Teknologi, Frenemy Dunia Literasi

Pesta Literasi 5.0
Share

digitalMamaID — Kecerdasan buatan (AI) bukan hanya sekedar produk perkembangan teknologi. Kemampuannya dalam mengkloning sangat mengagumkan. Ia bisa meniru suara, meniru gambar, menterjemahkan teks, menulis berita, menulis puisi, menulis novel, naskah drama, hingga menulis buku.

Kita dibuat kaum oleh kehebatan AI dalam membantu memudahkan semua pekerjaan yang mungkin merepotkan dan melelahkan pikiran. Kita tidak perlu lagi bersusah-susah mengarang, berpikir dan mencari ide. Serahkan semua tugas merepotkan itu pada mesin untuk menciptakan sebuah karya baru yang inovatif dan kreatif. 

Hingga kemudian muncul perdebatan dalam dunia akademisi dan kesusastraan. Sebagian menganggap AI sebagai teman sekaligus partner yang hebat dalam membantu proses kreatif. Sebagian yang lain menyerukan kekhawatiran mereka karena eksistensi AI dapat mengancam dunia kesusastraan. Benarkah demikian?

Teknologi dan sastra

Afrizal Malna adalah seorang sastrawan sekaligus penyair yang dikenal akan sikapnya yang terbuka dalam menerima perkembangan teknologi termasuk AI. Afrizal tidak ingin menganggap AI sebagai musuh apalagi ancaman bagi dunia kepenulisan.

“Poinnya adalah kita ini siapa ketika melakukan sesuatu? ekosistem apa yang mau kamu hidupkan? hal itu menurut saya penting. Kalau kita sudah jelas kita ini siapa ketika melakukan sesuatu ke depannya tidak perlu bingung. Kalau karya kita jelek ya tidak apa-apa, mau dibuang, disimpan, ya santai-santai saja,” kata Afrizal.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Magdalene (@magdaleneid)

Tapi satu pesan dia, bahwa penting bagi setiap anak, setiap individu itu memiliki kemampuan menulis. Karena dalam kegiatan menulis, kita akan melibatkan berbagai indra yang ada pada tubuh, baik secara langsung maupun tidak langsung.

“Kalau kita sudah menguasai berbahasa ya harusnya kita sudah lebih siap dengan apapun, teknologi yang baru sekalipun. Jadi menurut saya menulis itu penting, anak-anak mau jadi apapun anak-anak harus bisa menulis. Karena dalam menulis kita menggunakan seluruh sensor (indra) yang ada pada tubuh kita,” ungkapnya.

Proses melahirkan karya sastra

Afrizal lantas menceritakan bagaimana proses dia dalam melahirkan sebuah karya sastra, terutama puisi-puisinya yang dikenal unik karena gemar mempermainkan benda-benda atau memasukkan benda-benda nonsastra ke dalam puisinya. Selain itu dia juga gemar melakukan eksperimental pada karya-karyanya.

“Saya melakukan berbagai eksperimen, di antaranya mengetik sambil telanjang, jadi yang hilang adalah tubuh saya. Saya mencari bagaimana tubuh saya menulis, bukan bahasa yang menulis,” kata Afrizal.

Kemudian saat dia mencari tahu arti kata ‘luka’. Afrizal lantas secara terang-terangan membuat luka itu benar-benar nyata. Ia melukai tangannya, menuang air keras di atas luka itu dan membuatnya melepuh. Hal itu dilakukan semata-mata untuk mengetahui dan mendeskripsikan apa itu kata luka. 

“Dari situ saya mencoba mendeskripsikan ulang bagaimana luka itu menjadi visual. Tidak terlalu percaya dengan kata luka. Jadi pencarian kata “luka” melalui tubuh seperti itu,” terangnya.

Eksperimen dan sensor indrawi yang kerap dilakukan Afrizal dalam membuat karya sastra, merupakan proses memberikan nyawa dalam puisi-puisinya. Inilah mengapa menurutnya, AI akan kesulitan untuk mengkloning karya puisinya.

“Saya terlibat dengan AI, gara-gara Martin (Martin Suryajaya) bukunya terbit. Dia mencoba memerintahkan AI chatGPT untuk menulis puisi gaya Chairil Anwar, gaya ini gaya itu, pas gaya saya mesinnya bingung, mesinnya bilang ‘ini puisi Afrizal lebih mesin dari pada saya’,” ungkap Afrizal saat menjadi pembicara talkshow pada Pesta Literasi 5.0 yang diselenggarakan Magdalene di Perpustakaan Jakarta, Cikini, Jakarta, Sabtu, 22 November 2025.

Terakhir dia berpesan untuk tidak takut pada perubahan dan perkembangan teknologi superti AI, tetapi takutlah jika sudah tidak lagi memiliki rasa heran. Karena kehilangan rasa heran, membuat kita kehilangan rasa ingin tahu, belajar, berinovasi, dan beradaptasi.

“Kita harus memelihara rasa heran apapun yang kita lakukan rasa heran harus kita jaga, karena akan memunculkan pengetahuan, akan memberikan banyak hal yang tidak terduga, kenapa aku bisa duduk, kenapa aku bisa bangun, jadi jangan buang rasa heran itu,” pesannya.

Teknologi seperti dua sisi mata uang

Teknologi terutama internet dan kini AI telah mendobrak batasan geografis dan waktu, memungkinkan akses instan ke jutaan sumber bacaan, buku digital, jurnal, dan informasi dari seluruh dunia. Sehingga teknologi ini pada dasarnya merupakan dua sisi mata uang. Dia memiliki dampak positif dan negatif tergantung pada bagaimana teknologi tersebut digunakan.

“Pada dasarnya akan ada dua sisi mata uang,  itu pasti. Seperti halnya penemuan tulisan, penemuan mesin cetak, industrialisasi percetakan, internet, AI dan semua tahapan itu menimbulkan tantangan,” ujar Direktur Narabahasa Ivan Lanin.

Misalnya dari generasi pengguna mesin tik kemudian beralih ke komputer dan laptop. Hal ini menghadirkan tantangan baru terutama untuk menjaga bagaimana caranya agar keyboard tersebut tidak cepat rusak.

“Jadi pasti setiap teknologi akan ada manfaatnya, karena teknologi itu diciptakan untuk membuat hidup manusia menjadi lebih mudah, tapi di sisi lain pasti ada sesuatu yang mesti kita hadapi,” terangnya. 

Misalnya saja teknologi yang saat ini berpengaruh paling signifikan dalam hidup kita, yaitu internet, media sosial, AI. Internet itu berdampak positif membuat penyebaran sesuatu lebih cepat, namun tantangannya bagaimana kita menyaring informasi tersebut. Begitu juga dengan media sosial dan AI, masing-masing memiliki manfaat dan dampak negatif tersendiri.

Kemudian dengan adanya teknologi dokumentasi bahasa juga jauh lebih mudah dilakukan. Misalnya google translate, itu sudah bisa menerjemahkan bahasa jawa, sunda, minang, batak.

“AI mau ngajak ngomong pakai bahasa tetun saja dia sudah ngerti, karena dia pada dasarnya sudah bisa ngomong dengan segala bahasa manusia. Jadi AI makin lama makin hebat,” kata Ivan.

“Sehingga pada kalau berbicara bahasa daerah, teknologi itu membantu namun problemnya untuk bahasa daerah ada pada orangnya. Makin ke sini bahasa itu seperti pasar. Orang memilih bahasa seperti memilih barang, mana yang gengsinya lebih bagus mana yang bermanfaat itu dipilih,” kata dia.

Misalnya saja penggunaan bahasa Indonesia di Papua itu dianggap dapat meningkatkan harkat seseorang. Padahal Papua memiliki 400 ragam bahasa daerah.

“Orang Papua kalau ngomong bahasa Indonesia jauh lebih formal. Karena itulah yang mereka perlukan untuk meningkatkan marwah mereka. Sedangkan di kota orang justru memilih menggunakan bahasa Inggri biar kelihatan keren. Jadi menurut saya masalah bahasa bukan di teknologi tapi di orangnya. Bahasa apapun keren asal kita menguasainya,” kata Ivan. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE

Bingung cara ajak anak diskusi soal bahaya online tanpa menghakimi? 

Dapatkan solusi anti-panik untuk mengatasi hoaks, cyberbullying, dan mengatur screen time dalam Panduan Smart Digital Parenting