digitalMamaID — Di tengah kondisi Indonesia yang masih bergejolak, pasca aksi protes di berbagai daerah, geliat ekonomi rakyat ikut merasakan dampaknya. Para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi salah satu yang paling rentan setelah fitur Live TikTok diberhentikan sementara. Akibatnya banyak yang kehilangan ruang promosi hingga berakibat pada penurunan omzet.
Melihat situasi ini, sejumlah kalangan termasuk, influencer dan komunitas hadir dengan inisiatif sederhana namun berarti. Mereka menjadi jembatan promosi bagi para pelaku UMKM yang terdampak di media sosial mereka masing-masing. Gerakan sosial ini muncul sebagai bentuk solidaritas antar sesama warga Indonesia.
Dhatu Rembulan, salah satu influencer di Kota Bandung adalah salah satunya. Bersama sahabatnya, Isya Fakhrana dan Anggia Bonyta, ia menggunakan laman Instagram-nya untuk memberi ruang promosi bagi UMKM.
“Teman, kita mungkin nggak bisa cobain semua jualan makanan kalian, tapi kita bisa bantu promoin. Yuk yang jualan makanan, taruh di sini biar makin banyak yang jajan. Siapa tahu dari sini, jodoh pembeli ketemu sama jualanmu. Promosiin sekarang,” tulis Dhatu, Kamis, 4 September 2025.
Terhitung, sudah ada lebih dari 1200 orang yang memenuhi Ruang Promo UMKM tersebut. Tidak hanya UMKM asal Bandung saja, namun UMKM dari berbagai daerah. Produknya pun bermacam-macam, mulai dari makanan, minuman hingga fashion.
Salah satu warganet yang ikut meramaikan Ruang Promo UMKM ini adalah akun @putrinesaha. “Harus tetap sehat di negeri yang sakit, kalau mau makan sehat tapi lagi repot nggak bisa masak, bisa order Dietbox, Your Tasty Diet, tersedia di GooFood, GrabFood, Shopeefood,” tulisnya dalam kolom komentar.
Selain Dhatu, dikutip dari Suara, masih banyak influencer dan selebriti lain yang mempersilahkan media sosialnya menjadi ruang promosi bagi UMKM, diantaranya ada Ayu Dewi, Tya Ariestya, Felicya Angelista, Willie Salim, Andrea Dian, dan Vilmei.
Solidaritas warga ASEAN #SEAblings
Selain menunjukkan solidaritas melalui promosi UMKM, inisiatif untuk membantu para pengemudi ojek online (ojol), yang ikut terdampak, juga datang dari warga ASEAN. Mereka beramai-ramai membuat pesanan makanan, obat-obatan bahkan uang sebagai bentuk dukungan nyata dan solidaritas.
Tagar #SEAblings pun muncul dan ramai di media sosial. Bahkan kantor berita Reuters, BBC hingga South China Morning Post (SCMP) memuat solidaritas lintas negara ini dalam berita. Dalam BBC, Tara (34), warga Pulau Cebu, Filipina dua kali memesan makanan untuk driver ojol di Jakarta. Makanan yang ia pesan adalah dua kotak nasi ayam dengan sambal. Selain itu, ia juga pernah memesankan satu kardus air mineral.
Kepada BBC ia mengatakan merasa harus membantu karena pernah menggunakan ojol selama berlibur di Indonesia. “Saya baru-baru ini bepergian keliling Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dan saya selalu menggunakan ojek. Driver selalu ramah,” ujar Tara.
BBC juga menyoroti kekaguman Tara terhadap demonstran di Indonesia yang menginspirasi negara dengan situasi yang sama. “Pemerintah kita sama buruk dan korupnya. Melihat kalian (orang Indonesia) bersatu melawan politisi sungguh menginspirasi, dan mengapa saya tidak mendukung kalian dalam hal ini?” tulisnya.
BBC juga memuat pengakuan salah satu pengemudi ojol di Jakarta Barat, Taufik yang mendapat semangkuk nasi ayam dan minuman dari Singapura. Disebutkan bahwa ia merasa terbantu sebab pesanan sudah sepi sejak unjuk rasa dimulai.
Sementara itu SCMP, kantor berita yang berpusat di Hong Kong, juga menyoroti aksi solidaritas warga ASEAN dalam tulisan yang berjudul “The ‘Grab Movement’: Southeast Asia sends Indonesia’s protesters food, solidarity” pada Rabu (3/9/2025).
Dalam beritanya, SCMP menggambarkan bagaimana aksi solidaritas mulai dari Malaysia menyebar ke seluruh Asia Tenggara, dari Manila hingga Bangkok dan mengubah inisiatif kecil menjadi kampanye lintas negara melalui penggunaan aplikasi Grab untuk mengirim makanan kepada pengemudi ojol di Indonesia.
SCMP juga menyoroti pengakuan driver Shopeefood di Surabaya, Rio Maulana (26) yang mendapat makanan gratis dari driver ojol lainnya. Disebutkan bahwa Rio merasa hal tersebut tidak biasa dan mendapati bahwa makanan tersebut diberikan oleh orang Malaysia.
Selain itu, SCMP juga memuat sudut pandang warga Malaysia, Mohd Zaify yang membantu dengan cara mentransfer uang langsung ke penjual kaki lima yang ia temukan daring. Zaify yang kerap berkunjung ke Indonesia mengaku mengetahui betapa sulitnya hidup kebanyakan orang di Indonesia. “Jadi, karena sekarang ada protes yang meluas, tentu saja saya ingin menunjukkan solidaritas kepada saudara-saudari saya di Indonesia,” imbuh dia.
Bukan hal baru
Gerakan sosial kolektif ini sebetulnya bukan hal asing di Indonesia. Dulu, sewaktu pandemi Covid-19 melanda dan pemerintah kewalahan, ada inisiatif #WargaBantuWarga, masyarakat sipil turun langsung, saling membantu warga yang menjalani isolasi mandiri. Dari berbagi informasi, makanan, oksigen, hingga penggalangan dana, semua digerakkan oleh solidaritas warga.
Padahal, gerakan seperti itu seharusnya dilakukan oleh negara. Negara punya mandat, anggaran, dan aparat untuk memastikan rakyat tidak dibiarkan berjuang sendirian. Namun, yang sering terasa justru sebaliknya, ketika krisis datang, masyarakat autopilot, dibiarkan bergerak sendiri.
Di mana negara? [*]






