Inilah Mengapa Orang Sering Melupakan Adab di Dunia Maya

Seorang pejabat mengambil keputusan yang tidak populer. Seorang remaja melakukan kesalahan. Seorang tokoh mengkritisi sesuatu yang menjadi favorit. Seorang ulama mengemukakan pendapat yang berseberangan. Semuanya mengalami perlakuan yang sama di dunia maya: dihujat, dicaci maki, bahkan diancam dengan kata-kata yang membuat miris.

Sebagai seorang ibu, saya merasa sedih melihat fenomena ini semakin tersebar luas di masyarakat. Sopan santun dan etika dalam berkomunikasi dan menyampaikan pendapat, yang telah bertahun-tahun ditanamkan baik di rumah maupun sekolah, seakan ditanggalkan sebelum memasuki pintu dunia digital. Padahal, saya yakin sebagian besar dari mereka yang gemar menghujat ini tidak berperilaku sedemikian buruknya di kehidupan sehari-hari. Kenapa para pengguna internet ini seakan berubah menjadi begitu pemarah dan kasar di dunia maya?

Setelah mencoba mencari referensi, saya pun menemukan salah satu penjelasan dari fenomena ini. Profesor John Suler, seorang pakar psikologi, mempublikasikan sebuah artikel pada tahun 2004 mengenai Online Disinhibition Effects (ODE) yang hingga kini masih sering dirujuk untuk menjelaskan perilaku online. ODE adalah fenomena yang begitu marak di era digital sekarang ini: pengguna internet seringkali melakukan dan mengatakan hal-hal yang tidak biasa mereka lakukan dan katakan di dunia nyata. Mereka merasa lebih bebas mengekspresikan diri dengan lebih terbuka.

Jenis-Jenis Online Disinhibition

Online disinhibition (OD) sendiri sesungguhnya tidak selalu berkonotasi negatif. Prof. Suler menggolongkan OD menjadi dua tipe:

  • Benign disinhibition, yaitu ketika seseorang mengekspresikan perasaan, harapan dan kekhawatiran, atau menunjukkan kebaikan dan kemurahan hati yang biasanya tidak diungkapkan di dunia nyata.
  • Toxic disinhibition, yaitu ketika seseorang menggunakan bahasa yang kasar, kritik yang pedas, ungkapan kebencian bahkan ancaman yang sehari-hari tidak diucapkan di dunia nyata, atau menjelajahi dunia yang biasanya dihindarinya seperti pornografi atau perjudian.

Sayangnya, saat ini perilaku toxic disinhibition telah merajalela di dunia maya hingga seakan menutupi sisi positif disinhibition. Hal ini patut menjadi perhatian kita semua, khususnya sebagai orang tua dari anak-anak yang lahir di era digital. ODE adalah salah satu latar belakang maraknya trolling dan cyberbullying di dunia maya. Sangat disayangkan apabila anak-anak kita, yang sehari-harinya terlihat santun dan menjunjung tata krama, ternyata gemar menghujat orang lain di media sosial dan kolom komentar berbagai situs berita.

Faktor Penyebab OD

Mengapa OD bisa terjadi? Mari kita tengok beberapa faktor penyebabnya dari sudut pandang cyberpsychology, terutama dengan membahas kaitannya dengan lunturnya kesantunan dalam komunikasi tertulis di dunia maya.

1. Dissociative Anonimity (You Don’t Know Me)

Seseorang dapat dengan mudah menyembunyikan identitasnya di dunia maya. Di media sosial setiap orang boleh menggunakan nama atau foto yang bukan sebenarnya. Perbedaan antara identitas online dengan offline ini menyebabkan seseorang  menganggap bahwa dirinya tidak dapat dilacak dan tidak perlu bertanggung jawab atas perilaku onlinenya.

Perilaku itu bukanlah bagian dari jati diri saya.

2. Invisibility (You Don’t See Me, I Don’t See You)

Dalam komunikasi face-to-face, kedua pihak saling melihat ekspresi wajah dan bahasa tubuh, serta mendengar intonasi lawan bicaranya. Hal-hal tersebut membuat kita menyesuaikan apa yang akan kita sampaikan, nada bicara kita, dan gaya tubuh kita sesuai respon lawan bicara. Dalam komunikasi online secara tertulis seperti media sosial, kedua pihak tidak saling melihat dan mendengar.

Saya tidak perlu menjaga intonasi dan bahasa tubuh saya. Saya juga tak perlu menebak-nebak perasaan lawan bicara saya dari intonasi dan bahasa tubuhnya.


3. Asynchronicity (See You Later)

Komunikasi tertulis di dunia maya bersifat asinkron: sebuah pesan yang dikirim sekarang bisa saja baru dibaca penerimanya besok, seminggu lagi, bahkan sebulan kemudian. Respon yang tidak langsung ini membuat pengirim pesan tidak merasa perlu memikirkan bagaimana perasaan penerima ketika membaca pesannya. Seorang pakar psikologi bahkan menganalogikan kasus ini seperti “emotional hit and run“, tulis pesan lalu lupakan.

Saya hanya menuliskan apa yang saya pikirkan saat ini tanpa memikirkan bagaimana reaksi Anda ketika membacanya nanti.

4. Solipsistic Introjection (It’s All In My Head)

Tanpa adanya komunikasi face-to-face, kondisi dan maksud sesungguhnya dari lawan bicara sepenuhnya berada di imajinasi penulis pesan. Karenanya ia pun menulis hanya berdasarkan asumsi-asumsi yang ada di pikirannya mengenai lawan bicaranya.

Saya mengasumsikan beberapa hal tentang Anda yang meyakinkan saya bahwa Anda pantas menerima pesan ini.

5. Dissociative Imagination (It’s Just a Game)

Pengguna internet seringkali menganggap dunia maya seperti layaknya dunia game. Peraturan dan norma di kehidupan sehari-hari tidak berlaku di sana, dan karakter-karakternya bersifat fiksi. Ketika game dimatikan, segala aksi yang dilakukannya dalam game tersebut tidak mempunyai konsekuensi lanjutan di dunia nyata. Ia melupakan bahwa media sosial dan forum online bukanlah sekedar game dengan karakter buatan. Di baliknya ada manusia-manusia yang berdaging dan berjiwa, yang juga hidup di dunia nyata dengan segala norma yang berlaku di dalamnya.

Ini bukanlah dunia nyata. Saya bisa melupakan apa yang saya lakukan disini saat saya mematikan koneksi internet.

6. Minimising Authorization (We Are Equal)

Ketika berhadapan dengan figur otoritas, baik itu guru maupun pejabat, seseorang akan mendapat kesan dari pakaian, gaya bicara, maupun dari atmosfir sekitar yang menandakan bahwa figur tersebut memiliki kekuasaan atau kedudukan. Akibatnya, orang cenderung menjaga ucapan dan tingkah lakunya. Di dunia maya, status dan jabatan tidak memegang peran penting. Di media sosial misalnya, semua orang hanya diwakili sepotong username dan sebuah foto. Hal ini menyebabkan timbulnya kesan bahwa semua orang memiliki kedudukan yang sama sehingga berkuranglah sikap santun yang biasanya ditunjukkan di dunia nyata.

Semua orang setara di sini. Saya tidak perlu merasa segan pada siapa pun.

Demikianlah sekilas tentang OD, yang merupakan salah satu pendorong seseorang melakukan perilaku yang kurang terpuji di dunia maya. Namun yang perlu Mama ingat, kita tidak dapat menyalahkan OD atas semua perilaku buruk kita di dunia maya. Satu hal yang perlu kita camkan untuk diri sendiri dan kita tanamkan pada diri anak-anak kita: seseorang tetap bertanggung jawab atas setiap perbuatan dan perkataannya, baik di kehidupan nyata maupun di dunia maya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *