Belajar Merengek: Sebuah Renungan tentang Maskulinitas, Feminisme, dan Kesehatan Mental Pria

Share

Satu hal yang sering dilupakan ketika membicarakan kesehatan mental laki-laki, adalah: beban emosional laki-laki bukan hanya merugikan laki-laki, tetapi juga perempuan di sekeliling mereka.

Ini bukan ingin menyalahkan individu, tetapi mengurai bagaimana sistem patriarki bekerja.

Dari seluruh responden dalam kuesioner yang saya buat untuk kebutuhan program kesehatan mental, pola yang muncul cukup identik: laki-laki itu seringkali merasa harus kuat, tidakboleh tampak rapuh, dan rata-rata memikul beban finansial maupun emosional sendirian.

Masalahnyaketika laki-laki tidak diberi ruang untuk merengek, menangis, atau memintatolong, mereka akhirnya memproyeksikan tekanan itu ke luar.

Dalam teori feminis, ini dikenal sebagai “patriarchal bargain”: laki-laki mengorbankankesehatan emosionalnya untuk mendapat posisi sosial sebagai pemimpin, pelindung, dan penyedia. Tetapi harga dari kesepakatan itu dibayar oleh keduanyalaki-laki dan perempuan. Seolah begini: Kepada laki-laki, sistem ini memberikan beban. Sementara untuk perempuan, sistem ini memberi konsekuensi.

Maskulinitas yang ambigu dan beban emosional yang akhirnya dirasakan perempuan

Ketika laki-laki diajari untuk diam, perempuan seringkali harus menjadi penerjemah emosikeluarga. Feminist author bell hooks menjelaskan bahwa perempuan kerap menjadi“emotional laborers”—penampung beban emosional keluarga karena laki-laki tidak diberiruang untuk mengolah emosinya sendiri.

Dari berbagai jawaban responden atas kuesioner yang saya sebarkan, memperlihatkan halitu dengan gamblang. Sebagian besar responden menjawab: Diam dan menahan sendiri; Tidak tahu harus mulai dari mana untuk bercerita; Takut dianggap lemah.

Nah, tetapi ketika ini terjadi pada pasangan yang sudah menikah, siapa yang paling seringmenjadi tempat pertama menampung ledakan emosi laki-laki? Tentunya, istri, pasangan, atauperempuan terdekat. Itu sebabnya salah satu responden berkata: “Tetap bersikap biasa di depan keluarga meski di sebaliknya tergumpal beban hidup yang berpilin.”

Biasa” di sini berarti tidak membebani keluarga dengan kelemahan. Tetapitidakmembebanikerap berubah menjaditidak berkomunikasi”, yang pada akhirnya justrumenguras energi mental perempuan, yang harus menebak-nebak batas, perubahan emosi, atautekanan yang tidak pernah diucapkan.

Fenomena ini juga tercatat dalam buku Allan & Barbara Pease, yang menjelaskan bahwarelasi heteroseksual sering terganggu oleh ketidakmampuan laki-laki memproses emosi. Hasil survei mengonfirmasi bahwa, banyak laki-laki menganggap cukup “diam” dan “tetap hidupsebagai bentuk tanggung jawab. Padahal mungkin bagi sebagian perempuan, diam itubukannya solusi. Karena, ‘diam’ seperti layaknya tembok, itu berarti tidak responsif.

Ketika “laki-kaki sebagai penyedia” menjadi bentuk kekerasan struktural

Menarik bahwa beberapa responden, terutama yang sudah menjadi ayah, menulis bahwakeluarga masih melihat ayah lebih sebagai penyedia ketimbang pendamping emosional. Ini terlihat dalam jawaban seperti: Hanya penyedia; Lebih banyak penyedia; Masyarakat melihatlaki-laki sebagai penanggung.
Dalam analisis feminis, pola ini adalah bentuk kekerasan struktural. Karena ketika peranpenyedia dijadikan tolok ukur utama kejantanan, maka laki-laki jadi rentan burnout, depresi, dan menarik diri dari relasi. Sementara, perempuan kehilangan pasangan emosional karenasuaminya hanya hadir sebagai mesin ekonomi. Dan akhirnya, keluarga berjalan tanpa pilar dialog dan diskusi, pasangan hanya melakukan ritual-ritual kewajiban.

Di banyak rumah tangga, perempuan akhirnya memikul dua beban sekaligus: beban domestikdan beban emosi laki-laki yang masalahnya tidak terkomunikasikan. Inilah relasi kuasa yang tidak terlihat: laki-laki diposisikan sebagai “yang kuat”, tapi perempuan harus merawatkekuatan itu agar tidak runtuh.

Feminisme dan laki-laki: Pelepasan, bukan ancaman

Salah satu miskonsepsi terbesar adalah anggapan bahwa feminisme adalah gerakan anti-lakilaki. Padahal feminisme menantang standar maskulinitas toksik yang justru merugikan laki-laki sendiri. Feminisme menawarkan gagasan bahwa: Laki-laki boleh lemah. Laki-laki bolehistirahat. Laki-laki boleh menangis. Laki-laki boleh meminta tolong. Laki-laki tidak harusmenjadi mesin nafkah. Laki-laki tidak harus memimpin setiap saat.

Bagi perempuan, perubahan ini berarti hubungan yang lebih sehat, karena pasangan merekahadir bukan hanya sebagai penyedia, tetapi sebagai manusia yang lengkap dan sehatsecaramental.

Dalam bukunya, David Deida membahas bahwa kedewasaan sejati bukan tentang dominasi, tetapi tentang kehadiran. Feminisme membawa gagasan yang sama tetapi lebih egaliter: kehadiran itu tidak boleh berlandaskan ketakutan untuk terlihat lemah. Kuesioner inimenunjukkan adanya transformasi kecil, ketika beberapa laki-laki berkata bahwakuatberarti jujur pada diri sendiri, berani mengakui kelemahan, atau tetap menjadi manusia.

Ini bukan definisi baru dalam feminismeini definisi yang sejak dulu diperjuangkan feminisagar laki-laki tidak perlu hidup dalam kerangkeng maskulinitas.

Dampak sistemik pada perempuan

Ketika laki-laki tidak diberi ruang emosional, dampaknya pada perempuan bersifat sistemik. Perempuan akan menjadi tempat sampah emosional, karena laki-laki tidak punya outlet lain. Maka, otomatis juga memicu kekerasan domestik yang meningkat.
Banyak studi global menunjukkan bahwa represi emosi pada laki-laki berkorelasi denganagresi dan kemarahan pasif.

Selain itu, perempuan kehilangan pasangan yang hadir secara emosional, karena laki-lakidiharuskan kuat, mereka cenderung menutup diri. Termasuk, ketika beban ekonomidisandarkan sepenuhnya pada laki-laki, yang membuat perempuan seolah tidak sah ketikaberkarier.

Ketika laki-laki tidak diberi ruang emosional oleh budaya maupun lingkungan terdekatnya, dampaknya tidak berhenti pada diri mereka sendiri. Ia bergerak keluar, masuk ke dinamikarelasi, dan secara sistemik membebani perempuan.

Dalam banyak hubungan, perempuan akhirnya menjadi satu-satunya tempat laki-lakimeluapkan stres, kemarahan, atau frustrasi yang tidak dapat mereka tunjukkan kepada siapapun—bukan kepada keluarga, bukan kepada teman laki-laki, dan bukan kepada tenagaprofesional. Fenomena ini dikenal sebagai emotional dumping, ketika emosi yang tidakpernah diproses dengan sehat ditumpahkan begitu saja kepada pasangan. Akibatnya, perempuan sering mengambil peran sebagai pendengar utama, penenang, mediator, sekaliguspemulih suasana, meski mereka sendiri juga menyimpan kelelahan.

Karena laki-laki jarang dibiasakan mengelola emosinya secara mandiri, beban emotional labormembaca suasana hati, menenangkan, memahami, mengakomodasijatuh hampirseluruhnya kepada perempuan. Ini menciptakan ketimpangan relasi yang halus namun nyata: laki-laki menjadi “diam” terhadap dunia, tetapipenuhterhadap pasangan; sementaraperempuan diharapkan stabil, sabar, dan selalu mampu menampung.

Dalam kerangka feminisme, pola ini adalah bentuk ketidakadilan emosional yang melekatdalam sistem patriarki, menunjukkan bahwa ketika laki-laki tak diizinkan merengek, perempuan justru harus menanggung seluruh gema emosinya.
Relasi dalam pasangan menjadi hierarkis, karena laki-laki dibesarkan untuk memimpinmeski tidak stabil secara emosional. Inilah yang disebut feminis kontemporer sebagai“patriarchy harms everyone.”

Patriarki memang menciptakan privilese laki-laki, tetapi privilese itu datang dengan hargayang menghancurkan.

Arah baru: Merengek sebagai gerakan politik

Dari sini, “belajar merengekbukan hanya strategi kesehatan mental, tetapi strategi pembongkaran relasi kuasa patriarkal:

  • Ketika laki-laki berani meminta tolong, perempuan tidak lagi menjadi penampung tunggal.
  • Ketika laki-laki menangis tanpa malu, keluarga lebih terbuka secara emosional.
  • Ketika laki-laki tidak menganggap perannya sebagai penyedia satu-satunya, perempuan tidak terjebak dalam ketergantungan ekonomi.
  • Ketika laki-laki mengakui batas, hubungan menjadi lebih setara.
  • Merengekatau tepatnya, menunjukkan kerentananbukan hanya urusan mental pribadi. Iaadalah tindakan politis: penolakan terhadap narasi bahwa laki-laki harus selalu dominan.

Penutup: Dari belajar merengek, kita belajar menjadi utuh

Pada akhirnya, kesehatan mental laki-laki bukan sekadar isu pribadiia adalah arsitektursosial yang menentukan kualitas hubungan, keluarga, dan masyarakat.

Ketika maskulinitas dibentuk terlalutak manusiawi’, laki-laki kehilangan kemampuan dasaruntuk merawat dirinya; ketika maskulinitas dibentuk terlalu diam dan dibungkam, perempuandipaksa menanggung kelebihan beban emosional yang bukan miliknya.

Feminisme menawarkan jalan tengah yang selama ini diabaikan: bahwa kekuatan tidakidentik dengan ketidakbolehan rapuh, bahwa kedewasaan tidak lahir dari penyangkalan, dan bahwa relasi setara hanya mungkin ketika kedua pihak memiliki akses yang sama terhadapkerentanan.

Maka, dari seluruh suara responden kuesioner kesehatan mental inidengan segala getir, humor, dan kejujuran yang muncultersirat pelajaran besar: bahwa laki-laki bukan tidakmau berbicara, mereka hanya dibesarkan dalam budaya yang tidak memberi mereka izinuntuk menjadi manusia seutuhnya. Karena itu, belajar merengekdalam arti mengakuibeban, mencari bantuan, dan memberi ruang pada kelemahanbukanlah kemunduran dalamkejantanan, melainkan evolusi paling penting dalam kemanusiaan.

Di titik itulah, laki-laki dan perempuan akhirnya dapat berdiri berdampingan, bukan karenasatu lebih kuat dari yang lain, tetapi karena keduanya sama-sama diizinkan untuk merasa.

Foggy FF

Seorang penulis novel, cerpenis dan penulis esai di beberapa platform digital. Ia aktif berkampanye tentang isu sosial, perempuan dan kesehatan mental. Penulis dapat dihubungi melalui Instagram @halamanhalimun dan email halamanhalimun@gmail.com

 


Cerita Mama berisi cerita yang ditulis oleh pembaca digitalMamaID seputar pengalamannya saat bersentuhan dengan dunia digital, baik saat menjalankan perannya sebagai individu, istri, ibu, pekerja, maupun peran-peran lain di masyarakat. Kirimkan cerita Mama melalui email redaksi@digitalmama.id atau digitalmama.id@gmail.com dengan subyek [Cerita Mama].

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE

Bingung cara ajak anak diskusi soal bahaya online tanpa menghakimi? 

Dapatkan solusi anti-panik untuk mengatasi hoaks, cyberbullying, dan mengatur screen time dalam Panduan Smart Digital Parenting