digitalMamaID — Apa jadinya ketika hidup yang tampak sempurna justru perlahan berubah jadi penjara? Film Netflix A Normal Woman, garapan Lucky Kuswandi dengan Marissa Anita dan Dion Wiyoko sebagai pemeran utama, menghadirkan potret yang begitu dekat dengan keseharian banyak perempuan: peran ganda, tekanan sosial, hingga krisis identitas yang kerap tak terucap.
Film yang dirilis pada Juli 2025 ini mengisahkan Milla (Marissa Anita), seorang perempuan yang dari luar tampak hidup sempurna. Ia adalah seorang sosialita Jakarta yang menikah dengan Jonathan (Dion Wiyoko), seorang pengusaha ternama. Dengan rumah mewah, pesta-pesta glamor, serta status sosial yang membuat banyak orang iri, hidup Milla tampak nyaris tanpa cela. Namun, di balik semua itu, ia menyimpan tekanan yang pelan-pelan menghancurkan dirinya dari dalam.
Konflik dimulai ketika Milla harus menyiapkan pesta ulang tahun mewah untuk mertuanya. Pada momen inilah tubuhnya mulai mengirimkan sinyal aneh: muncul ruam misterius, mimisan berulang, halusinasi, hingga mimpi-mimpi menakutkan. Awalnya, Milla tidak memahami apa yang sedang terjadi, sampai akhirnya ia memutuskan untuk menemui seorang psikiater. Dari hasil konsultasi itu, Milla divonis mengalami depresi ringan.
Diagnosis tersebut membuka kotak pandora: trauma masa kecil yang selama ini terkubur rapat mulai muncul kembali. Sayangnya, alih-alih mendapatkan dukungan penuh dari keluarga, Milla justru dihadapkan pada komentar menyakitkan. Ia dianggap kurang bersyukur, jarang beribadah, bahkan dicap hanya mencari perhatian.
Suami dan mertuanya mencoba “mengobati” Milla dengan cara-cara yang justru menambah luka. Mereka memanggil pendeta untuk mengusir roh halus, bahkan memaksanya mengonsumsi ramuan makanan menjijikkan dengan keyakinan bahwa itu bisa menyembuhkannya. Bukannya sembuh, Milla justru semakin cemas, tertekan, dan terjebak dalam lingkaran ketidakpastian. Dari sinilah perjalanannya dimulai. Seorang perempuan yang ingin bebas dari “penjara” kesempurnaan.
Fun facts di balik layar
Film ini disutradarai oleh Lucky Kuswandi, seorang sutradara yang dikenal kerap menyajikan film dengan visual kuat sekaligus menyentuh isu sosial. Lucky mengaku terinspirasi dari buku The Myth of Normal: Trauma, Illness, and Healing in a Toxic Culture karya Gabor Maté dan Daniel Maté. Buku tersebut membongkar bagaimana masyarakat mendefinisikan “normal,” serta bagaimana tubuh manusia sering kali memberi tanda ketika beban mental tidak tertangani dengan baik.
Salah satu hal menarik adalah rumah megah milik Jonathan ternyata bukan rumah sungguhan. Rumah tersebut dibangun di dalam studio dengan desain khusus yang menyesuaikan karakter Jonathan. Dalam sebuah video yang diunggah akun Instagram @Sodamachinefilms pada 28 Juli 2025, Lucky menjelaskan alasannya:
“Kalau kita mencari rumah yang sudah jadi, belum tentu bisa sesuai dengan spesifikasi karakter. Jadi, membangun set rumah sendiri memungkinkan kami menciptakan detail yang lebih autentik,” ujar Lucky.
Ted Kho, selaku production designer, menambahkan bahwa desain rumah Jonathan dibuat sekaku mungkin. Hal itu menjadi simbol karakter Jonathan yang kaku, mengontrol, dan perfeksionis. Dengan begitu, rumah bukan hanya latar tempat, tetapi juga menjadi cerminan psikologis karakter utama.
Visual mencekam
Secara visual, film Netflix “A Normal Woman” tampil dengan palet warna monokrom dan abu-abu. Pilihan warna ini menciptakan atmosfer yang tenang sekaligus mengganggu. Ketika menonton, penonton akan merasa “nyaman” sekaligus “tidak nyaman,” seolah merasakan kegelisahan yang dialami Milla. Visual tersebut bukan hanya estetika, tetapi juga simbol dunia internal Milla yang rapuh di balik kehidupan mewahnya.
Selain itu, sinematografi film ini juga menonjolkan detail-detail kecil yang penuh makna: kamera yang sering berfokus pada ekspresi wajah Milla, close-up pada benda-benda rumah tangga, hingga penggunaan cahaya redup yang menyiratkan “kurangnya kehidupan” di dalam rumah besar itu.
Pendalaman karakter
Untuk memerankan Milla, Marissa Anita melakukan persiapan yang cukup intens. Ia berdiskusi panjang dengan sutradara dan juga mendalami literatur psikologi agar bisa merepresentasikan kondisi mental seorang perempuan yang berjuang dengan trauma dan depresi.
Dalam wawancaranya bersama TS Media lewat podcast berjudul “Marissa Anita Rindu Jadi Jurnalis, dan Alasan Tidak Punya Keturunan”, Marissa menekankan pesan penting yang ingin ia sampaikan melalui karakter Milla:
“Perempuan sering kali punya peran lebih banyak daripada laki-laki dalam masyarakat. Kita jadi istri, menantu, ibu, tapi setelah semua atribut itu dilepas, kita ini siapa? Pertanyaan itu sederhana, tapi fundamental, dan banyak dari kita tidak bisa langsung menjawabnya,” tuturnya
Bagi Marissa, mengenal diri sendiri adalah sesuatu yang esensial, tapi sering terlupakan. Terutama di era media sosial, di mana orang bisa terus mengisi waktu dengan scroll tanpa henti.
“Padahal bosan itu penting. Saat kita bosan, kita bisa bertanya pada diri sendiri: siapa saya sebenarnya, apa yang saya rasakan, apa yang saya butuhkan?” ungkapnya lagi.
Mengapa film ini relevan untuk perempuan?
A Normal Woman bukan sekadar kisah tentang seorang perempuan kaya yang hidupnya tampak sempurna. Lebih dari itu, film ini adalah cermin bagi banyak perempuan yang diam-diam merasa terjebak dalam peran sosial yang “dituntut” oleh lingkungan.
Banyak perempuan yang dituntut untuk selalu tampil sempurna: menjadi istri yang patuh, menantu yang baik, ibu yang penuh kasih, sekaligus pribadi yang sukses di luar rumah. Tekanan tersebut bisa memicu krisis identitas, bahkan masalah kesehatan mental.
Film ini dengan berani membicarakan hal-hal yang kerap dianggap tabu, terutama di masyarakat kita. Depresi masih sering disalahpahami, dan perempuan yang menunjukkan gejalanya sering dianggap “kurang iman” atau “tidak bersyukur.” Melalui karakter Milla, film ini mengajak penonton untuk lebih empati sekaligus membuka ruang diskusi tentang kesehatan mental perempuan.
A Normal Woman adalah film yang kuat, relevan, dan menyentuh. Dengan arahan Lucky Kuswandi yang detail, akting Marissa Anita yang total, serta visual yang simbolis, film ini berhasil menghadirkan pengalaman menonton yang tidak hanya emosional tetapi juga reflektif.
Film ini layak ditonton, terutama oleh perempuan yang sering kali harus memikul banyak peran sekaligus. Lebih dari sekadar hiburan, A Normal Woman adalah pengingat bahwa tidak ada standar kesempurnaan universal, dan yang terpenting adalah keberanian untuk mengenal serta menerima diri sendiri.
Apakah Mama sudah menonton film Netflix “A Normal Woman” ini? [*]






