digitalMamaID — Gim Roblox baru-baru ini menjadi sorotan pemerintah karena dianggap sebagai aplikasi gim yang tidak ramah anak. Kini Roblox sedang merencanakan fitur kencan virtual. Bagaimana orangtua harus bersikap?
Beberapa pihak menilai gim Roblox banyak mengandung konten-konten dewasa, kekerasan hingga seks terselubung yang berpotensi membahayakan perkembangan psikis dan psikologis anak. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mengimbau anak-anak untuk tidak lagi memainkan gim Roblox. Sedangkan Kementerian Komunikasi dan Digital masih melakukan evaluasi terkait pro dan kontra Roblox.
Dalam situasi penuh pro kontra ini, CEO Roblox David Baszucki mengungkapkan rencananya bahwa Roblox akan meluncurkan fitur “dating” atau kencan. Fitur baru yang disebut sebagai kencan virtual ini ditunjukkan bagi mereka yang berusia 21 tahun ke atas.
David meyakini, aplikasi kencan ini akan membantu para pengguna mengatasi rasa kesepian mereka dengan cara berinteraksi dan menjalin hubungan secara virtual. Tujuannya agar mereka bisa mengenal satu sama lain sebelum kemudian memutuskan bertemu di dunia nyata.
“Saya pikir orang terlalu takut untuk berkencan di dunia nyata sehingga lebih mudah memulainya dengan kencan virtual, kemudian jika merasa cocok, mereka akan bertemu dan melanjutkan di dunia nyata,” kata David dilansir dari FOX13, pada Senin, 11 Agustus 2025.
Dari gim anak-anak menjadi platform dewasa
Secara historis, Roblox dianggap sebagai surganya gim bagi anak-anak, karena sebagian besar pengguna Roblox adalah anak-anak berusia di bawah 13 tahun.
Dilansir dari Times of India, ternyata perusahaan gim asal Amerika ini diam-diam mengubah citranya tersebut sejak Juni 2023. Ketika Roblox mulai memperkenalkan peringkat dewasa untuk konten yang mengandung romansa, kata-kata kasar, alkohol, hingga kekerasan ekstrem yang hanya bisa diakses oleh pengguna yang terverifikasi melalui identitas resmi seperti KTP atau paspor. Kini, David mendorong platform gim lebih jauh lagi menjadi platform sosial dewasa.
David membayangkan Roblox sebagai platform yang dapat digunakan orang dewasa untuk berbagai kegiatan sosial seperti menonton film virtual, konser, dan acara kumpul-kumpul untuk berkencan dan menjalin koneksi baru.
“Ribuan orang dewasa pertama-tama akan bertemu pada fitur dating Roblox, kemudian mulai bertemu dalam kehidupan nyata,” ujar David.
Virtual dating mengatasi rasa kesepian di era digital
Data dari Cosmopolitan, 17 Juli 2025 menyebutkan bahwa 73 persen Gen Z mengalami kesepian. Ini yang kemudian menjadi visi Roblox melawan kesenjangan rasa kesepian mereka.
Rencana ini ternyata mendapatkan respon positif dari mereka yang kesulitan ketika harus memulai menjalin hubungan secara langsung. Belum lagi ritual kencan yang mengharuskan tampil cantik dan menawan, pergi ke salon, mencukur bulu kaki, memilih baju, bisa jadi terasa merepotkan.
Sedangkan jika kencan melalui Roblox, pengguna hanya perlu masuk kemudian menggunakan avatar yang cantik sehingga semua permasalahan fisik menjadi nomor kesekian. Pengguna bisa lebih fokus untuk melihat aspek lain yang tidak kalah penting dalam berkencan, seperti kenyamanan, percakapan yang menarik. Pengguna juga bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan penting yang diperlukan.
Tantangan dan kontroversi Roblox
Meskipun rencana David mendapatkan respon positif bagi masyarakat dewasa di AS, namun peluncuran fitur dating ini dinilai masih kontroversi. Sebagaimana data Cosmopolitan, bahwa pengguna Roblox didominasi oleh anak-anak berusia di bawah 13 tahun sebanyak 39 persen. Karena itu, Roblox yang seharusnya menjadi sarana bermain anak-anak secara digital, justru akan kehilangan citranya sebagai surga anak-anak bermain gim dan menciptakan gim mereka sendiri.
Penolakan ini salah satunya datang dari orangtua yang keberatan dengan rencana penambahan fitur kencan virtual dalam Roblox. Menurutnya, meskipun CEO Roblox menetapkan batasan usia 21 tahun ke atas yang dapat mengakses fitur tersebut, namun anak-anak akan memutar otaknya mencari akal untuk bisa mengakses fitur tersebut. Belum lagi banyaknya kasus anak-anak yang menjadi korban perundungan virtual, penculikan, hingga kejahatan seksual yang menimpa anak-anak.
Belum lama ini, kasus anak berusia 10 tahun yang diculik dan menjadi korban pelecehan seksual oleh pria (28) yang dikenalnya melalui gim Roblox juga menyita perhatian masyarakat California pada pertengahan April 2025 lalu. Jaksa Agung setempat bahkan meminta pengembang Roblox untuk lebih memperketat verifikasi usia dan keamanan data anak-anak.
“Aku komen sebagai player 21+ kurang setuju, pertama karena image Roblox dari dulu kan untuk anak-anak, kayak menyayangkan kalau ditambah fitur kayak gitu, walau untuk 21+ tapi kesannya nggak cocok. Belajar dari kasus penculikan anak di California, coba baca deh, faktanya kalau kalian main juga udah banyak anak kecil yang on mic karena dibantu verifikasi sama orangtuanya, kakaknya, aku juga di sini beropini karena user Roblox. Nah kalau kenyataannya tanpa online dating saja sudah banyak yang top up, kenapa harus ditambahin fitur online dating? Aku lebih setuju Roblox buat memperketat verifikasi buat player usia di bawah 21+, supaya nggak ada risiko yang lebih berbahaya buat anak-anak,” tulis netizen di akun Instagram @ussfeeds yang membahas rencana CEO Roblox tentang fitur kencan virtual.
Apa yang harus dilakukan orangtua?
Direktur Eksekutif ICT Watch, Indriyatno Banyumurti menekankan supaya orangtua lebih awas dalam membantu proses verifikasi ID yang digunakan oleh anak di aplikasi gim Roblox. Hal ini mengingat fitur kencan virtual hanya untuk user dengan usia di atas 21+, jangan sampai memberikan KTP, paspor atau data diri orang dewasa kepada anak-anak.
“Yang jelas dinyatakan adalah fitur ini untuk pengguna 21+ dengan verifikasi ID, jadi jelas bukan untuk konsumsi anak. Yang perlu diawasi adalah bagaimana proses verifikasi ID yang akan dilakukan,” kata Indriyanto.
Pertama perlu diperhatikan rating usia Roblox ialah 12+. Penetapan rating ini tentu ada dasarnya jadi tidak bisa anak usia di bawah itu menggunakan aplikasi ini. Kedua, pada dasarnya Roblox adalah permainan berjejaring yang memungkinkan penggunanya terlibat komunikasi dengan pengguna lain secara online. Hal-hal inilah yang perlu diperhatikan oleh orang tua.
“Jadi bangun komunikasi dengan anak sehingga anak merasa bisa bercerita tentang apa saja termasuk dengan siapa dia bertemu online. Tapi perlu diingat untuk selalu mengingatkan anak agar tidak mudah berkenalan bahkan percaya dengan teman onlinenya,” ujar dia. [*]






