digitalMamaID — Tidak ada yang benar-benar siap menjalani kehidupan keluarga yang penuh luka. Namun, sering kali cinta seorang ibu menjadi alasan utama mengapa sebuah keluarga tetap bisa bertahan, meski tanpa sandaran seorang ayah. Kisah inilah yang diangkat dalam film “Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah”, sebuah melodrama keluarga yang resmi tayang di bioskop pada Kamis, 4 September 2025.
Disutradarai oleh Kuntz Agus dan diproduseri oleh Sunil Samtani bersama Rapi Films, film ini membungkus cerita sederhana dengan begitu emosional. Penonton diajak masuk ke ruang-ruang paling pribadi dalam sebuah keluarga: seorang ibu yang berjuang sendirian, seorang ayah yang abai akan tanggung jawab, dan anak-anak yang tumbuh dengan luka batin. Cerita ini lahir dari sebuah pertanyaan reflektif seorang anak, “Bagaimana kalau Ibu tidak menikah dengan Ayah?” Pertanyaan yang sederhana, tapi menyimpan banyak pelajaran berharga dan relevan dengan isu sosial yang kita hadapi hari ini.
Beban ganda seorang ibu
Film ini menyoroti kisah Wulan (Sha Ine Febriyanti), seorang ibu yang digambarkan kuat dan tegar. Ia memilih bertahan dalam pernikahan dengan Tio (Bucek Depp), suami yang keras, kecanduan judi, dan tak pernah menafkahi keluarga. Dalam setiap adegan, Wulan tampil sebagai tulang punggung keluarga, menopang ketiga anaknya sekaligus menjaga rumah tetap utuh.
Ada satu momen yang begitu menyentuh hati, ketika ia berkata, “Sekalipun Ibu harus menjalani seperti ini ribuan kali, Ibu tidak menyesal. Karena ingin tetap melihat wajah kalian dan bersama kalian.”
Kalimat sederhana ini menegaskan bahwa bagi seorang ibu, anak-anak adalah alasan terbesar untuk bertahan, meski hidup penuh luka.

Anak-anak yang tumbuh dengan luka
Film ini juga menyoroti luka batin anak-anak Wulan. Anis (Eva Celia), si sulung yang terlihat keras, sesungguhnya paling tersakiti setiap kali melihat ibunya diperlakukan tidak adil. Asya (Nayla D. Purnama), si bungsu, lembut dan penuh empati pada luka ibunya.
Di tengah mereka ada Alin (Amanda Rawles), si anak tengah sekaligus pusat cerita. Ia berani membela ibunya, lantang menegur ayahnya, tapi juga memikul rasa bersalah yang berat. Keberaniannya kerap terlihat seperti ketegaran, padahal hatinya rapuh. Dalam satu dialog ia berkata:
“Kalau Ibu nggak nikah sama Ayah, terus bikin aku nggak lahir di dunia ini, aku nggak apa-apa. Asal Ibu bisa punya hidup yang lebih baik.”
Dialog ini menyayat hati, menggambarkan dalamnya luka batin seorang anak ketika menyaksikan ibunya menderita.
Sosok ayah yang hilang
Fenomena fatherless juga hadir dalam film ini. Sosok ayah yang ada secara fisik, tapi absen dalam tanggung jawab. Tio (Bucek Depp) hadir hanya untuk menambah luka, pulang ketika butuh uang, bukan ketika keluarganya membutuhkan.
Adegan sederhana namun kuat tergambar saat Wulan memanjat atap di tengah hujan deras, menutup genteng yang bocor sendirian. Di titik itu, penonton merasakan betapa kosongnya peran seorang suami sebagai pelindung keluarga.
Film ini juga mengingatkan tentang tanda bahaya dalam hubungan atau red flag, seperti pasangan yang kecanduan judi, enggan bekerja, dan bergantung pada istri. Hubungan seperti ini jelas merusak keharmonisan keluarga dan menjadi beban mental.
Mengirim pesan yang jelas, memilih pasangan yang tepat adalah langkah penting untuk membangun rumah tangga yang sehat. Menikah di usia muda bukanlah jaminan kebahagiaan. Yang lebih penting adalah kesiapan finansial, mental, dan kesanggupan menghadapi tantangan kehidupan berumah tangga.
“Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah” bukan sekadar film keluarga, tapi cermin bagi banyak perempuan. Tentang ibu-ibu yang memilih bertahan meski sakit, tentang anak-anak yang tumbuh dengan luka, dan tentang cinta seorang ibu yang menjadi kekuatan di tengah rapuhnya keluarga.
Bagi para Mama, ada satu renungan penting: anak-anak tidak bisa memilih siapa ayah mereka, tetapi seorang ibu bisa memilih siapa yang pantas menjadi ayah bagi anak-anaknya. Jika pilihan itu ternyata membawa luka, cinta seorang ibu mungkin tidak bisa menyembuhkan sepenuhnya, tapi bisa menjadi obat yang menjaga anak-anak tetap kuat.
Film ini adalah potret sosial tentang patriarki, fatherless, komunikasi dalam keluarga, serta pengorbanan seorang ibu. Sebuah kisah yang relevan, emosional, dan begitu dekat dengan kehidupan banyak Mama di luar sana. [*]






