keterampilan abad 21

Keterampilan Abad 21 yang Wajib Dikuasai Anak

Kita tengah mempersiapkan siswa untuk pekerjaan yang belum ada saat ini, untuk menggunakan teknologi yang saat ini belum diciptakan, untuk menyelesaikan problem yang saat ini belum kita kenal sebagai problem.

Richard Riley

Abad 21 membawa berbagai tantangan yang berbeda dari yang pernah dihadapi manusia sebelumnya. Anak-anak kita akan dihadapkan pada aneka jenis pekerjaan, teknologi, juga problem baru yang belum mampu kita bayangkan sekarang. Sayangnya, sistem pendidikan saat ini kebanyakan masih lebih banyak terfokus pada mempelajari pengetahuan (knowledge).  Hal ini mencakup baik pengetahuan tradisional seperti matematika dan bahasa, juga pengetahuan yang lebih modern seperti teknologi dan enterpreneurship. Padahal, semakin hari semakin nyata bahwa pengetahuan saja tidaklah cukup sebagai bekal untuk terjun ke dunia nyata. Seseorang juga perlu menguasai keterampilan (skills) untuk mengaplikasikan pengetahuan tersebut pada problem-problem riil di dunia nyata. Apa saja keterampilan abad 21 yang perlu dikuasai oleh anak?

4C – Keterampilan Abad 21

Berikut kami sajikan 4C, empat keterampilan abad 21 yang sebaiknya dimiliki anak-anak kita untuk mempersiapkan mereka menyongsong era baru ini.

Creativity (Kreativitas)

Seperti apa sih, orang yang kreatif itu? Zaman dulu, kata kreatif seringkali hanya disematkan pada orang-orang yang bekerja dalam bidang-bidang artistik seperti seni rupa dan musik. Kini, kreativitas telah dikenal sebagai bagian yang tak terpisahkan dari berbagai bidang kehidupan. Pada tahun 2010 yang lalu, dalam sebuah studi oleh IBM dilakukan wawancara terhadap 15.000 CEO dari puluhan negara yang mewakili berbagai bidang industri. Hasil studi menyatakan bahwa kreativitas adalah kualitas kepemimpinan yang dinilai paling penting untuk menghadapi masa depan yang serba tak pasti.

Kreativitas sangat erat kaitannya dengan kemampuan untuk menghasilkan ide, juga untuk mengeksekusi ide tersebut menjadi suatu karya yang nyata. Era teknologi menyebabkan akan ada semakin banyak pekerjaan yang diambil alih oleh mesin di masa depan. Berpikir kreatif dalam menciptakan berbagai inovasi baru adalah salah satu keterampilan abad 21 yang akan membuat seseorang mampu bertahan dan tak tergantikan oleh robot dan mesin, apa pun bidang pekerjaannya.

Bagaimana menumbuhkan kreativitas pada anak? Sesungguhnya, anak-anak kita telah lahir kreatif, lho. Coba ingat-ingat hasil ‘eksperimen’ anak di dapur atau di meja rias kita. Mama dapat memelihara dan terus menumbuhkan kreativitas pada anak dengan cara memaparkan mereka pada beragam kisah dan karya yang menginspirasi, menyediakan fasilitas dan ruang untuk dieksplorasi dengan bebas, serta mengajak mereka melakukan berbagai projek keluarga sederhana.

Critical Thinking (Berpikir Kritis)

berpikir kritis

Berpikir kritis erat kaitannya dengan kemampuan untuk mengingat, memahami, mengaplikasikan, menganalisa, mengevaluasi, dan menciptakan informasi (Anderson&Krathwohl, 2001). Keterampilan untuk berpikir kritis merupakan hal yang sangat penting untuk dimiliki anak-anak kita di tengah derasnya arus informasi di era digital ini. Mama tentu sudah sering melihat contoh bagaimana berita hoax menyebar begitu luas di tengah masyarakat, atau bagaimana seseorang dengan mudahnya terpengaruh iklan untuk membeli barang-barang yang tidak ia perlukan.

Kemampuan untuk membedakan kebenaran dari kebohongan, fakta dari opini, atau fiksi dari non-fiksi, merupakan salah satu modal bagi anak-anak kita untuk mengambil keputusan dengan lebih bijak sepanjang hidupnya. Selain itu, kemampuan berpikir kritis juga penting sebagai bekal anak menjadi pembelajar yang baik. Masih banyak kita temukan, anak-anak belajar di sekolah hanya supaya lulus ujian. Mereka sekedar membaca buku teks dan menghafal, tanpa benar-benar memahami esensi dari pelajaran yang diberikan. Akibatnya, setelah ujian selesai, banyak ilmu yang menguap begitu saja. Sayang sekali, bukan?

Berlatih berpikir kritis tidak hanya dapat dilakukan di sekolah saja, lho. Mama dapat turut serta membangun kebiasaan berpikir kritis anak-anak dari dalam rumah. Salah satu caranya adalah dengan mengajak diskusi anak setelah membaca buku, menonton film, atau melihat iklan. Mama dapat membicarakan bagian mana yang bersifat rekaan dan mana yang berupa fakta, mana tokoh yang patut ditiru dan yang tidak, pesan apa yang ingin disampaikan pembuat cerita, dan apakah pesan tersebut sesuai dengan nilai-nilai yang dianut dalam keluarga.

Communication (Komunikasi)

Hadirnya gadget seringkali dikatakan mendekatkan yang jauh, namun menjauhkan yang dekat. Anak-anak kita memang perlu menguasai teknologi komunikasi agar dapat meraih peluang kesuksesan yang lebih luas dalam hidupnya. Namun, kemampuan berkomunikasi langsung dengan bertatap muka juga masih perlu kita ajarkan. Jangan sampai anak-anak kita mahir chatting dengan kenalan baru yang berjarak ribuan kilometer jauhnya, namun kaku ketika harus berhadapan langsung dengan seseorang yang baru dikenalnya.

Menyampaikan pikiran dengan lugas, memberikan perintah yang jelas, juga memotivasi orang lain melalui kata-kata, adalah keterampilan berkomunikasi yang sangat dihargai, baik di tempat kerja maupun di ruang publik lainnya. Komunikasi tidak selalu berbentuk verbal. Komunikasi non-verbal (misalnya dengan bahasa tubuh) dan komunikasi tertulis merupakan bentuk lain dari komunikasi yang juga patut dipelajari. Karena komunikasi membutuhkan setidaknya dua pihak, maka anak-anak kita juga perlu belajar untuk mendengar dengan baik, membaca pesan yang tersirat, dan berempati pada orang lain.

Kemampuan berkomunikasi dapat kita asah terus pada anak dengan mengajak mereka untuk berdiskusi sesering mungkin di rumah, melibatkan mereka dalam pengambilan keputusan, dan mengajak mereka berkunjung atau berkirim surat pada teman-teman dan kerabat.

Collaboration (Kolaborasi)

kolaborasi kerjasama

Mama pernah menggunakan Wikipedia? Platform ini merupakan hasil kolaborasi antara jutaan orang dari seluruh dunia yang saling bekerja sama untuk menyediakan informasi tentang berbagai hal. Para kontributor Wikipedia kemungkinan besar tidak saling mengenal satu sama lain di dunia nyata. Ini adalah contoh yang menggambarkan betapa terhubungnya dunia kita saat ini dan betapa berharganya produk yang mampu dihasilkan melalui kolaborasi.

Dengan berkolaborasi, setiap pihak yang terlibat dapat saling mengisi kekurangan yang lain dengan kelebihan masing-masing. Akan tersedia lebih banyak pengetahuan dan keterampilan secara kolektif untuk mencapai hasil yang lebih maksimal. Teknologi yang tersedia saat ini membuat peluang untuk berkolaborasi terbuka lebar tanpa harus dibatasi oleh jarak. Karena itu, anak-anak kita perlu dibekali dengan kemampuan berkolaborasi sebagai salah satu keterampilan abad 21 yang mencakup:

  • bekerja sama secara efektif dalam tim yang isinya beragam,
  • fleksibel dan mampu berkompromi untuk mencapai tujuan bersama,
  • memahami tanggung jawabnya dalam tim,
  • serta menghargai kinerja anggota tim lainnya.

Melatih anak untuk berkolaborasi dapat Mama mulai sejak dini dari dalam rumah misalnya dengan cara berbagi aneka pekerjaan rumah tangga atau membuat karya seni bersama-sama seluruh anggota keluarga.

Kesimpulan

Demikianlah 4C – empat keterampilan abad 21 yang perlu dikuasai oleh anak-anak kita untuk menghadapi masa depan yang dinamis, penuh tantangan dan perubahan. Mari kita siapkan mereka untuk menjadi calon-calon penemu yang kreatif, konsumen yang kritis, pemimpin yang komunikatif, serta anggota tim yang mampu berkolaborasi menciptakan karya-karya hebat di masa depan. Tetap semangat menjadi orang tua abad 21, ya!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *