digitalMamaID – Berbicara tentang perempuan dan ranah digital di Indonesia, nyatanya masih menyisakan banyak pekerjaan rumah. Di tengah kemajuan teknologi, kesenjangan digital tetap nyata—terutama bagi perempuan di wilayah rural. Ada yang sudah melek digital, ada pula yang masih berada di level dasar; terkoneksi internet, tetapi belum tahu cara memanfaatkannya.
Padahal, ketika perempuan diberi akses dan kesempatan yang sama di ruang digital, manfaatnya bukan hanya untuk dirinya sendiri. Perempuan yang berdaya bisa berkontribusi lebih besar untuk keluarga, komunitas, bahkan negara.
Itulah semangat di balik program Digital Queen dari digitalMamaID. Setelah melewati berbagai persiapan, Digital Queen akhirnya sukses menggelar pilot project pertamanya di Cililin, Kabupaten Bandung Barat, pada Minggu, 15 Juni 2025.
Mengusung tema “Cililin Go Digital”, kegiatan ini mengajak sekitar 40 perempuan—mulai dari ibu rumah tangga hingga pelaku UMKM—untuk belajar literasi digital. Mereka dibekali materi dan praktik langsung.
Namun, yang membuat acara ini semakin istimewa adalah kehadiran para volunteer atau relawan. Lebih dari 20 volunteer dari berbagai latar belakang turut terjun langsung ke lapangan, menyumbangkan waktu, tenaga, dan keahlian mereka untuk membantu peremuan di Cililin menggapai asa di era digital ini.
Dara (33) – Creative Director asal Depok

Dara (33) seorang Creative Director di Kolective.id mengaku tertarik menjadi volunteer Digital Queen karena menurutnya isu yang dibawa penting dan relate dengan apa yang dikerjakannya sehari-hari.
“Aku baik dalam pekerjaan maupun keseharian itu memang sering banget sih dapat atau menghadapi yang namanya digital gap,” ungkap Dara.
Awalnya, Dara yang memang setiap hari, karena pekerjaannya memperhatikan konten-konten dan scrolling-scrolling di media sosial. Suatu waktu melihat konten FYP di TikTok mengenai Digital Queen. Ia pun mengaku tertarik dan segera mencari tahu visi, misi serta value yang dibawa Digital Queen. “Ini isu penting. Jadi kenapa nggak aku ngasih sesuatu juga lah ke community,” tambahnya.
Ilma (24) – Copywriter dari Lembang

Awalnya Ilma (24), seorang copywriter berdomisili di Lembang, mencari komunitas digital yang bisa menambah ilmu, Ilma justru menemukan digitalMamaID. “Terus, ada informasi akan buka volunteer dari Digital Queen. Aku follow Digital Queen terus langsung daftar, kayaknya awal banget muncul postingan, langsung aku daftar,” kenangnya.
Bukan pertama kali Ilma menjadi volunteer. Sebelumnya, ia sudah pernah terlibat di kegiatan sosial untuk tunarungu, panti jompo, hingga panti sosial. Tapi pengalaman di Digital Queen membekas. “Biasanya ikut di sekitaran Bandung, ini di luar Bandung tapi, dapat akomodasi dan fasilitas yang sangat-sangat baik menurut aku dan ketemu banyak teman-teman baru juga,” sambungnya.
Ilma juga mengaku terharu dengan peserta yang antusias sampai membawa anaknya untuk ikut belajar. “Di sini tuh ibu-ibu yang sudah punya anak, yang sudah punya kesibukan lain, ternyata mereka masih ingin belajar gitu,” pungkasnya.
Syifa (30) – Dosen Lepas & Ibu Tiga Anak

Syifa (30), ibu rumah tangga sekaligus dosen lepas di salah satu universitas di Garut mengaku awalnya tahu informasi tentang volunteer Digital Queen dari seorang teman. “Teman menyarankan. Ya sudah dicoba, akhirnya terjerumus ke dalam pergaulan mama-mama yang ternyata oke. Sepertinya ini juga cocok untuk aku karena, mereka tidak mempermasalahkan latar belakang aku yang punya tiga anak,” ungkap Syifa.
Menurutnya, kegiatan ini bukan hanya membuat perempuan-perempuan Cililin belajar, ia sendiri ikut belajar. Apalagi ditunjuk sebagai MC, Syifa merasa tertantang untuk memberikan penjelasan dan penyampaian yang sesederhana mungkin dan mudah di mengerti oleh peserta dengan berbagai macam latar belakang.
Harapannya, kegiatan ini tidak hanya berhenti di Cililin saja tetapi, terus berkelanjutan. “Semoga di Padalarang, apalagi di Cipatat yang juga sama belum ada akses ojek online. Karena, kalau dari yang saya lihat, saudara-saudara saya di tempat-tempat yang jauh itu mereka tidak percaya diri,” ungkapnya.
Nurul (32) – Dosen dari Cimahi

Sedangkan Nurul (32), dosen asal Cimahi ini memutuskan menjadi volunteer Digital Queen karena merasa relate dengan pekerjaannya. “Jadi dosen itu harus melakukan pengabdian kepada masyarakat. Ketika kita mengabdi ke masyarakat ya harus turun langsung ke lapangan,” ungkap Nurul.
Menurutnya, di era digital saat ini ternyata masih banyak perempuan-perempuan seperti di Cililin yang ternyata berdaya tapi belum tahu caranya seperti apa dan harus bagaimana. Lewat Digital Queen ini dirinya ingin ikut berkontribusi dan sharing ilmu agar mereka mendapatkan penghasilan tambahan dari rumah. “Jadi cocok banget untuk saya bisa menyalurkan apa yang saya punya, sharing ilmu yang saya punya di acara ini, terus bisa dirasakan manfaat oleh banyak orang” sambungnya.
Syawaluna (18) – Siswi Gap Year asal Cililin

Syawaluna adalah penduduk asli Cililin. Ia tahu Digital Queen dari saudaranya dan mendaftar untuk mengisi waktu selama gap year.
Sebagai siswi gap year, ia merasa kurang percaya diri. Ia menutup diri dari banyak orang. Ia merasa tertinggal dari teman-teman seusianya. Dia lah yang merasa terbantu setelah terlibat sebagai volunteer Digital Queen. “Ternyata nggak apa-apa kok kalau kita belum seperti orang lain. Di sini aku merasa diterima dan bisa bertemu banyak orang hebat,” katanya.
Sebagai warga lokal, ia punya harapan besar. “Semoga teman-teman di Cililin juga bisa melek digital. Lewat media sosial, perempuan di sini bisa berkembang dan mandiri,” katanya.
Bukan sekadar pelatihan, ini tentang perubahan
Apa yang dilakukan oleh para volunteer Digital Queen bukan hal kecil. Mereka menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari niat berbagi. Mereka datang sebagai sesama perempuan yang percaya: jika satu perempuan belajar, maka satu komunitas bisa ikut tumbuh.
Cililin mungkin hanya awal. Tapi semangat ini bisa terus menyebar. Karena digital bukan hanya milik mereka yang tinggal di kota dan pemberdayaan bukan hanya wacana. Perubahan dimulai dari yang paling sederhana: percaya bahwa kita bisa.
Informasi selengkapnya tentang Digital Queen bisa diakses di Digitalqueen.digitalmama.id. Mari turut merawat gerakan ini! [*]






