3 Strategi untuk Membantu Anak Melindungi Dirinya dari Predator Online

Rasanya semakin sering saja Mama membaca berita mengenai predator online yang menyasar anak, dari mulai berita mengenai group di sosial media yang berisi foto-foto anak dan komentar tidak pantas, hingga berita anak remaja yang hilang setelah melakukan pertemuan dengan teman yang dikenalnya hanya di dunia maya.

Menutup akses anak ke dunia internet tentu bukan solusinya, apalagi ketika anak Mama sudah berusia remaja, dimana mereka akan mudah sekali mendapatkan akses internet di luar kendali Mama. Mama justru harus menyiapkan anak-anak dan keluarga agar dapat melindungi diri dari predator online ketika beraktivitas di dunia Maya. Simak strategi dari digitalMamaID.

Ajak bicara anak mengenai siapa predator online dan apa saja aktivitas yang harus diwaspadai anak

Persepsi umum yang terjadi, predator online adalah orang dewasa yang berpura-pura menjadi anak-anak atau remaja di dunia maya agar mudah mendapatkan kepercayaan dari korban nya yang berusia sebaya, namun menurut statistik di Amerika hanya 5% predator yang melakukan hal tersebut. Pelaku umumnya justru memperkenalkan diri sebagai orang dewasa untuk dapat mendekati korbannya. Di sisi lain, sebanyak 23% pelaku pelecehan berusia di bawah 18 tahun. Jelaskan pada anak bahwa mereka harus waspada mengenai teman yang mereka kenal di dunia maya, terlepas dari usia pada profil yang mereka tampilkan.

Predator online umumnya mencari korban melalui media sosial, forum maupun online game, kemudian mendekati korban dengan berkomunikasi lebih intens melalui instant messaging atau chat room yang disediakan forum atau online game. Mama dapat memberikan penjelasan kepada Anak mengenai tanda bahaya ketika berinteraksi di dunia maya, dan menjelaskan bahwa Anak harus segera memberitahu orang tua ketika mengalami hal berikut:

  1. Anak menerima pesan tidak pantas atau diminta mengirimkan foto tidak pantas
  2. Anak diajak untuk bertemu secara langsung oleh orang yang hanya dikenalnya di dunia maya
  3. Anak menerima telepon atau menerima hadiah dari orang yang tidak dikenalnya langsung

Bekali anak dengan pengetahuan (digital literacy) sebelum memperbolehkan mereka menggunakan media online secara mandiri

Sebelum memperbolehkan Anak memiliki akun di media sosial, forum, atau instant messaging, Mama perlu membekali mereka dengan pengetahuan mengenai Online Privacy dan Digital Footprint, sehingga mereka akan waspada dan mengetahui informasi apa saja yang boleh dibagikan secara online.

Mama dapat membaca artikel kami  mengenai digital footprint dan online privacy sebagai salah sumber referensi untuk berdiskusi dengan Anak.

Pastikan mama mengetahui aktivitas online yang anak lakukan, kemudian buat dan sepakati aturan bersama 

Mama dapat bertanya pada Anak mengenai media atau aplikasi apa saja yang mereka gunakan, termasuk game, sosial media maupun instant messaging. Jika mereka menggunakan sosial media, Mama sebaiknya follow atau friend akun mereka, sehingga bisa mengetahui aktivitas online Anak.

Diskusikan aturan bersama terkait aktivitas dunia maya yang mendukung keamanan mereka beraktivitas di dunia maya, antara lain:

  1. Sepakati bahwa Mama boleh sesekali membuka perangkat genggam mereka. Mama dapat memeriksa apakah ada foto atau chat yang tidak pantas. Mama juga tentu harus update mengenai bahasa slang atau bahasa gaul yang mereka gunakan untuk berbicara dengan sebayanya.
  2. Buat aturan dengan siapa saja mereka boleh chat, misalkan hanya dengan orang yang mereka kenal secara langsung. Atau sepakati aturan mengenai apa Anak harus lakukan jika ada orang yang tidak dikenal mengajak chat atau menelepon
  3. Buat aturan waktu dan tempat yang diperbolehkan untuk online di dunia maya atau menggunakan telepon, misalkan di ruang keluarga dan bukan di jam tidur

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *