Ajak Bicara Anak Anda Mengenai Perilaku Kekerasan di Media

Beberapa hari lalu, saya membaca berita mengenai anak berumur 8 tahun yang meninggal diduga akibat berkelahi dengan temannya di sekolah. Sungguh saya tidak bisa membayangkan anak-anak yang masih kecil itu mampu untuk melakukan kekerasan yang berakibat fatal. Sudah beberapa tahun belakangan ini kasus kekerasan antar anak semakin sering muncul, bahkan melibatkan anak-anak yang usia nya sangat belia.

Contoh perilaku kekerasan memang bisa kita lihat di mana-mana, melalui film, game, atau berita baik di televisi maupun di internet. Children see, children do. Apa yang mereka sering lihat tentunya akan mempengaruhi perilaku mereka. Lalu apa yang bisa Mama lakukan untuk mengurangi akibat dari paparan perilaku kekerasan melalui media? Selain dengan menghindari tayangan yang mengandung perilaku kekerasan, Mama juga dapat mengajak diskusi anak mengenai  apa yang mereka lihat. Berikut adalah beberapa panduan untuk Mama.

Bantu anak untuk mengekspresikan perasaan mereka. Mama dapat membantu anak untuk mengidentifikasi perasaan mereka ketika melihat perilaku kekerasan di media, apakah marah, sedih, takut atau malah menunjukkan rasa ketertarikan. Jika anak sudah sering terpapar tayangan yang mengandung kekerasan sangat mungkin hal tersebut dipandang biasa olehnya. Ajak anak untuk menggali rasa empati dengan membayangkan perasaannya jika kekerasan tersebut benar-benar dialami oleh orang yang disayangi nya di dunia nyata.

Ingatkan anak bahwa kekerasan bukanlah candaan.  Banyak film atau acara televisi komedi dan hiburan yang menggunakan kekerasan seperti saling melempar barang atau memukul. Berikan pengertian pada anak bahwa perilaku kekerasan tidak pantas untuk dijadikan hiburan, Mama juga dapat mengajak diskusi anak mengenai tontonan apa saja yang sebaiknya dihindari karena mengandung muatan kekerasan.

Jelaskan konsekuensi yang muncul akibat tindakan kekerasan. Mama dapat berdiskusi dengan anak mengenai konsekuensi apa yang muncul jika melakukan tindakan kekerasan, baik itu di masyarakat maupun di rumah. Mama juga dapat melakukan role playing mengenai bagaimana untuk menyelesaikan konflik dengan anak lain dengan cara positif tanpa melakukan tindakan kekerasan.

Dengan mengajak mereka berbicara secara terbuka, Mama akan mendapatkan gambaran mengenai langkah yang harus Mama lakukan agar apa yang mereka lihat tidak akan mempengaruhi perilaku sehari-hari anak.

Sumber: commonsensemedia.org

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *