Kesehatan Mental: 5 Tanda Anak Perlu Konsultasi ke Psikolog

Ilustrasi kesehatan mental anak
Share

digitalMamaID Di era serba digital seperti sekarang, kesehatan mental anak perlu mendapat perhatian lebih, lho! Paparan gadget dan konten digital bisa memengaruhi kesehatan mental anak.

Akan tetapi, masalah pada psikologis anak kadang tidak mudah disadari, sehingga mungkin orangtua bingung apakah anaknya perlu ke psikolog atau tidak. Keraguan orangtua membawa anak ke psikolog ini bisa terjadi karena masih ada stereotip di masyarakat bahwa yang perlu konsultasi ke psikolog hanya anak dengan gangguan tertentu seperti ASD (Autism Spectrum Disorder) dan ADHD (Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder). Padahal tidak harus begitu, Mama. Lalu, apa tandanya?

Psikolog Margaretha T. Kuera, S. Psi., M. Psi., Psikolog lewat akun Instagram The Joy Women and Children’s Community mengatakan, ada beberapa tanda anak perlu dibawa konsultasi.

1. Perubahan kebiasaan sehari-hari

Perubahan ini misalnya anak yang biasanya tidur malam tanpa masalah, tiba-tiba jadi sulit tidur. Atau justru sebaliknya, menjadi terlalu banyak tidur. Perubahan juga bisa terjadi pada kebiasaan makan, mandi, dan lainnya. Tentu orang tua juga perlu menanyakan dulu pada anak alasan perubahan itu, ya.

2. Perubahan emosi yang signifikan

Apabila anak yang sebelumnya mampu mengontrol emosi, tiba-tiba menjadi mudah marah, atau mudah menangis, maka perlu dicari tahu sebabnya. Apalagi jika emosi yang tidak bisa ditahan ini terjadi terus menerus, sampai mengganggu kesehatan fisik. Termasuk jika anak menarik diri dari lingkungan dan selalu merasa cemas.

3. Kesulitan di sekolah atau lingkungan sosial

Ketika anak kesulitan untuk fokus, prestasi di sekolah pun menurun atau mengalami masalah dalam pergaulannya dengan teman, mungkin anak perlu bantuan psikolog.

4. Masalah perkembangan

Jika anak sering tantrum berlebihan yang tidak sesuai usianya, bisa jadi anak perlu dibawa berkonsultasi dengan psikolog. Nah, Mama juga perlu perhatikan milestone di tiap tahapan perkembangan, ya. Apabila ada yang belum tercapai atau masuk kategori red flag, jangan ragu untuk membawa anak ke psikolog.

5. Setelah mengalami kejadian besar

Perubahan yang tampak biasa bagi orangtua, bisa jadi hal yang besar bagi anak. Misalnya, pindah rumah, apalagi ke tempat yang jauh dan asing. Atau pindah sekolah. Kelahiran adik dan kehilangan orang yang dicintai juga bisa memengaruhi mental anak.

Menurut Dr. Eastman, psikolog keluarga dan dewasa dari Cleveland Clinic, hal yang penting juga bagi orangtua agar lebih memercayai insting atau feeling mereka.

“Anda yang paling memahami anak Anda. Jika sesuatu terasa tidak normal, percayalah pada insting itu. Lebih baik untuk memeriksakan jika Anda tidak yakin,” jelas Dr. Eastman. Ia juga mengungkapkan bahwa memvalidasi perasaan anak bisa sangat membantu anak menghadapi masalah karena mereka merasa didengar dan dimengerti.

Orangtua bisa memvalidasi perasaan anak dengan mengatakan, “Ini pasti berat untuk kamu”. Atau bisa juga, “Mama lihat kamu akhir-akhir ini seperti sedang sedih/kesulitan”. Dengan validasi seperti ini, menurut Dr. Eastman, akan membuat anak lebih terbuka untuk bicara, dan berusaha mencari jalan keluar dari masalah mereka.

Sebagai tambahan, sebelum membawa anak ke psikolog, pastikan orangtua memiliki catatan lengkap tumbuh kembang anak, ya. Psikolog mungkin juga akan menanyakan riwayat kesehatan anak sejak dalam kandungan sampai proses persalinan. Karena semua itu mungkin berpengaruh pada tumbuh kembang anak saat ini dan di masa mendatang.

Jika Mama melihat tanda-tanda seperti di atas, jangan ragu membawa anak ke psikolog ya, Mama! [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE

Bingung cara ajak anak diskusi soal bahaya online tanpa menghakimi? 

Dapatkan solusi anti-panik untuk mengatasi hoaks, cyberbullying, dan mengatur screen time dalam Panduan Smart Digital Parenting