digitalMamaID — Menjaga kesehatan dan perkembangan janin adalah hal yang harus diperhatikan oleh calon ayah dan ibu. Tetapi perkembangan janin ini tidak hanya dipengaruhi oleh nutrisi, melainkan juga kondisi mental dan emosional ibunya, termasuk stimulus yang positif dari lingkungan sekitar.
Hal ini diungkapkan oleh Manager of General Affair Litara Foundation, Aldi Ramadhan Fahlevi dalam acara Mama Mingle Fest Vol.2 yang diinisiasi oleh digitalMamaID. Tahun ini, Mama Mingle Fest bertajuk Mother Power diselenggarakan di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Kantor Perwakilan Jawa Barat, Jalan P.H.H. Mustafa Kota Bandung, Sabtu, 13 September 2025.
Menurut Aldi, ada banyak cara yang bisa dilakukan oleh orangtua untuk menstimulasi janin dengan rangsangan-rangsangan positif. Seperti memperdengarkan ayat-ayat Alquran bagi umat Islam, mendengarkan nyanyian-nyanyian rohani bagi agama Kristen, membacakan buku-buku cerita anak, atau sekedar mengajak ngobrol janin.
“Ini adalah hal-hal menyenangkan yang sebenarnya bukan hanya bermanfaat untuk janin tapi juga untuk ibunya agar pikirannya tidak kemana-mana, kan selama masa kehamilan pikiran ibu itu sangat mempengaruhi kandungan, bisa jadi kalau ibunya stres nanti janin dalam kandungan juga ikut terpengaruh,” kata Aldi.

Manfaat membaca
Menurut Aldi, membaca saat hamil memberikan manfaat bagi ibu untuk mengurangi stres dan meningkatkan mood yang secara tidak langsung akan berdampak positif pada janin. Seperti mempererat ikatan emosional ibu dan janin, merangsang perkembangan otak, memperkaya kosakata, hingga membangun kebiasaan membaca sejak dini pada anak.
“Jadi bonding dimulai bukan hanya sejak dia lahir tetapi juga sejak janin masih di dalam perut ibunya. Apalagi jika sudah memasuki trimester tiga, ayah juga bisa ikut berperan aktif mengusap perut dengan lembut sambil mengajak ngobrol dengan kalimat-kalimat positif, diperdengarkan cerita menarik, minimal otaknya terangsang dan bisa jadi janin ikut merespon dengan gerakannya,” tutur Aldi.
Menurut Aldi, ketika anak sudah terstimulasi dengan beragam bacaan sejak dalam kandungan maka akan mudah bagi orang tua untuk mengajak anak menjadi gemar membaca di kemudian hari. Tentunya dengan syarat pembiasaan ini harus dilakukan konsisten setelah mereka lahir.
Membangun kebiasaan membaca sejak dini
Orangtua bisa menumbuhkan minat baca anak sejak dini dengan menciptakan lingkungan yang mendukung. Seperti mendirikan pojok baca, menyediakan buku-buku yang digemari anak, mengajak anak berkunjung ke perpustakaan atau toko buku sebagai kegiatan rutin.
“Dan yang paling penting orang tua juga harus memberikan contoh jika ingin anaknya suka membaca,” kata Aldi.
Misalnya menyediakan satu waktu untuk membaca secara bergantian kemudian berdiskusi mengenai isi cerita yang telah dibaca. Menurut Aldi, hal ini jika dilakukan secara konsisten akan menciptakan rutinitas membaca yang menyenangkan, selain itu akan membantu anak memahami konteks bacaannya, memancing daya kritis anak, dan membantu anak memahami kalimat yang mungkin kurang dipahami mereka.
“Jika anak sudah mampu memahami konteks bacaanya, maka anak akan menikmati dan kecintaan terhadap dunia membaca akan tumbuh dengan sendirinya,” kata Aldi.
Hal ini bisa terjadi karena kecintaan pada buku sudah dipupuk sejak kecil dan bukan karena dipaksa, diancam, atau tuntutan, melainkan karena rasa suka dan rasa cintanya pada dunia membaca.

Membantu anak memahami pelajaran di sekolah
Penerbit buku-buku anak sudah aware dalam menyediakan buku sesuai dengan perkembangan usia anak. Karena itu tugas orang tua adalah menghadirkan buku-buku tersebut di rumah dan menciptakan rutinitas membaca dengan anak.
Anak yang sudah terbiasa membaca akan lebih siap dan lebih mudah dalam menyerap pelajaran. Keuntungan ini tidak serta merta dimiliki anak, melainkan dari proses panjang dari kebiasaan yang dibangu dari rutinitas membaca biasa, membaca nyaring, hingga membaca kritis dengan cara berdiskusi bersama orangtua.
“Sebetulnya pemahaman anak pada semua mata pelajaran itu tergantung pada (tingkat) literasi dia dalam membaca,” kata Aldi.
Karena menurutnya, aktifitas membaca itu tidak hanya berhenti pada mengenal huruf dan mengenal kata saja, melainkan juga bagaimana dia memahami konteks dari bacaan tersebut. Begitu pula ketika anak belajar matematik, IPA, IPS, maka pondasi belajarnya adalah membaca.
Ketika kebiasaan membaca itu tumbuh dan dia harus membaca buku pelajaran yang sangat tidak menyenangkan, tidak ada gambarnya, tapi karena sudah terstimulasi dari awal bahwa dia sudah senang membaca, haus akan bacaan-bacaan, jadi dia tidak akan kaget lagi dengan bacaan-bacaan pelajaran yang begitu banyaknya.
“Ketika dia membaca buku pelajaran tapi konteks pelajarannya tidak tahu maka (pelajaran) itu tidak akan masuk, karena itu pembiasaan (membaca) sejak dini sangat penting dalam membantu anak memahami pelajaran di sekolah,” tambahnya. [*]






