digitalMamaID — Ryu Kintaro, seorang youtuber cilik yang namanya banyak dicari setelah pernyataannya soal menjadi “perintis” viral di media sosial. Pada salah satu videonya, Ryu menyebut memilih hidup sebagai perintis lebih menantang ketimbang menjadi pewaris yang hanya meneruskan usaha keluarga yang sudah maju dan mapan.
“Orang banyak pengen hidup yang aman tapi tahu ga? Yang paling seru itu hidup sebagai perintis, nggak ada yang nunjukin arah, nggak ada yang ngejamin hasil tapi justru itu letak asyiknya,” ujar Ryu di salah satu kontennya.
“Kamu sekarang tidak akan tahu bakal jadi apa tapi kamu tahu, kamu sedang menjadikan sesuatu. Perintis itu tidur paling malam bangun paling pagi, ditertawakan dulu, dipertanyakan berkali-kali tapi kamu tahu satu hal kamu punya cerita yang nggak semua orang punya. Kamu bukan sekedar cari uang, kamu lagi bikin jalan supaya nanti orang tinggal lewat. Hidup perintis itu berat tapi tidak pernah membosankan, karena setiap langkah adalah awal dari sejarah,” kata Ryu.
Kreator konten motivasi anak-anak
Pernyataannya tersebut menimbulkan perdebatan, karena masyarakat mengetahui Ryu merupakan seorang anak yang terlahir dari keluarga yang berkecukupan secara ekonomi. Ryu yang memiliki 2,5 juta pengikuti di akun TikToknya ini merupakan anak dari Christopher Sebastian, CEO Makko Group, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang otomotif dan kuliner.
Pada konten-konten videonya, Ryu banyak membahas motivasi bisnis, termasuk ketika Ryu juga mengaku mendapatkan hadiah ayam goreng crispy di hari ulang tahunnya yang ke-7. Ketika anak seusianya masih bermain gim dan komputer, Ryu sudah disibukkan dengan tantangan-tantangan bisnis dari ayahnya.
Sayangnya, kesibukan Ryu yang masih duduk di bangku sekolah dasar membuat bisnis pertamanya itu gagal dan harus gulung tikar setelah 3 hari buka. Namun kegagalan ini tidak menyurutkan semangatnya menjadi pebisnis cilik.
Beberapa waktu kemudian, di usianya yang menginjak 9 tahun, Ryu mulai mengikuti jejak ayahnya menjalankan bisnis jamu Tjap Nyonya Kaya.
Ryu mendapatkan modal awal untuk membangun bisnisnya tersebut dari hasil endorsement dan konten-konten produktifnya di kanal YouTube miliknya dengan 1,66 juta subscribers. Ryu bahkan mendapatkan penghargaan Gold Play Button dari YouTube. Dari sana, Ryu berhasil mengumpulkan uang senilai Rp1 miliar yang kemudian dijadikan bisnis susu hingga kafe jamu Tjap Nyonya Kaya.
Maski terlahir dari keluarga kaya, tidak serta merta fasilitas mewah yang didapatkannya membuat Ryu terlena. Didikan disiplin dari orang tuanya, menjadikan Ryu anak berumur 10 tahun yang lebih sibuk dari kebanyakan anak di usianya.
Ryu tetap menjalankan kewajibannya sebagai anak sekolah. Sepulang sekolah Ryu mulai membuat konten, mengerjakan tugas sekolah, hingga mengikuti les Bahasa Mandarin, Inggris, dan matematika.
Pada awal tahun 2025, Ryu Kintaro juga sempat menjadi perbincangan hangat setelah memperlihatkan jumlah angpao yang diterimanya saat perayaan Imlek. Dalam sebuah unggahan video di akun instagramnya, Ryu memperlihatkan isi angpao yang diterimanya dalam jumlah mencapai Rp77,5 juta, ditambah dengan dua unit iPhone 16 Pro Max.
Perintis dan pewaris
Kini konten kreator muda ini kembali menjadi buah bibir di jagat maya karena unggahan viral tentang “perintis”. Banyak warganet tidak sependapat jika pengusaha kecil ini dianggap sebagai seorang perintis karena latar belakangnya. Unggahannya itu bahkan dibanjiri hingga 32,3 ribu komentar.
“Kita ga berjalan di sepatu yang sama, dia angpaonya 77 juta sedangkan kita gaji 4 juta aja mati matian kerja sebulan,” tulis komentar netizen.
Yang lain menuliskan, bahwa apa yang mungkin menurut Ryu sangat menarik dan menantang menjadi seorang perintis adalah tantangan yang harus mereka telan setiap harinya. Jika bisnis gerobak ayam Ryu gulung tikar dalam tiga, Ryu bisa memulai bisnis lain tanpa takut dan khawatir. Namun bagi masyarakat biasa, mereka harus menabung kembali bertahun-tahun atau mencari pinjaman sana dan sini.
“Mau gagal atau engga, gak perlu khawatir, kamu kan udah ada warisan. Lah kami kalau gagal malah khawatir soalnya banyak hutang dan tuntutan,” tulis komentar lainnya.
“Jangan pernah memberi motivasi ke perintis kalau belum merintis karir dari 0 atau tidak punya apa-apa. Perintis asli itu tidak dapat privilage dari orang tua, modal bingung nyari kemana, tidak bisa tidur karena overthinking. Orang yang bener perintis liat opini kamu bukannya termotivasi tapi malah ketawa soalnya dinasehati anak kecil yang punya latar belakang orang kaya,” tulis warganet lainnya.
Biarkan jadi anak-anak
Pernyataan lebih enak menjadi perintis daripada pewaris memang memancing perdebatan ya, Mama. Satu sisi netizen menganggap apa yang dilakukan Ryu adalah contoh nyata dari anak-anak yang bisa menginspirasi, tapi di sisi lain mempertanyakan kelayakannya dan justru membandingkan nasibnya yang berbeda.
Menanggapi hal ini, akademisi sekaligus praktisi bisnis Prof. Rhenald Kasali, Ph.D menyatakan, tidak ingin turut terlibat dalam perdebatan perintis dan pewaris. Namun yang perlu digaris bawahi, Ryu Kintaro adalah sesosok anak berusia 10 tahun, bukan orang dewasa dałam bentuk mini.
Artinya, kata dia, biarkan anak-anak ini mengalami masa kanak-kanak mereka dengan wajar, tanpa terbebani oleh ekspektasi atau tekanan dari orang dewasa. Ini berarti peran orangtua adalah membiarkan mereka bermain, belajar dan berkembang sesuai dengan tahapan usia mereka tanpa memaksakan mereka menjadi dewasa sebelum waktunya.
“Anak-anak itu bukanlah orang dewasa dalam bentuk mini, biarkanlah anak-anak itu menikmati masa kecilnya bermain, biarlah anak-anak kita menjadi anak-anak di usianya, belum bisa diberikan kesempatan menjadi penasihat,” ujar Rhenald.
“Jadi kalau Anda mendengarkan nasihatnya dan kemudian mendebatkan nasihatnya menurut saya yang salah yang mendengarkan, karena anak-anak bukanlah orang dewasa, anak-anak adalah still anak-anak yang masih eksplorasi, masih mencari,“ kata dia.
Bila menelisik lagi konten-kontennya, di tengah maraknya anak muda yang memang aktif bermedia sosial, Ryu termasuk yang memanfaatkan itu. Namun, dia membangun personal branding-nya dengan cara yang berbeda. Misalnya saja cara berpikir positif, cara berbisnis, manajemen waktu, disaat konten anak-anak seusianya belum sampai ke sana.
“Lebih baik aku kehilangan masa kecilku daripada aku kehilangan masa depanku,” ujar Ryu.
Menurut Prof Rhenald, apa yang disampaikan oleh Ryu ini sasaran atau audiensnya adalah anak-anak seusianya bukan orang dewasa. Kendati demikian, menurut guru besar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis di Universitas Indonesia ini, tidak elok jika menjadikan Ryu yang notabene masih anak-anak menjadi seorang motivator.
“Dia memberikan nasihat kepada siapa? kepada anak-anak. Tapi anak-anak tugasnya bukan memberi nasihat, anak-anak tugasnya belajar dan bermain, eksplorasi, biarkan anak-anak kita menikmati masa kecilnya,” kata Prof Rhenald.
“Jadi saran saya kepada orangtua yang memiliki anak kecil yang masih dalam proses, berikan kesempatan mereka melewati masa kanak-kanak mereka eksplorasi di alam semesta ini dalam bermain dan sebagainya, jangan jadikan mereka keburu tua sebelum waktunya,” tambah Prof Rhenald.
Stop menghujat
Hal senada juga disampaikan oleh crazy rich Grace Tahir di akun TikTok-nya. Menurut Grace, menghujat anak usia 10 tahun karena mengatakan perintis bukan pewaris terlalu ekstrem.
Grace menjelaskan, bagi Ryu dan dirinya yang memang terlahir sebagai anak yang sudah memiliki privilege dari orangtuanya memang sebuah anugerah yang tidak semua anak merasakan. Ketika belajar bisnis mereka tidak khawatir akan modal dan ketika gagal mereka juga tidak khawatir bangkrut.
“Kita sudah harus akuin hal tersebut. Engga bisa mengatakan bahwa ‘no, kita mulai dari nol kita juga lebih susah dan lain sebagainya’. Sudah pasti (memiliki previlege) jauh lebih gampang yes. Tetapi apakah menjamin sukses?” Kata Grace.
Sudah banyak contohnya pengusaha-pengusaha sukses yang memang merangkak dari nol dan tidak memiliki previlege dari orang tuanya, karena mereka memiliki satu kegigihan yang berbeda. Di sisi lain, banyak juga anak-anak yang terlahir dari keluarga kaya namun menjadi pemalas, hanya bermain gim, terjebak dalam narkoba, buliying, dan kenakalan lainnya.
“Ada loh anak seumuran dia yang dari keluarga mampu, anak orang kaya, orang sukses, orang yang berkuasa, pejabat, tapi malas, sedangkan anak ini cuma bikin bisnis share dia punya story tapi dihujat. So anyway menurut saya, menghujat anak usia 10 tahun tentang apa yang dia kerjakan sekarang ini kayaknya quite extreme ya,” ujar putri konglomerat pendiri Grup Mayapada dan cucu dari pendiri Lippo Group Mochtar Riady. [*]






