Memperingati Hari Pencegahan Bunuh Diri, Kenali “Smiling Depression”

Ilustrasi Hari Kesehatan Mental Sedunia
Share

digitalMamaID — Hari pencegahan bunuh diri sedunia diperingati setiap tahun pada tanggal 10 September. Peringatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan mental. Tidak mudah mengenali orang yang sedang mengalami persoalan kesehatan mental, karena ada situasi yang disebut smiling depression. Apa itu smiling depression?

Masalah kesehatan mental tidak mengenal usia, gender, dan status sosial. Siapa pun bisa mengalami gangguan mental. Jika dibiarkan bisa berujung pada depresi dan depresi adalah penyebab terbesar pasien memutuskan melakukan bunuh diri.

Apa itu smiling depression?

Jika sampai pada tahap ingin melakukan bunuh diri, maka keinginan pelaku untuk melakukan bunuh diri bisa terjadi karena rasa sudah tidak sanggup lagi menanggung beban permasalahan dan tekanan yang secara terus menerus dialaminya. Namun perlu dicatat juga, tidak semua orang dengan gangguan mental melakukan bunuh diri.

Temuan lain juga menyebutkan, ada orang yang nampak baik-baik saja, beraktivitas normal, dan tidak ada diagnosis gangguan mental apapun, namun kemudian memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Artinya mereka yang terlihat “baik-baik saja” pun ternyata sedang mengalami kesulitan namun berhasil disembunyikannya. Kondisi ini, disebut smiling depression. 

Menurut Noerul Ikmar, S.KM dari Rumah Sakit Jiwa Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang, smiling depression adalah kondisi di mana orang tersebut aktif menyembunyikan penderitaannya. Hal itu karena ia tidak ingin membebani orang lain, malu, takut dianggap lemah, atau ingin mempertahankan citra diri yang sempurna. Akhirnya, penderita berusaha menyangkal kondisinya.

“Kita bisa saja terlihat biasa saja, penuh senyuman atau tawa padahal sedang mengalami depresi. Hal ini disebut smiling depressionatau tersenyum untuk menutupi rasa depresinya. Tindakan tersebut cukup berbahaya karena orang lain akan sulit memahami kondisi psikologis kita. Kondisi tersebut bisa membuat kita terlambat untuk memperoleh pertolongan,” kata Noerul dikutip dari Website RSJ Radjiman Wediodiningrat.

Oleh karena itu, bunuh diri bukan hanya persoalan individu. Bunuh diri merupakan isu kesehatan masyarakat yang membutuhkan perhatian serius dari kita semua.

Saling peduli, saling jaga

Dosen Sosiologi FISIP Universitas Maritim Raja Ali Haji (Umrah) Dr Teguh Setiandika Igiasi mengatakan, penguatan peran masyarakat sebagai agen sosial menjadi salah satu upaya penting dalam mencegah terjadinya bunuh diri.

“Kontrol sosial harus diperkuat, masyarakat harus menjadi agen-agen sosial, untuk saling peduli, saling menjaga satu sama lainnya. Bukan saling kepo ya,” kata Teguh dilansir dari Antara.

Menurut sosiolog asal Kepri itu, kasus bunuh diri bila dilihat dari sudut pandang sosial sangat kompleks. Di satu sisi, aturan sosial yang ketat membuat seseorang mengasingkan diri karena tidak mampu beradaptasi dengan pembatasan-pembatasan serta sanksi-sanksi dari norma sosial yang dijalani. Ketika tidak mampu beradaptasi akhirnya memutuskan mengakhiri hidupnya.

Di sisi lain, aturan yang dilonggarkan atau luwes juga membuat seorang individu melakukan eksperimen dalam hidupnya karena tidak adanya larangan tadi. Seperti misalnya mencoba minuman keras, berselingkuh atau main perempuan, sehingga ketika pilihannya tidak sesuai harapannya, berputus asa hingga berpotensi melakukan bunuh diri.

Menurut Teguh, dengan membangun kembali kepedulian masyarakat sebagai agen kontrol sosial dapat menjadi salah satu upaya untuk mendeteksi dan mencegah bunuh diri tersebut.

“Ketika seseorang berputus asa, yang mereka perlukan adalah tempat untuk bercerita, lalu solusi dari permasalahan, bukan malah pengabaian,” katanya.

Oleh karena itu, jika masyarakat melihat teman, tetangga atau kerabatnya memperlihatkan perilaku yang tidak biasanya, ada baiknya menunjukkan kepedulian untuk memastikan kondisi orang tersebut.

Dengan adanya kontrol sosial ini, kata dia, masyarakat di lingkungan bisa saling menjaga, menguatkan dan mendukung satu sama lainnya. Sehingga ketika ada persoalan bisa saling membantu.

Hasil skrining kesehatan jiwa

Dilansir dari Bloomberg pada Kamis, 11 September 2025, Kementerian Kesehatan telah melakukan skrining kesehatan jiwa dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG) kepada 13 juta orang di 38 Provinsi. Hasilnya, sekitar 1 persen atau 135 ribu warga terdeteksi mengalami gejala depresi dan 0,9 persen atau 118 ribu orang dilanda gejala kecemasan.

Dari skrining kesehatan jiwa dewasa dan lansia per 15 Agustus 2025 juga diketahui bahwa DKI Jakarta mencatat prevalensi gejala depresi dan cemas tertinggi di Indonesia. Hal ini diungkapkan oleh Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan, Imran Pambudi.

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan dari 83.501 orang yang menjalani skrining di Ibu Kota, sebanyak 9,3 persen diduga mengalami gejala depresi dan 7,6 persen menunjukkan gejala kecemasan.

“Jadi yang paling tinggi adalah di DKI Jakarta, di DKI itu yang depresi 9,3 persen, yang cemas ada 7,6 persen,” kata Imran.

Selain Jakarta, provinsi dengan prevalensi gejala depresi tertinggi adalah Papua sebesar 3,7 persen dari total 8.463 orang yang menjalani skrining. Kemudian Kepulauan Riau 3,4 persen dari total 20.557 yang menjalani skrining, dan Kalimantan Timur 3,3 persen dari total 56.075 orang yang menjalani skrining.

selanjutnya Prevalensi gejala kecemasan tertinggi setelah Jakarta terdapat di Papua Barat Daya 2,6 persen dari total 10.369 orang, Papua 2,8 persen dari 8.463 orang yang di skrining, dan Kepulauan Riau 2,8 persen dari total 20.557 orang yang diskrining.

Namun, dari sisi cakupan skrining, Jakarta justru berada di posisi bawah dengan hanya 1,1 persen dari total sasaran yang telah diskrining. Kondisi ini dinilai menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah dan tenaga kesehatan untuk memperluas deteksi dini sekaligus memperkuat layanan rujukan bagi mereka yang menunjukkan gejala. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE

Bingung cara ajak anak diskusi soal bahaya online tanpa menghakimi? 

Dapatkan solusi anti-panik untuk mengatasi hoaks, cyberbullying, dan mengatur screen time dalam Panduan Smart Digital Parenting