Co-Parenting, Kolaborasi Mengasuh Anak

Ilustrasi co-parenting
Share

digitalMamaID — Tidak sedikit anak yang dibesarkan oleh orangtua yang tidak tinggal bersama atau sudah bercerai. Kondisi ini terkadang membuat anak merasa bingung, kehilangan arah, bahkan menarik diri dari lingkungan sekitarnya. Pasangan yang telah berpisah kini banyak yang mempraktikkan co-parenting.

Berdasarkan data Sistem Informasi Gender dan Anak (SIGA) Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) tahun 2022, presentase penduduk usia nol sampai 17 tahun yang tidak tinggal bersama orangtua adalah 3,60 persen.

Co-parenting jadi salah satu cara agar anak tetap mendapatkan kasih sayang, perhatian, rasa aman, dan dukungan dari kedua orangtuanya. Praktik ini mulai digunakan masyarakat umum dan ditunjukkan oleh sejumlah public figure. Sebut saja Acha Septriasa dan mantan suaminya Vicky Kharisma, serta Gading Marten dan Gisella Anastasia adalah contoh yang mempraktikkan co-parenting. Hal ini sebagai usaha agar tumbuh kembang buah hati mereka tetap terjaga. Meski tidak lagi hidup bersama, mereka berusaha memberikan kasih sayang penuh dan dukungan.

Lalu apa itu co-parenting?

Dilansir dari Verywell Mind, co-parenting merupakan kesepakatan orangtua bekerja sama dan berbagi tanggung jawab dalam membesarkan anak, meskipun mereka sudah tidak lagi menikah atau tidak memiliki hubungan romantis.

Mungkin setelah berpisah atau bercerai, berinteraksi secara rutin dan menjaga hubungan yang baik akan terasa sulit. Namun, demi anak, orangtua perlu berlatih dan belajar melakukannya agar mereka tetap bisa tumbuh dengan rasa aman, terlindungi, serta merasakan kasih sayang dan dukungan dari kedua orang tua.

Hal ini penting untuk membantu anak beradaptasi. Penelitian menunjukkan bahwa konflik antara orangtua setelah perceraian atau perpisahan dapat membuat anak jauh lebih sulit mengatasi situasi dan perubahan.

Menurut psikolog klinis dan juga profesor di Yeshiva University, Sabrina Romanoff, PsyD, anak-anak sering kali kesulitan menghadapi perubahan dalam keluarga. Penambahan, pengurangan, atau pengalihan figur orang tua bisa menjadi hal yang sangat berat bagi mereka.

“Menunjukkan hubungan yang kooperatif dan saling menghormati di depan anak dapat membantu meningkatkan perkembangan mereka dalam jangka panjang,” ungkapnya masih dalam sumber yang sama.

Agar co-parenting bisa efektif dan sehat, orang tua perlu melakukan beberapa hal, diantaranya:

  • Mengatur jadwal kunjungan atau bertemu anak dengan jelas termasuk hari biasa, akhir pekan dan liburan.
  • Menyusun rutinitas sehari-hari yang konsisten antara rumah satu dan rumah lainnya, misalnya jam tidur, waktu sekolah dan kegiatan tambahan
  • Menyepakati soal pendidikan, kesehatan dan kebutuhan finansial anak bersama-sama
  • Menjaga komunikasi yang baik antar orang tua, terbuka soal perkembangan anak, masalah atau kejadian penting
  • Fleksibilitas, siap menghadapi perubahan situasi misalnya jadwal berubah, kondisi darurat, kebutuhan anak berubah

Psikolog: fokus menjadi orangtua bukan mantan pasangan

Menurut psikolog klinis anak dan remaja Lydia Agnes Gultom, M.Psi., dalam Kompas.com, untuk menerapkan co-parenting yang baik dan efektif, demi perkembangan anak yang mumpuni, harus ada komunikasi yang sehat antara orang tua. “Dan tetap ada kehangatan ketika mereka menjalankan fungsinya sebagai orangtua, dan saling mendukung peran satu sama lain. Artinya tidak berkonflik di depan anak,” ujar Lydia.

Kemudian, orangtua juga harus bisa memposisikan diri ketika mereka sedang menjadi ayah dan ibu, dan ketika mereka sedang menjadi mantan suami dan mantan istri. Maksudnya, ketika sedang bersama dengan anak, ubah pola pikir menjadi ‘Saya adalah ayah atau ibu yang sedang menemani anak’, bukan ‘Saya sedang menemani anak bersama mantan suami atau istri’.

Ketika masih memposisikan diri sebagai mantan suami dan mantan istri, konflik berpotensi muncul karena masih ada perasaan kesal kepada mantan pasangan. Sementara itu, ketika sedang menerapkan co-parenting, perasaan apapun yang sifatnya personal, sepenuhnya harus dikesampingkan demi anak.

“Kalau hubungan antara mantan suami dan mantan istri memang enggak baik karena konflik, saat co-parenting ya diubah perannya. Kita perlu sadar bahwa peran kita sebagai orangtua, bukan mantan suami dan mantan istri,” terangnya.

Hal tersebut memang tidak semudah seperti apa yang dikatakan. Namun, orangtua harus berusaha, dengan kerendahan hati, untuk benar-benar fokus hanya memikirkan dan mementingkan yang terbaik untuk anak, bukan untuk diri sendiri. “Pasti kan enggak mudah juga untuk menahan-nahan rasa kesal,” pungkasnya. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE

Bingung cara ajak anak diskusi soal bahaya online tanpa menghakimi? 

Dapatkan solusi anti-panik untuk mengatasi hoaks, cyberbullying, dan mengatur screen time dalam Panduan Smart Digital Parenting