlu kita latihkan pada anak-anak kita agar mereka siap menghadapi tantangan di era digital. Jangan lupa, sebelum mulai mendidik anak-anak, sebaiknya Mama juga ikut mempelajarinya terlebih dahulu.

Smart Mama, smart children!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *